SURABAYA, nusainsider.com — Fenomena kompetisi berbasis gift virtual yang kian marak di berbagai platform digital terus memantik perhatian publik. Tak hanya berupa dukungan berbayar, kolom komentar juga dipenuhi ekspresi solidaritas dan keberpihakan penonton.
Pola partisipasi digital ini kini menjadi wajah baru kompetisi di era teknologi, sekaligus memunculkan perdebatan soal batas antara dukungan murni dan dominasi modal.
Menanggapi tren tersebut, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, M.E.I., menegaskan bahwa sistem gift virtual pada prinsipnya sah dan wajar, selama dijalankan secara transparan, jujur, dan bertanggung jawab.
“Dukungan itu terlihat nyata, baik melalui gift maupun komentar. Orang-orangnya jelas, jejaknya ada. Di situlah yang harus dijaga, kejujuran dan keterbukaan,” ujar senator yang akrab disapa Ning Lia.
Menurutnya, pergeseran dunia hiburan dan kompetisi ke ruang digital merupakan keniscayaan. Namun, ia mengingatkan agar mekanisme gift virtual tidak menciptakan ruang abu-abu yang berpotensi menimbulkan kecurigaan publik.
“Gift virtual boleh saja, bahkan menjadi bentuk dukungan modern. Tapi sistemnya harus terbuka, tidak manipulatif, dan tidak menyisakan tanda tanya,” tegasnya.
Lia Istifhama menilai bahwa transparansi penyelenggara dan kejujuran partisipan menjadi kunci utama menjaga kepercayaan publik. Tanpa itu, kompetisi digital berisiko bergeser dari ajang adu talenta menjadi pertarungan kekuatan finansial.
Dalam salah satu ajang kompetisi nasional, peserta asal Jawa Timur, Valen, tercatat menerima dukungan masif, baik berupa gift virtual maupun komentar dukungan yang mengalir deras di ruang publik digital.
Dukungan tersebut muncul secara konsisten dan terbuka, sehingga mudah dipantau oleh publik.
Menanggapi fenomena itu, Ning Lia menyebutnya sebagai cerminan soliditas dan kekompakan masyarakat Jawa Timur dalam mendukung talenta daerah.
“Ini menunjukkan dukungan masyarakat Jawa Timur itu nyata, terlihat, dan solid. Bukan sembunyi-sembunyi,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar euforia dukungan digital tidak menutup mata terhadap prinsip sportivitas. Menurutnya, kompetisi digital yang sehat harus tetap menempatkan kualitas, integritas, dan keadilan sebagai fondasi utama.
Ke depan, Lia Istifhama berharap ajang kompetisi berbasis digital tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang edukasi publik tentang etika dukungan digital, sekaligus memperkuat kepercayaan dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
![]()
Penulis : Wafa
















