SUMENEP, nusainsider.com — Gelaran Festival Musik Tong-Tong 2025 yang menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) di Kabupaten Sumenep mencatat sejarah baru.
Antusiasme masyarakat tak hanya terasa di lapangan, tetapi juga menggema di dunia maya, khususnya di platform TikTok dan media sosial lainnya.
Sejak Sabtu sore, 18 Oktober 2025 pukul 15.37 WIB hingga Senin siang, 20 Oktober 2025 pukul 12.44 WIB, pantauan redaksi nusainsider.com menunjukkan bahwa konten Festival Musik Tong-Tong mendominasi linimasa TikTok dan menjadi trending (FYP) di berbagai akun pengguna.
Fenomena ini tak lepas dari penampilan spektakuler grup musik tong-tong legendaris asal Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, yakni “Arya Kuda Panoleh” atau lebih dikenal dengan nama Mega Remmeng. Setelah lama vakum, kemunculan mereka kembali ke panggung besar musik tradisional seolah membangkitkan nostalgia kolektif masyarakat Madura.
Di berbagai unggahan TikTok, nama Mega Remmeng muncul di ribuan postingan dengan komentar beragam. Banyak netizen menyebut grup ini sebagai “Dewa Kuno Legendaris”, “Comeback Sang Legenda”, hingga “Sang Kuda Terbang dari Legung Timur”. Ragam komentar itu menggambarkan rasa bangga sekaligus rindu masyarakat terhadap grup yang dikenal mempertahankan ciri khas dekorasi kudanya yang ikonik.
Salah satu pengguna TikTok, dengan nama akun _el*, menulis komentar unik, “Mega Remmeng selalu FYP, mungkin karena yang kuno!”, sebuah sindiran bernada kagum terhadap kekuatan daya tarik seni klasik yang tetap mampu menembus dunia digital.
Komentar lain datang dari akun @rez yang menyindir juri festival dengan gaya nyentrik: “Kalau Sang Legenda ini tidak juara, berarti jurinya sedang tidur!” Komentar tersebut sontak mendapat ribuan like dan menjadi bagian dari gelombang dukungan bagi Mega Remmeng.
Selain irama musik yang energik dan magis, dekorasi khas Mega Remmeng juga menjadi magnet tersendiri. Unsur visual yang kuat membuat penampilan mereka mudah dikenali sekaligus sarat makna filosofis.
Warna hitam dan putih pada dekorasi mereka melambangkan perjalanan hidup manusia: dari kesucian, melalui berbagai ujian kehidupan, hingga kembali bersih saat akhir hayat. Perpaduan warna itu juga mencerminkan keseimbangan antara kegelapan dan cahaya dalam kehidupan manusia.
Sementara itu, mahkota berbentuk cakra di bagian depan dan belakang dekorasi menggambarkan kekuatan dan identitas kerajaan. Simbol tersebut merepresentasikan cita-cita luhur agar manusia senantiasa memiliki kendali atas dirinya, seperti raja yang menguasai kerajaannya.
Nama “Mega Remmeng” sendiri memiliki akar sejarah mendalam. Ia diambil dari nama kuda perang legendaris milik Joko Tole, pahlawan Madura yang terkenal karena keberaniannya menjinakkan kuda liar dari Majapahit.
Filosofi kuda tersebut mencerminkan semangat pantang menyerah dan kekuatan jiwa rakyat Madura yang tak pernah pudar meski menghadapi tantangan zaman.
Kombinasi antara musik yang menggugah, dekorasi sarat makna, dan identitas budaya yang kuat menjadikan Mega Remmeng bukan sekadar grup musik, melainkan simbol kebangkitan seni tradisional Madura di era digital.
Festival Musik Tong-Tong 2025 di Sumenep pun kini tak hanya tercatat sebagai perhelatan budaya bergengsi, tetapi juga sebagai momen sejarah ketika tradisi menembus batas dunia maya, membuktikan bahwa warisan leluhur masih mampu mengguncang panggung global melalui platform modern seperti TikTok.
Kehadiran Mega Remmeng di linimasa media sosial menjadi bukti bahwa seni tradisional tidak pernah usang, justru semakin hidup saat generasi baru menemukan cara baru untuk mencintainya.
Berikut Kumpulan Video yang Viral.
![]()
Penulis : Wafa
















