JATIM, Nusainsider.com Tak hanya di Daerah Pemilihan (Dapil) I Jatim meliputi Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, Dapil VI Jatim juga menyuguhkan pertarungan keras antar-calon anggota legislatif (caleg) di Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2024 mendatang. Dapil VI Jatim meliputi Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Tulungagung.

Hasil Pileg 2019 ada sembilan tokoh masyarakat dan politikus lolos ke DPR RI dari Dapil VI Jatim. Kesembilan anggota DPR RI itu adalah Anggia Erma Rini (PKB), H An’im Falachuddin Mahrus (PKB), Endro Hermono (Partai Gerindra), M Guruh Irianto Soekarnoputra (PDIP), Arteria Dahlan (PDIP), Sri Rahayu (PDIP), M Sarmuji (Partai Golkar), Nurhadi (Partai NasDem), dan H Ahmad Rizki Sadiq (PAN).

Dilihat dari komposisi caleg terpilih menggambarkan kuatnya kalangan Nasionalis Soekarnoisme (PDIP) di Dapil VI Jatim. Ada tiga caleg PDIP yang lolos: Guruh Soekarnoputra, Sri Rahayu, dan Arteria Dahlan.

Posisi kedua ditempati politikus dari komunitas Islam Tradisional (PKB) dengan dua kursi. Empat kursi sisanya dibagi masing-masing satu kursi oleh Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai NasDem, dan PAN.

Dapat dipastikan, kesembilan anggota DPR RI dari Dapil VI maju kembali di kontestasi Pileg 2024. Sejumlah nama baru muncul sebagai kandidat anggota legislatif dari dapil ini, seperti mantan politikus PDIP yang pindah ke Partai NasDem Eva Kusuma Sundari, Heru Tjahjono (mantan Sekdaprov Jatim dan Bupati Tulungagung periode 2003-2008 dan 2008-2013). Kabarnya, nama Abdullah Abu Bakar (Wali Kota Kediri) juga bertarung di Dapil VI Jatim.

Ada dua pimpinan parpol di Jatim yang bertarung di Dapil VI, yakni M Sarmuji (Ketua DPD I Partai Golkar) dan Rizki Sadiq (Ketua DPW PAN Jatim). Dapil VI bakal menyuguhkan pola pertarungan politik keras antarcaleg di Pileg 2024. Sebab, sejumlah caleg yang ditempatkan di dapil ini, selain sekarang masih duduk sebagai anggota DPR RI, ada pula sejumlah mantan kepala daerah yang diposisikan pada dapil VI untuk merebut kursi DPR RI.

Baca Juga :  Ellena Gabrielle : Pelajar Indonesia Terbitkan Buku tentang Habitat Burung di Singapura

Artinya, para caleg ini merupakan politikus matang, kenyang pengalaman, dan memiliki basis pendukung tradisional yang tak mudah digoyang, seperti Guruh Soekarnoputra dan H An’im Falachuddin Mahrus, politikus PKB yang berasal dari keluarga besar Pondok Lirboyo Kediri dan anak dari KH Mahrus Ali (almarhum), kiai khos dari Pondok Lirboyo yang sempat duduk sebagai Rais Syuriah NU Jatim di tahun 1980-an.

Selain itu, ada juga politikus yang dikenal kritis dan seringkali menyuarakan pandangan-pandangan politik populis dan populer ketika duduk sebagai anggota DPR RI, seperti Eva Kusuma Sundari (kini Partai NasDem) dan Arteria Dahlan (PDIP).

Dapil VI bisa dikatakan sebagai kandang strategis bagi PDIP dan PKB. Sekali pun berada di Mataraman, wilayah subkultur politik Jatim yang dipengaruhi Budaya Jawa yang kental dari Surakarta dan DI Yogyakarta, kawasan ini sejak Pemilu 1955, pemilu pertama setelah Indonesia merdeka, ternyata komunitas Islam Tradisional (PKB) dan Islam Modernis (PAN) mampu merebut masing-masing dua kursi dan satu kursi. Sedangkan tiga berpaham Nasionalis lainnya: Partai Gerindra, Partai Golkar, dan Partai NasDem masing-masing mendapat satu kursi.

Tampilnya dua politikus yang pernah menjabat sebagai kepala daerah: Heru Tjahjono (mantan Bupati Tulungagung) dan Abdullah Abu Bakar (Wali Kota) merupakan fenomena politik yang mesti dicermati oleh caleg lainnya. Dua caleg ini kenyang pengalaman di ranah kontestasi politik secara langsung dengan pola one man one vote.

Keduanya, baik Heru Tjahjono maupun Abdullah Abu Bakar, tentu memiliki jejaring politik yang sudah tertata rapi. Juga telah terbukti sukses memenangi kontestasi politik beberapa tahun lalu.

Artinya, kedua caleg yang pengalaman di kontestasi politik langsung itu memiliki kans politik tak kalah besar dibanding para politikus petahana di DPR RI yang lolos dari Dapil VI Jatim di Pileg 2019 lalu.

Baca Juga :  Pelaku pembacokan pelajar di Pomad di jebloskan ke lapas paledang Bogor

Caleg yang bertarung di Dapil VI Jatim pada Pileg 2024 tak sekadar figur-figur politikus populer dan kenyang pengalaman di ranah pemerintahan dan kemasyarakatan. Potret caleg Dapil VI pada Pileg 2024 juga menghadirkan tokoh politik yang berkualitas dan memiliki kapasitas manajerial mumpuni, baik di ranah politik, pemerintahan, sosial kemasyarakatan, dan sosial ekonomi.

Karena itu, tak berlebihan jika dikatakan bahwa pertarungan antarcaleg di Dapil VI hakikatnya adalah ‘perang bintang’. Wilayah politik yang menyuguhkan figur-figur yang memiliki kapasitas mumpuni, akseptabilitas luas, ketokohan sosial yang kuat, dan kenyang pengalaman di ranah pemerintahan maupun non-pemerintahan.

Para caleg ini bukan sekadar pesohor yang minim jam terbang di lapangan sosial kemasyarakatan dan pemerintahan. Mereka orang-orang populer di massa akar rumput karena kiprahnya yang panjang di bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, dan pemerintahan.

Dapil VI Jatim di Pileg 2024 menyuguhkan pertarungan politik antarcaleg dan antarparpol yang terlibat di dalamnya. Kerasnya pertarungan politik ini tak kalah dibanding Dapil I Jatim (Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo) yang selama ini elite strategis parpol tak jarang menempatkan politikus populer dan populis di dapil ini.

Dari aspek ketokohan dan latar pengalaman di lapangan politik pemerintahan, para caleg di Dapil VI tak kalah bersinar dan moncer dibanding caleg dari dapil lainnya di Jatim. Pertarungan politik di Dapil VI hakikatnya merupakan adu kontestasi gagasan para caleg yang sudah kenyang asam garam dunia politik praktis.