Peran Perempuan di Sektor Pertanian Garut Dibahas dalam Diseminasi Riset UNAIR

Minggu, 29 September 2024 - 08:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GARUT, nusainsider.com Sektor pertanian berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Pada Triwulan I 2023, sektor ini menyumbang 11,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Namun, rendahnya produktivitas pertanian membuat masyarakat pedesaan, termasuk Kabupaten Garut, rentan terhadap kemiskinan. Salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani adalah pemberdayaan perempuan di sektor ini.

Perempuan memainkan peran penting dalam pertanian, mulai dari pengolahan lahan hingga pemasaran dan pengelolaan keuangan. Namun, peran mereka sering dipandang sebelah mata, hanya sebagai ‘penolong suami’.

Baca Juga :  Kabar Baik! Ada Pembebasan Pajak untuk Warga Jatim hingga Akhir November, Ini Detailnya

Keterbatasan akses terhadap sumber daya, teknologi, dan pengambilan keputusan menjadi tantangan yang dihadapi oleh petani perempuan.

Latar belakang ini mendorong Badan Kerjasama dan Manajemen Pengembangan (BKMP) Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan penelitian bertajuk ‘Pemberdayaan Perempuan di Sektor Pertanian’.

Penelitian yang didukung oleh INKLUSI (Kemitraan Australia – Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif) dan organisasi ‘Aisyiyah ini mengkaji kondisi petani perempuan di Kabupaten Garut, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lahat, dan Kabupaten Kolaka.

Riset Ungkap Kondisi Perempuan Petani di Garut

Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam acara diseminasi di Kabupaten Garut pada 13 September 2024. Salah satu peneliti, Shochrul Rohmatul Ajija, S.E., M.Ec., mengungkapkan bahwa sebagian besar petani perempuan di Garut bekerja di sawah selama 5-8 jam per hari. Mereka mengelola lahan dengan modal rata-rata Rp11.000 per meter persegi.

Meskipun 56% di antaranya tercatat sebagai anggota kelompok tani, sebagian besar perempuan petani tetap mencantumkan “ibu rumah tangga” sebagai pekerjaan utama di kartu identitas mereka.

Meski memiliki semangat tinggi, mayoritas petani perempuan di Garut pernah mengalami kerugian akibat sulitnya akses terhadap pupuk, pestisida, dan bibit tanaman. Sebagian besar dari mereka juga belum memanfaatkan teknologi, seperti smartphone, dalam mendukung kegiatan pertanian.

Baca Juga :  Gelar Peringatan Maulid Nabi, IKA PMII STITA Gaungkan PMII Back To Kampus

Tingkat Pemberdayaan Perempuan di Garut Masih Rendah

Penelitian ini menggunakan Women’s Empowerment in Agriculture Index (WEAI) untuk mengukur pemberdayaan perempuan di sektor pertanian. Muhammad Syaikh Rohman, S.E., M.Ec., peneliti lainnya, menyebutkan bahwa 84% petani perempuan di Garut masih tergolong belum berdaya, dengan tingkat ketidakberdayaan mencapai 33%.

Faktor-faktor seperti pengambilan keputusan produktif, akses kredit, serta otonomi dalam kegiatan produksi masih didominasi oleh laki-laki.

“Salah satu tantangan terbesar adalah perempuan belum sepenuhnya memiliki otonomi dalam membuat keputusan penting terkait pertanian. Sebagian besar keputusan masih diambil oleh suami atau kepala keluarga,” kata Syaikh Rohman.

Pemberdayaan Berdampak pada Akses Layanan Kesehatan

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan berpengaruh signifikan terhadap akses mereka terhadap layanan kesehatan, seperti BPJS. Namun, peningkatan pemberdayaan belum berdampak langsung pada akses bantuan sosial lainnya, seperti Program Keluarga Harapan (PKH).

Menariknya, kepemilikan tabungan menjadi salah satu indikator utama pemberdayaan perempuan di Garut. Selain itu, keterlibatan perempuan dalam organisasi, seperti PKK dan ‘Aisyiyah, dapat meningkatkan pemberdayaan jika program-program yang ada efektif.

Tanggapan Pemangku Kepentingan

Acara diseminasi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kelompok Wanita Tani (KWT), Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, serta perwakilan dari pemerintah daerah dan lembaga keuangan. Para peserta menyampaikan harapan agar hasil penelitian ini menjadi dasar perumusan kebijakan yang lebih mendukung perempuan di sektor pertanian.

Perwakilan kelompok tani menyatakan pentingnya menjaga semangat perempuan petani melalui kebijakan yang tepat, terutama dalam menyikapi fluktuasi harga hasil panen yang kerap menimbulkan kerugian.

Acara diseminasi ini menutup rangkaian penelitian yang diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan peran perempuan di sektor pertanian, khususnya di Kabupaten Garut.

Loading

Penulis : Zi

Berita Terkait

Belanja Iklan dan Pemotretan Rp18 Juta di Puskesmas Guluk-Guluk Jadi Sorotan
LSM GEMPUR Ungkap Dugaan Penyimpangan Dana Desa di Simalungun, Kejati Sumut Diminta Turun Tangan
Perangi Hoaks dan Kesalahpahaman, RSUD Sumenep Optimalkan Layanan Pengaduan Publik
Kenakan Peci Nasional, Bupati Sumenep Ajak ASN dan BUMD Hidupkan Nilai-Nilai Bung Karno
Agenda Serasi di RSUD Sumenep, Kolaborasi Nasional Wujudkan Layanan Kesehatan Berkualitas
RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Gelar Gebyar 3M, Perkuat Kompetensi dan Keselamatan Pasien
Digitalisasi hingga Layanan Intensif Diperkuat, RSUD Sumenep Jawab Kebutuhan Kesehatan Masyarakat
Dorong Sektor Pertanian, DKPP Sumenep Fasilitasi Akses Kredit dan Asuransi Petani

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

Belanja Iklan dan Pemotretan Rp18 Juta di Puskesmas Guluk-Guluk Jadi Sorotan

Rabu, 17 Juni 2026 - 09:39 WIB

LSM GEMPUR Ungkap Dugaan Penyimpangan Dana Desa di Simalungun, Kejati Sumut Diminta Turun Tangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:48 WIB

Perangi Hoaks dan Kesalahpahaman, RSUD Sumenep Optimalkan Layanan Pengaduan Publik

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:27 WIB

Kenakan Peci Nasional, Bupati Sumenep Ajak ASN dan BUMD Hidupkan Nilai-Nilai Bung Karno

Rabu, 17 Juni 2026 - 06:23 WIB

Agenda Serasi di RSUD Sumenep, Kolaborasi Nasional Wujudkan Layanan Kesehatan Berkualitas

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:27 WIB

Digitalisasi hingga Layanan Intensif Diperkuat, RSUD Sumenep Jawab Kebutuhan Kesehatan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:47 WIB

Dorong Sektor Pertanian, DKPP Sumenep Fasilitasi Akses Kredit dan Asuransi Petani

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:30 WIB

Kisah Haru H. Bambang Budianto: Berangkat dari Masa Kecil Yatim, Kini Rutin Berbagi Kebaikan di Bulan Muharram

Berita Terbaru