Fauzi As, LSM: Lapar Siang Malam

Sabtu, 2 Mei 2026 - 23:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI, nusainsider.com Mari kita jujur pada diri sendiri, jujur melihat fakta, meski fakta tidak selalu hadir dengan ramah. Beberapa data yang saya pegang adalah fakta yang susah untuk dikaburkan.

Bukti transfer, rekaman komunikasi, dan banyak hal yang menggambarkan betapa profesi hanya dipakai oleh oknum sebagai pelindung kejahatan saja.

Mungkin cerita kades dan pengusaha itu terdengar lucu. Ada yang sembunyi di bawah meja, ada yang gonta-ganti nomor, ada yang tiap hari didatangi seperti tamu tak diundang yang lebih rajin dari penagih hutang.

Saya tidak setuju dengan paronomasia pada judul di atas, saya hanya bisa tertawa ketika seorang pengusaha rokok yang mengucapkan itu.

Tapi di balik tawa itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa kita tutupi: kita sedang hidup di zaman di mana profesi mulia dipakai sebagai jas hujan. Dipakai saat butuh lalu dilepas saat kenyang.

Saya tidak sedang menyalahkan semua. Bagi saya “Itu Oknum“. Tidak adil kalau kita pukul rata. Karena kita tahu, masih banyak LSM yang benar-benar bekerja: mendampingi masyarakat, melawan ketidakadilan, bahkan sering berdiri paling depan saat negara datang terlambat.

Tapi masalahnya, yang asli sering kalah suara dengan yang berisik.
Dan yang berisik ini… punya pola yang sama.
Datang membawa nama “Lembaga”, pulang membawa “Amplop”.

Mengatasnamakan kontrol sosial, tapi praktiknya kontrol perut sendiri. Bahasanya advokasi, tapi nadanya intimidasi.

Baca Juga :  Terkuak! Istri Tolak Ajakan Suami Berhubungan Badan, Hingga Akibatkan Kematian

Lebih menarik lagi, mereka tidak pernah kehabisan energi. Pagi LSM, siang wartawan, malam aktivis. Seakan-akan idealisme bisa di-shift seperti kerja pabrikan.

Lalu kita bertanya: kenapa ini bisa terjadi?
Jawabannya sederhana, tapi pahit-karena dapur mereka belum selesai dibangun, tapi sudah dipaksa berasap.

Ketika lapangan kerja sempit, ketika ekonomi daerah tidak memberi ruang hidup yang layak, maka profesi yang tidak butuh ijazah tinggi ini, tidak butuh modal besar, dan bisa “Langsung Menghasilkan” akan jadi magnet.
Dan dua profesi ini-LSM dan jurnalis-sering menjadi pelabuhan singgah.

Bukan karena panggilan jiwa,
tapi banyak karena panggilan kebutuhan perut.

Mungkin ini tetasa pedih, tapi inilah ironi yang harus kita akui bersama. Kita terlalu sibuk marah pada oknum, tapi lupa memperbaiki sebab lahirnya oknum.

Baca Juga :  Kuatkan Jaringan Dakwah, Silaturahmi Alumni FOKSAGITA Aqidah Usymuni Digelar di Kepulauan

Kita teriak soal etika,
tapi membiarkan ekonomi masyarakat tetap tercekik.

Kita ingin LSM bersih,
tapi membiarkan anak-anak muda tidak punya pilihan kerja selain “Jadi Apa Saja Yang Bisa Makan Hari Ini.”

Padahal kalau kita kembali ke definisinya,
LSM itu bukan tempat berlindung-tapi tempat berjuang.

Bukan alat tekan-tapi alat pendampingan.
Bukan jalan pintas-tapi jalan panjang yang penuh kesabaran.

Artinya, yang harus kita selamatkan bukan hanya citra profesinya,
tapi juga ekosistem yang melahirkannya.

Madura tidak kekurangan orang pintar.
Tidak kekurangan orang berani.
Tidak kekurangan orang yang mau bekerja.
Yang kurang adalah:
akses, kesempatan, dan keberpihakan.

Bayangkan kalau lapangan kerja terbuka lebar,
kalau industri lokal hidup,
kalau petani sejahtera,
kalau anak muda punya pilihan selain “Menjadi Apa Saja Demi Bertahan.”

Maka profesi akan kembali ke tempatnya.
LSM akan diisi oleh orang yang benar-benar ingin mengabdi.
Jurnalis akan diisi oleh mereka yang mencintai kebenaran, bukan jualan judul yang menakutkan.

Baca Juga :  Berikan Pelayanan Kepada Masyarakat, RSUD Dr Moh Anwar Lakukan Perpanjangan Hemodialisa

Dan kades tidak perlu lagi sembunyi di bawah meja, karena yang datang bukan lagi “Lapar Siang Malam”, tapi benar-benar datang membawa solusi, bukan proposal terselubung.

Kita tidak bisa hanya menyindir.
Kita juga harus membenahi.
Karena kalau dapur masyarakat tetap kosong,
maka jangan heran kalau “Idealisme” terus dijual di atas timbangan kiloan.

Dan kalau itu terus dibiarkan,
maka yang rusak bukan hanya profesi-tapi kepercayaan kita sebagai satu masyarakat.

Madura tidak butuh lebih banyak suara keras.
Madura butuh lebih banyak perut yang kenyang,
agar mulut bisa bicara jujur tanpa harus dibayar.

Terakhir saya ingin ucapkan, Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia.
Di era digital di saat semua orang bisa jadi “Media”, dimana batas antara fakta dan opini makin tipis.

Di sinilah pers diuji: bukan hanya bebas berbicara, tapi mampu menyajikan kebenaran yang jernih, adil, dan tidak ditunggangi oleh kepentingan pribadi.

Penulis : Fauzi As, Pengamat Kebijakan Publik

Loading

Penulis : Fauzi As

Berita Terkait

Belanja Iklan dan Pemotretan Rp18 Juta di Puskesmas Guluk-Guluk Jadi Sorotan
Perangi Hoaks dan Kesalahpahaman, RSUD Sumenep Optimalkan Layanan Pengaduan Publik
Kenakan Peci Nasional, Bupati Sumenep Ajak ASN dan BUMD Hidupkan Nilai-Nilai Bung Karno
Agenda Serasi di RSUD Sumenep, Kolaborasi Nasional Wujudkan Layanan Kesehatan Berkualitas
RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Gelar Gebyar 3M, Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Pasien
Digitalisasi hingga Layanan Intensif Diperkuat, RSUD Sumenep Jawab Kebutuhan Kesehatan Masyarakat
Dorong Sektor Pertanian, DKPP Sumenep Fasilitasi Akses Kredit dan Asuransi Petani
Kisah Haru H. Bambang Budianto: Berangkat dari Masa Kecil Yatim, Kini Rutin Berbagi Kebaikan di Bulan Muharram

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

Belanja Iklan dan Pemotretan Rp18 Juta di Puskesmas Guluk-Guluk Jadi Sorotan

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:48 WIB

Perangi Hoaks dan Kesalahpahaman, RSUD Sumenep Optimalkan Layanan Pengaduan Publik

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:27 WIB

Kenakan Peci Nasional, Bupati Sumenep Ajak ASN dan BUMD Hidupkan Nilai-Nilai Bung Karno

Rabu, 17 Juni 2026 - 06:23 WIB

Agenda Serasi di RSUD Sumenep, Kolaborasi Nasional Wujudkan Layanan Kesehatan Berkualitas

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:27 WIB

Digitalisasi hingga Layanan Intensif Diperkuat, RSUD Sumenep Jawab Kebutuhan Kesehatan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:47 WIB

Dorong Sektor Pertanian, DKPP Sumenep Fasilitasi Akses Kredit dan Asuransi Petani

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:30 WIB

Kisah Haru H. Bambang Budianto: Berangkat dari Masa Kecil Yatim, Kini Rutin Berbagi Kebaikan di Bulan Muharram

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:36 WIB

Maknai 1 Muharram, Bupati Fauzi: Anak Muda Harus Jadi Agen Perubahan Daerah

Berita Terbaru