SURABAYA, nusainsider.com — Di tengah ancaman kelangkaan minyak dan tingginya ketergantungan pada energi fosil, pengembangan energi alternatif berbasis bioetanol mulai mendapat sorotan.
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, mengapresiasi langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang mendorong pemanfaatan bioetanol sebagai energi masa depan.
Apresiasi tersebut disampaikan usai pertemuannya dengan jajaran PT Sinergi Gula Nusantara di Surabaya, Kamis (2/4/2026).
Dalam pertemuan itu, dibahas potensi besar sektor tebu yang kini tak hanya berfungsi sebagai penghasil gula, tetapi juga sebagai sumber energi terbarukan.
“Ke depan, kita tidak bisa hanya berpikir soal gula. Tebu harus dilihat sebagai komoditas strategis yang berkontribusi pada kemandirian energi nasional,” ujar Lia.
Ia menilai, perubahan perspektif terhadap tebu menjadi kunci dalam transisi energi. Selama ini, tebu identik dengan produksi gula, padahal limbahnya berupa tetes (molasses) dapat diolah menjadi bioetanol bahan bakar ramah lingkungan yang berpotensi menggantikan energi fosil.
Dengan pendekatan tersebut, tebu tidak lagi sekadar komoditas pangan, melainkan bagian dari solusi energi nasional.
Sebagai daerah penghasil lebih dari 50 persen gula konsumsi nasional, Jawa Timur dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan bioetanol. Infrastruktur industri gula yang telah mapan menjadi modal penting untuk mempercepat produksi secara masif dan berkelanjutan.
“Jika potensi ini dimaksimalkan, Jawa Timur tidak hanya menjadi lumbung gula, tetapi juga pusat energi hijau nasional,” tegasnya.
Lebih jauh, Lia menekankan bahwa pengembangan bioetanol juga berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Integrasi antara sektor pertanian dan energi diyakini mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.
“Petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama tingginya biaya produksi bioetanol dibandingkan energi fosil. Karena itu, dukungan kebijakan dari pemerintah dinilai menjadi faktor kunci.
“Negara harus hadir untuk memastikan energi hijau ini bisa kompetitif dan berkelanjutan,” tambahnya.
Pengembangan bioetanol sejalan dengan strategi nasional dalam memanfaatkan sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan impor energi.
Dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia dinilai berpeluang menjadi negara yang unggul dalam pemanfaatan energi berkelanjutan.
![]()
Penulis : Wafa
















