SUMENEP, nusainsider.com — Penampilan musik tong-tong Angin Ribut di Sirkuit Mandalika menjadi perbincangan di media sosial. Video yang viral di platform TikTok itu memunculkan apresiasi terhadap upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam membawa kesenian tradisional Madura tampil di panggung yang lebih luas.
Salah satu pengguna TikTok yang videonya turut menarik perhatian publik menilai, keberhasilan membawa musik tong-tong ke Mandalika merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Menurutnya, kesenian yang selama ini identik dengan masyarakat Sumenep kini semakin dikenal di luar daerah.
“Kenapa perlu diapresiasi? Karena awalnya tong-tong yang hanya ada di Sumenep ini sudah mendunia. Kalau ada kinerja bagus seperti ini, kita sebagai masyarakat layak memberikan apresiasi, bukan membenci atau terus menyampaikan kritik karena kegagalan dalam hal lain. Itu pembahasan yang berbeda,” ungkapnya dalam video yang menjadi perhatian media ini, Sabtu (10/10/2026).
Ia menilai, dalam konteks pengembangan musik tong-tong, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo bersama Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) telah berupaya memperluas ruang promosi kesenian tradisional Madura.
Menurutnya, keberhasilan sebuah daerah memperkenalkan identitas budayanya kepada masyarakat yang lebih luas merupakan langkah penting dalam menjaga keberlangsungan warisan leluhur.
Apresiasi tersebut, lanjutnya, tidak berarti menutup ruang kritik terhadap pemerintah. Kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari kontrol sosial, tetapi capaian yang dinilai positif juga layak mendapatkan pengakuan secara proporsional.
Ia berharap, perhatian terhadap musik tong-tong dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan berbagai kesenian dan tradisi lain yang dimiliki Sumenep.
“Harapannya, ke depan budaya-budaya lain di Sumenep juga hidup, berkembang, dan sama-sama semarak seperti tong-tong,” ujarnya.
Apresiasi terhadap sejumlah upaya pemerintah daerah juga disampaikan Hendri, salah seorang warga Sumenep. Ia berpandangan, program pembangunan dan pengembangan potensi daerah tidak selalu bisa dinilai hanya dari hasil dalam waktu singkat.
Menurut Hendri, setiap kepala daerah memiliki agenda pembangunan yang membutuhkan proses, perencanaan, serta keberlanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
“Saya yakin Bupati Achmad Fauzi memiliki prospek panjang berkaitan dengan banyak hal. Namun, kita tidak bisa menilai semuanya ketika baru mulai digarap dalam jangka waktu relatif pendek. Kepala daerah tentu tidak berpikir secara instan, dan hasilnya juga tidak selalu bisa diperoleh secara instan. Butuh waktu panjang dan berkelanjutan,” ungkap Hendri kepada media ini.
Ia menilai, upaya mengembangkan potensi budaya, olahraga, dan sektor lainnya perlu dilihat berdasarkan proses serta hasil yang terukur. Pada saat yang sama, pemerintah tetap perlu membuka ruang evaluasi agar program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, apresiasi dan kritik seharusnya berjalan beriringan. Apresiasi dapat menjadi dorongan untuk mempertahankan capaian positif, sedangkan kritik diperlukan untuk memperbaiki kekurangan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Selain kesenian tong-tong, perhatian masyarakat juga tertuju pada perkembangan kegiatan olahraga di Sumenep.
Hanafi, warga yang turut menyampaikan pandangannya, menyoroti munculnya AFSport sebagai salah satu inisiatif yang berkaitan dengan pembinaan sepak bola usia muda.
Ia menyebut, nama Achmad Fauzi Wongsojudo mulai dikaitkan dengan kegiatan sepak bola melalui kehadiran AFSport, yang dijadwalkan menggelar Piala AF U-17 di GOR A. Yani Sumenep pada Sabtu (10/10/2026).
Menurut Hanafi, penyelenggaraan kompetisi usia muda dapat menjadi ruang bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan, memperoleh pengalaman bertanding, dan mengembangkan potensi mereka.
Ia juga mengapresiasi upaya pemerintah daerah dalam memfasilitasi kegiatan olahraga yang melibatkan atlet muda dari berbagai kecamatan di Sumenep.
“Yang perlu kita lihat adalah bagaimana anak-anak muda diberi ruang untuk berkembang. Kompetisi seperti ini bisa menjadi kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan, selama pembinaannya dilakukan secara konsisten dan tidak berhenti pada penyelenggaraan turnamen saja,” ujarnya.
Hanafi berharap, kegiatan olahraga usia muda tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi dapat terhubung dengan sistem pembinaan yang lebih terarah. Mulai dari penjaringan bakat, peningkatan kualitas pelatih, penyediaan fasilitas, hingga kesempatan bagi atlet untuk mengikuti kompetisi pada tingkat yang lebih tinggi.
Dengan demikian, potensi pesepak bola muda dari berbagai kecamatan di Sumenep memiliki kesempatan berkembang tanpa harus bergantung pada akses yang terbatas di wilayah tertentu.
![]()
Penulis : Wafa
















