Festival Musik Tong-tong Akan Sukses Menuju Nusantara Melalui Kunci Ini

Minggu, 15 Desember 2024 - 17:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Penari Tong-tong Sumenep, Madura Jawa Timur.

Foto. Penari Tong-tong Sumenep, Madura Jawa Timur.

SUMENEP, nusainsider.com Pelaksanaan Festival Musik Tong-tong Se Madura 2024 yang diselenggarakan Pemerintah kabupaten Sumenep pada Sabtu 14 Desember 2024 kemarin malam mendapat Komentar dari Salah satu masyarakat Setempat.

Pasalnya, Festival Tong-tong sulit untuk dikritik. Sebab komunitasnya besar, penggemarnya dari semua kalangan, gratis dan bisa menonton berjam-jam.

Di kabupaten Sumenep, misalnya, harus diakui bahwa festival Tong-tong adalah gelaran kesenian terbesar secara area event dan terlama secara waktu. Jika penonton kuat, mereka bisa menyaksikan festival ini hingga pagi hari.

Sebagai apresiasi, pemerintah Kabupaten Sumenep telah berusaha mendaftarkan festival tong-tong ke Karisma Event Nusantara (KEN) di bawah kementerian terkait. Tujuannya agar festival ini secara formal bisa menasional, bahkan mendunia, “Kata NK (Inisial) dalam Grup yang di Huni berbagai Elemen, Minggu 15 Desember 2024.

Baca Juga :  Ngopeni Sumenep, Inilah Daftar Juara Festival Musik Tongtong Se-Madura 2024

Disebutkan, dua kali didaftarkan, dua kali pula gagal. Dan di waktu yang nyaris bersamaan, informasinya, Kabupaten Sampang juga mendaftarkan event dengan konten yang (persis) sama, Namun, Kementerian menolak kedua-duanya.

Dalam satu kesempatan, dirinya mengaku pernah membaca petunjuk teknis kurasi Karisma Event Nusantara (KEN).

Sebenarnya apa yang menyebabkan event sebesar ini belum layak diapresiasi oleh kementerian? Sebagai penonton, saya cukup penasaran.

Ternyata, setiap event yang dikurasi untuk KEN, harus memiliki skema kebersihan, keselamatan, kesehatan dan keamanan yang jelas. Di samping itu, harus memiliki manajemen risiko yang efektif dan memadai, “Pungkasnya.

Hanya saja, hingga hari ini, crowd management (red. Pengendali Kerumunan) Festival besar ini belum Clear.

Di tengah cerita kemeriahannya, muncul pula cerita macet dan berdesakannya. Kiranya ada berapa anak, mungkin juga balita, yang satu jam lebih ikut menahan bisingnya kendaraan di tengah kemacetan?

Dan pertanyaan pentingnya, apakah crowd management festival tong-tong belum rampung atau sengaja dibiarkan begitu saja? Dari kacamata pelaku event wisata, pemerintah dan penyelenggara terkesan tidak mampu menghandle tugasnya, “Imbuhnya.

Baca Juga :  Door! Sumenep Full Event Time Bakal Digelar, Yuk Simak Rundown Kemeriahannya

Dirinya termasuk penonton yang setuju bahwa Festival tong-tong layak dibanggakan. Meriahnya event ini bukan bualan. Sangat bisa dibuktikan dengan mata telanjang. Tetapi apakah sudah efektif secara konsep pelaksanaan?

Jika merujuk pada aturan KEN, yang menggambarkan event layak untuk semua kalangan, Festival Tong-tong dirasa perlu dilakukan pembenahan.

Crowd management event ini harus dipersiapkan lebih matang. Minimal, jangan sampai peserta bingung, garis finishnya kok tidak ada? Penuh manusia.

Mungkin saja, sejak paragraf pertama, semua terkesan berlebihan. Tapi, sungguh catatan ini tidak saya niatkan sebagai kritikan. Hanya saja, jika boleh usul, pemerintah sayogyanya menyelenggarakan event yang mampu mengedepankan rasa kemanusiaan, memberi rasa aman dan nyaman, Itu kata kuncinya.

Dan hari ini, hemat saya, bukan waktu yang tepat bagi pemerintah untuk membela diri. Misalnya beralibi bahwa yang terjadi di sebuah event besar selalu di luar kendali. Jangan!

Sebab event besar ini sudah digelar berkali-kali. Semestinya event ini sudah menarik sejak promosi, pemetaan lokasi, dan crowd management sudah disiapkan secara teliti.

Dan jika bisa, setiap penonton yang menceritakan kemacetan, jangan selalu disudutkan sebagai pribadi yang penuh kebencian. Jangan. Mereka punya hak menyayangi dirinya dengan melepaskan afirmasi negatif yang menggumpal di dalam pikiran.

Hemat saya, mereka adalah penonton layaknya biasa. Mereka merelakan waktu, tenaga dan (mungkin) biaya agar bisa menikmati gelaran kesenian terbesar di kota tercinta. Maka, apapun kesan dari mereka, semestinya diterima dan dijadikan tolok ukur, apakah konsep palaksanaannya sudah tepat atau sebaliknya?

Penonton dan pemerintah harus punya kesan yang sama untuk festival besar ini. Festival ini harus mampu membahagiakan setiap pikiran meskipun strata sosialnya berbeda.

Jika diumpamakan kehidupan, jangan sampai Festival Tong-tong sebesar ini seperti ucapan Sholom Aleichem: Hidup adalah mimpi bagi mereka yang bijaksana, permainan bagi mereka yang bodoh, komedi bagi mereka yang kaya, dan tragedi bagi mereka yang miskin. Salam awam saja.

Banyuwangi, 15 Desember 2024

Loading

Penulis : Mif

Berita Terkait

Tak Cukup Penegakan Hukum, HIMAGA Minta Pencegahan Kasus Asusila Anak Diperkuat
Aksi BEM Jabodetabek Memanas, Mahasiswa Minta Presiden Prabowo Akui Kesalahan Pemerintah
Tipikor Jatim Masuki Tahap Penting, Terdakwa Korupsi BSPS Sumenep Akan Diuji di Persidangan
Konsisten Berbagi, 11 Hari Program Detikzone.id Berbagi Buktikan Media Bisa Menjadi Jembatan Kebaikan
Opini Fauzi As ; Penjahat Bernama Prabowo
Dukung Swasembada Pangan, Polisi Cek Pengelolaan Peternakan Ayam Petelur di Babbalan
Meski Diguyur Hujan Deras, Koramil 0827/20 Sapudi Tetap Bantu Warga Gotong Royong
Di Tengah Sorotan Proyek Pelra Rp45,1 Miliar, Kekayaan Kepala KSOP Kalianget Tercatat Rp876 Juta

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:52 WIB

Tak Cukup Penegakan Hukum, HIMAGA Minta Pencegahan Kasus Asusila Anak Diperkuat

Sabtu, 13 Juni 2026 - 06:19 WIB

Aksi BEM Jabodetabek Memanas, Mahasiswa Minta Presiden Prabowo Akui Kesalahan Pemerintah

Sabtu, 13 Juni 2026 - 05:48 WIB

Tipikor Jatim Masuki Tahap Penting, Terdakwa Korupsi BSPS Sumenep Akan Diuji di Persidangan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 03:42 WIB

Konsisten Berbagi, 11 Hari Program Detikzone.id Berbagi Buktikan Media Bisa Menjadi Jembatan Kebaikan

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:09 WIB

Opini Fauzi As ; Penjahat Bernama Prabowo

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:25 WIB

Meski Diguyur Hujan Deras, Koramil 0827/20 Sapudi Tetap Bantu Warga Gotong Royong

Kamis, 11 Juni 2026 - 17:28 WIB

Di Tengah Sorotan Proyek Pelra Rp45,1 Miliar, Kekayaan Kepala KSOP Kalianget Tercatat Rp876 Juta

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:57 WIB

Nama Anggota DPR Ramai Disebut, LSM Bidik Minta Kejagung Beri Kepastian Hukum

Berita Terbaru

Foto. Fauzi As saat Berada di sebuah Cafe Hotel di Surabaya - Jawa Timur

Berita

Opini Fauzi As ; Penjahat Bernama Prabowo

Jumat, 12 Jun 2026 - 16:09 WIB