SUMENEP, nusainsider.com — Puteri Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur sekaligus Duta Keselamatan dan Disiplin Lalu Lintas, Arita Aprilicyana, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep agar lebih serius dalam mencegah dan menangani Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.
Menurut Arita sapaan akrabnya, kasus KLB campak di Sumenep yang telah merenggut 17 anak meninggal dunia dan lebih dari 2.035 kasus suspek merupakan tragedi kesehatan yang tidak seharusnya terjadi di era keterbukaan informasi serta kemajuan layanan kesehatan saat ini.

“Kasus KLB campak di Kabupaten Sumenep yang telah menelan korban 17 anak meninggal dunia dan lebih dari 2.035 kasus suspek adalah tragedi kesehatan yang tidak seharusnya terjadi di era keterbukaan informasi dan kemajuan layanan kesehatan saat ini,” tegas Arita, Kamis (28/8/2025).
Perempuan asli kabupaten Sumenep yang akrab disapa Arita itu menilai Pemkab Sumenep kurang serius dalam menangani kesehatan sejak dini.
Akibatnya, KLB campak di daerah ujung timur Pulau Madura tersebut tidak bisa terelakkan.
Ia menekankan pentingnya peran semua pihak untuk bergerak bersama, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat, dalam mencegah jatuhnya korban baru.
“Saya berharap seluruh pemangku kepentingan baik mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat harus memastikan setiap anak di Sumenep mendapatkan imunisasi campak dan rubella sesuai jadwal,” jelasnya.
Arita menambahkan, target vaksinasi 78.569 anak yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus tercapai tepat waktu. Karena itu, dukungan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memastikan keberhasilan program tersebut.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kematian 17 anak akibat campak tidak bisa dipandang hanya sebagai angka statistik.
Tragedi itu, kata Arita, adalah luka mendalam yang menunjukkan masih minimnya edukasi kesehatan, terutama di tingkat keluarga dan ibu.
“Sebagai duta pemberdayaan, saya menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam memastikan kesehatan generasi mendatang. Edukasi tentang imunisasi harus menyentuh hingga pelosok desa, dengan melibatkan kader, tokoh agama, dan komunitas perempuan agar tidak ada lagi orang tua yang ragu melindungi anaknya dengan vaksin,” tegasnya.
Selain itu, Arita juga menuntut transparansi penuh dari Pemkab Sumenep terkait data kasus, ketersediaan logistik vaksin, serta pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) yang kini tengah berjalan.
“Tidak boleh ada pengaburan informasi di tengah situasi KLB. Ini tentang nyawa anak-anak kita dan penerus masa depan bangsa,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Mif

















