JAKARTA, nusainsider.com — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mendorong penguatan integrasi Labuan Bajo dengan Jawa Timur dalam satu paket destinasi pariwisata nasional.
Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi daerah.

Dorongan tersebut disampaikan Lia saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta.
Dalam kunjungan itu, Lia berdialog langsung dengan Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono, membahas pengembangan destinasi berbasis kawasan terintegrasi serta penguatan konektivitas lintas wilayah.
Diskusi menyoroti peluang pengemasan destinasi lintas daerah yang menghubungkan kekuatan wisata unggulan nasional. Lia menilai, pengembangan pariwisata tidak bisa lagi berjalan secara parsial, melainkan harus berbasis ekosistem kawasan yang saling terhubung.
Dwi Marhen Yono menjelaskan, pemerintah saat ini tengah mengembangkan kawasan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) seluas sekitar 400 hektare sebagai kawasan pariwisata darat terintegrasi.
Kawasan tersebut dirancang untuk melengkapi wisata bahari Labuan Bajo yang selama ini menjadi magnet utama kunjungan wisatawan.
“Selama ini sekitar 82 persen aktivitas wisatawan di Labuan Bajo masih didominasi island hopping, sementara wisata daratnya baru sekitar 18 persen. Melalui pembangunan kawasan otorita, kami menargetkan dalam 10 tahun ke depan komposisinya lebih seimbang sehingga dampak ekonomi pariwisata bisa lebih luas,” ujar Dwi Marhen.
Ia menegaskan, pengembangan kawasan otorita dilakukan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan. Dari total luasan kawasan, hanya 20 persen yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan, sementara 80 persen tetap dipertahankan sebagai kawasan hijau dan hutan konservasi.
Seluruh vegetasi di kawasan tersebut telah diinventarisasi guna memastikan pembangunan tidak merusak ekosistem.
Dalam kesempatan itu, Lia menekankan pentingnya sinergi dan konektivitas antardaerah, khususnya antara Labuan Bajo dan destinasi prioritas nasional di Jawa Timur, seperti kawasan Bromo Tengger Semeru (BTS).
Menurutnya, integrasi lintas wilayah akan memperkuat ekosistem pariwisata nasional sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan.
“Integrasi Labuan Bajo dan Jawa Timur bukan sekadar pengemasan destinasi, tetapi merupakan strategi pemerataan ekonomi pariwisata berbasis kawasan,” tegas Lia.
Sementara itu, Dwi Marhen Yono yang pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF dan dikenal sebagai mantan Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi menilai Jawa Timur memiliki potensi besar sebagai hub pariwisata strategis nasional.
Ia menambahkan, integrasi lintas wilayah sejalan dengan kebijakan quality tourism Kemenparekraf.
Saat ini, rata-rata belanja wisatawan mancanegara tercatat sekitar USD 1.300 per kunjungan. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi USD 2.000 pada 2030 guna memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional.
![]()
Penulis : Wafa

















