SUMENEP, nusainsider.com — Suasana stan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep di tengah kemeriahan Madura Night Vaganza (MNV) 2026 mendadak berubah lebih semarak.
Puluhan Srikandi Dinkes P2KB menyambut kedatangan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo dengan lantunan nyanyian saat orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep itu tiba di stan, Kamis (27/8/2026).
Bukan sekadar sambutan seremonial, kedatangan Bupati Fauzi menjadi momentum untuk melihat langsung berbagai inovasi dan program pelayanan kesehatan yang tengah dikembangkan Dinkes P2KB Sumenep.
Bupati Fauzi tampak menyimak berbagai materi yang dipamerkan. Mulai dari inovasi pelayanan berbasis digital, pemeriksaan kesehatan gratis, layanan konsultasi kesehatan hingga program penguatan kesehatan masyarakat.
Di balik kemeriahan stan, terselip pesan bahwa transformasi pelayanan kesehatan di Sumenep terus bergerak. Pelayanan tidak hanya bertumpu pada fasilitas kesehatan, tetapi juga diarahkan agar semakin mudah dijangkau masyarakat.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, M.Kes., mengatakan berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, perkembangan pelayanan kesehatan harus mengikuti perubahan zaman. Pemanfaatan teknologi dan penguatan peran masyarakat menjadi dua hal penting dalam menghadirkan layanan yang lebih efektif.
Salah satu inovasi yang ditampilkan adalah EATORE atau Electronic Mortality Report. Aplikasi tersebut dikembangkan untuk mendukung pelaporan peristiwa kematian secara digital.
Melalui sistem tersebut, pencatatan data kematian pasien, baik peserta BPJS maupun pasien mandiri, dapat dilakukan secara lebih tertata dan akurat.
Tak berhenti di sana, Dinkes P2KB juga memiliki SIAP LAHIR. Inovasi tersebut mendukung pengurusan dokumen kependudukan bagi bayi baru lahir secara terintegrasi.
Ada pula Telemedicine yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh konsultasi kesehatan secara digital. Layanan tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi pelayanan kesehatan terhadap perkembangan teknologi.
Tantangan geografis Sumenep yang memiliki wilayah daratan dan kepulauan juga menjadi perhatian. Dinkes P2KB berupaya memastikan jarak tidak menjadi penghalang masyarakat mendapatkan edukasi dan pelayanan kesehatan.
Salah satunya melalui SEMPOL SEHAT di Puskesmas Sapeken atau Puskesmas Hadir e Kompolan untuk Masyarakat Sehat.
Melalui program tersebut, tenaga kesehatan hadir langsung di tengah aktivitas masyarakat, termasuk pengajian dan perkumpulan warga. Pendekatan ini membuat edukasi kesehatan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Selain inovasi pelayanan, Dinkes P2KB juga membawa sejumlah program prioritas. Salah satunya Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang dilaksanakan melalui Puskesmas.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatan sekaligus mendorong deteksi dini berbagai risiko penyakit.
Di sektor pemenuhan gizi, Dinkes P2KB turut memperkuat pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu langkah yang dilakukan ialah pemadanan data 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui dan balita.
Penguatan quality control di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menjadi perhatian. Ketepatan data dan pengawasan mutu dinilai penting agar intervensi gizi benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan.
Sementara dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi anak, Dinkes P2KB memperkuat Forum Peduli Imunisasi (Forpensi). Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat perlindungan kesehatan anak.
Upaya pencegahan stunting juga terus diperkuat melalui sejumlah pendekatan, termasuk SAMPER ALENTENG dan Gerakan ABCDE.
Program tersebut diarahkan pada pendampingan balita sekaligus edukasi kepada calon pengantin. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pencegahan masalah gizi tidak hanya dilakukan ketika persoalan sudah muncul, tetapi dimulai sejak sebelum pernikahan hingga masa tumbuh kembang anak.
Karena itu, stan Dinkes P2KB dalam MNV 2026 bukan sekadar ruang untuk memajang program pemerintah. Stan tersebut menjadi etalase pelayanan sekaligus ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Berbagai inovasi yang ditampilkan memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan dituntut tidak hanya hadir ketika masyarakat sakit. Lebih jauh, pelayanan harus mampu mendorong masyarakat menjaga kesehatan, melakukan deteksi dini dan mencegah berbagai persoalan kesehatan.
drg. Ellya Fardasah menegaskan bahwa peningkatan mutu pelayanan membutuhkan inovasi yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor serta keterlibatan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, pelayanan kesehatan diharapkan semakin responsif terhadap kebutuhan warga. Pengobatan tetap penting, tetapi upaya promotif dan preventif, pemenuhan gizi, imunisasi serta pencegahan stunting juga harus berjalan beriringan.
Kunjungan Bupati Fauzi ke stan Dinkes P2KB menjadi bagian dari rangkaian MNV 2026 yang mempertemukan pemerintah dengan masyarakat dalam suasana yang lebih terbuka dan komunikatif.
Di tengah gemerlap pameran, pesan yang dibawa Dinkes P2KB cukup jelas: pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti di balik meja.
Pelayanan harus bergerak mendekati masyarakat, memanfaatkan teknologi, menjangkau wilayah kepulauan dan memastikan setiap program benar-benar memberi manfaat bagi warga Sumenep.
![]()
Penulis : Wafa
















