OPINI, nusainsider.com — Kepulangan Valen, peraih Runner Up Dangdut Academy 7 Indosiar, yang sekaligus disebut sebagai King of Dynamica sejatinya adalah momentum kebanggaan. Ia bukan sekadar pulang membawa koper, tetapi membawa nama Pamekasan bersinar di panggung nasional, hasil dari kerja keras, disiplin, dan dukungan masyarakat Madura sendiri.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: prestasi Valen atau yang disebut king of Dynamica itu disambut dengan penolakan, dibungkus narasi moral oleh oknum tertentu, seolah keberhasilan di dunia seni adalah ancaman yang harus diawasi.

Ironi ini menampar akal sehat publik. Di media sosial, khususnya TikTok, masyarakat mulai mempertanyakan konsistensi moral yang digunakan.
Ketika musik tong-tong ditabuh, ratusan laki-laki dan perempuan berkumpul dalam satu tempat tanpa sekat, dianggap lumrah. Ketika hiburan malam tetap hidup di berbagai sudut kota, nyaris tanpa penolakan berarti, semuanya seperti tak bermasalah.
Namun saat Valen pulang dari Jakarta dan masyarakat antusias serta pemerintah dengan menyediakan panggung meriah untuk konser sekaligus bertemu orang tua, keluarga, dan masyarakat yang telah mendukungnya justru dicurigai dan ditolak.
Di titik inilah publik berhak bertanya: di mana sebenarnya posisi agama dan sosial oknum tersebut dalam memandang seni? Apakah agama hadir sebagai nilai pemersatu yang adil, atau justru berubah menjadi alat sensor yang selektif?
Jika seni lain diterima, tetapi seni populer dicurigai; jika keramaian lokal dianggap aman, tetapi kepulangan anak daerah dinilai bermasalah, maka yang sedang bekerja bukan nilai, melainkan standar ganda.
Valen tidak membawa kerusakan moral. Ia membawa prestasi, inspirasi, dan harapan bagi anak-anak muda Madura bahwa mimpi bisa dicapai tanpa harus meninggalkan identitas daerah.
Menolak kepulangannya sama saja dengan mengirim pesan pahit: bahwa keberhasilan hanya diterima jika sesuai dengan selera tafsir segelintir orang, bukan berdasarkan manfaat sosial yang nyata.
Masalahnya bukan dangdut. Bukan pula teknis acara. Persoalan utamanya adalah ketakutan berlebihan terhadap seni yang tumbuh dari masyarakat sendiri.
Ketika tafsir agama dijadikan satu-satunya standar ruang publik, yang dikorbankan bukan hanya panggung hiburan, tetapi hak sosial masyarakat untuk merayakan prestasi anak daerahnya.
Jika setiap keberhasilan harus diuji dengan kecurigaan moral, maka Pamekasan tidak sedang menjaga nilai melainkan sedang memproduksi ketakutan. Dan di tengah ketakutan itu, seni dipaksa pulang sebelum sempat benar-benar pulang ke kampung halaman.
![]()
Penulis : Wafa

















