PAMEKASAN, nusainsider.com — Bertambahnya jumlah pengelola bergelar doktor di lingkungan Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) menandai lebih dari sekadar capaian akademik.
Fenomena ini mencerminkan transformasi sosial-intelektual yang tengah berlangsung di dunia pesantren modern.
Momentum tersebut ditandai dengan selesainya ujian tertutup disertasi Moch Cholid Wardi di UIN Sunan Ampel Surabaya. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi prestasi personal, tetapi juga simbol pergeseran cara pandang pesantren terhadap integrasi ilmu tradisional dan akademik.
Disertasi yang diangkat berjudul “Konstruksi Praktik Pengobatan Tradisional Berbasis Kearifan Lokal ‘Koteka’ di Madura Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah”.
Tema ini dinilai berani karena menyentuh ranah sensitif antara kepercayaan lokal, praktik kesehatan tradisional, dan legitimasi agama.
Direktur Utama IBS PKMKK, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, menyebut pilihan tema tersebut sebagai bentuk keberanian intelektual.
Menurutnya, kajian itu tidak menolak tradisi, melainkan mengkaji ulang serta menempatkannya dalam kerangka nilai maqāṣid al-syarī‘ah yang lebih luas.
“Justru di situlah kekuatannya. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi direkonstruksi agar memiliki legitimasi ilmiah dan relevansi sosial,” ujarnya.
Ujian tertutup yang dihadiri tujuh penguji, termasuk akademisi dari Universitas Airlangga, menjadi arena penting dalam proses tersebut.
Tidak hanya sebagai forum akademik, tetapi juga ruang simbolik yang memperlihatkan bagaimana pengetahuan diuji, dinegosiasikan, dan disempurnakan.
Dalam perspektif sosiologis, fenomena ini dapat dibaca sebagai akumulasi modal kultural sebagaimana dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Gelar doktor tidak hanya menjadi simbol prestise, tetapi juga sumber otoritas intelektual yang berpotensi mengubah struktur relasi dalam institusi pesantren.
Dengan meningkatnya kapasitas akademik para pengelola, arah pengembangan lembaga dinilai akan semakin berbasis riset dan refleksi kritis. Hal ini membuka peluang lahirnya model pesantren yang tidak hanya menjaga warisan klasik, tetapi juga adaptif terhadap tantangan zaman.
Namun demikian, gelar doktor juga membawa konsekuensi besar. Seorang doktor dituntut tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai rujukan intelektual dan agen perubahan.
Dalam konteks Moch Cholid Wardi, perannya sebagai Direktur Pengembangan Baca Kitab Kuning di IBS PKMKK menempatkannya pada posisi strategis sekaligus menantang.
“Di sinilah sering muncul ketegangan antara idealitas akademik dan realitas lapangan,” terang Muhlis.
Fenomena ini juga menunjukkan pergeseran orientasi dunia pesantren. Jika sebelumnya legitimasi keilmuan bertumpu pada sanad dan otoritas tradisional, kini mulai terintegrasi dengan sistem akademik formal. Integrasi ini bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan memperkaya perspektif keilmuan.
Disertasi tentang “koteka” menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat diangkat menjadi wacana ilmiah yang relevan dan bernilai dalam konteks kekinian.
Lebih jauh, bertambahnya doktor di IBS PKMKK diharapkan menjadi momentum institusional untuk memperkuat budaya akademik, mendorong riset kontekstual, serta mempertegas posisi pesantren dalam peta keilmuan nasional.
“Ini bukan sekadar capaian, tetapi panggilan. Pengetahuan tidak hanya diwariskan, tetapi juga harus diciptakan dan diarahkan untuk kemaslahatan,” tegas Muhlis yang juga menjabat Ketua Senat UIN Madura.
Fenomena ini pada akhirnya mencerminkan dinamika masyarakat Muslim Indonesia yang terus bergerak, menjembatani antara tradisi dan modernitas, lokalitas dan universalitas, serta keyakinan dan rasionalitas.
![]()
Penulis : Wafa
















