SUMENEP, nusainsider.com — Polemik program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Ganding kembali menuai sorotan tajam. Dugaan penyajian makanan tidak layak hingga indikasi mark-up anggaran oleh SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Santri NU Ganding memicu desakan keras dari kalangan aktivis.
Aktivis Aliansi Pemuda Reformasi Melawan (ALARM), Andriyadi, yang juga eks kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang, menilai kasus ini tidak hanya merugikan penerima manfaat program, tetapi juga mencoreng nama organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU), khususnya di Kabupaten Sumenep.
Menurut Andriyadi, penggunaan label NU oleh lembaga tersebut dinilai tidak sejalan dengan prinsip dasar An-Nahdliyah yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kemaslahatan umat.
“Organisasi besar yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari ini seharusnya dijaga marwahnya. Namun justru tercoreng akibat ulah oknum yang menggunakan label NU dalam usahanya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dugaan pelanggaran yang dilakukan SPPG tersebut cukup serius. Selain indikasi mark-up anggaran pada sejumlah bahan pangan seperti roti, susu, dan telur pada awal Maret 2026, kasus terbaru yang mencuat pada Selasa (7/4/2026) diduga melibatkan penyajian makanan basi dan berulat kepada siswa penerima program MBG.
Akibat kejadian tersebut, sejumlah siswa dilaporkan mengalami muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan yang disediakan.
“Peristiwa ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mencederai nama baik NU di tengah warga An-Nahdliyah di Sumenep,” tegasnya.
Meski pihak mitra SPPG disebut telah memberikan klarifikasi serta mencabut penggunaan nama “Santri NU”, Andriyadi menilai kekecewaan publik sudah terlanjur meluas.
“Nama besar NU sudah terseret. Ini akibat ulah oknum yang tidak mencerminkan ajaran An-Nahdliyah,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa penggunaan nama NU sejatinya diperbolehkan, selama tidak disalahgunakan dan tetap berpegang pada nilai-nilai organisasi. Namun, jika terbukti terjadi mark-up anggaran, hal tersebut jelas bertentangan dengan prinsip dasar yang diajarkan.
Lebih lanjut, Andriyadi juga meragukan keterlibatan warga NU secara langsung dalam lembaga tersebut. Ia menilai kuat dugaan bahwa pihak yang mengelola SPPG hanyalah oknum yang mencatut nama besar organisasi.
“Karakter warga An-Nahdliyah di Sumenep sangat kuat. Tidak mungkin mereka melakukan hal seperti ini. Ini murni oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Atas dasar itu, pihaknya mendesak Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) setempat untuk segera mengambil langkah tegas terhadap pihak yang diduga mencatut nama organisasi.
Tak hanya itu, Andriyadi juga mendesak Presiden Republik Indonesia untuk turun tangan dan mengambil langkah tegas dengan menutup secara permanen aktivitas SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Santri NU Ganding.
“Ini sudah berulang kali terjadi dan meresahkan masyarakat. Kami mendesak agar aktivitas SPPG tersebut ditutup permanen,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan di media ini, klarifikasi pihak Mitra SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Santri NU Ganding Zen sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Terkait laporan adanya ulat dalam puding buah naga, Zaynollah memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar.
Ia menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan bersama pihak sekolah, bagian yang diduga ulat ternyata merupakan butiran alami dari buah naga yang telah diblender.
“Butiran putih tersebut mengendap di bagian bawah cup setelah proses pembekuan, bukan ulat seperti yang diberitakan,” tegasnya.
Berikut Link Klarifikasi Lengkapnya KLIK DISINI
![]()
Penulis : Wafa
















