Pilkada oleh DPRD Berpotensi Melemahkan Otonomi Daerah, Ini Kata Dosen INSTIBA

Selasa, 30 Desember 2025 - 14:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Mawardi Dosen INSTIBA Madura Jawa Timur.

Foto. Mawardi Dosen INSTIBA Madura Jawa Timur.

BANGKALAN, nusainsider.com — Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali memantik perdebatan serius dalam diskursus hukum tata negara Indonesia.

Isu ini tidak semata menyangkut teknis elektoral, tetapi menyentuh aspek fundamental kedaulatan rakyat, demokrasi konstitusional, serta arah otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945).

Dosen Hukum Tata Negara Institut Agama Islam (INSTIBA) Bangkalan menilai, gagasan pemilihan kepala daerah oleh DPRD merupakan isu krusial yang harus dikaji secara mendalam dari perspektif konstitusional, demokrasi substantif, dan tata kelola pemerintahan.

Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 menegaskan bahwa “Gubernur, Bupati, dan Wali Kota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah dipilih secara demokratis”.

Frasa “Dipilih Secara Demokratis” telah ditafsirkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai mekanisme yang membuka ruang partisipasi langsung rakyat, bukan sekadar prosedur formal yang dimonopoli lembaga perwakilan.

Baca Juga :  Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Situbondo, Getarannya Terasa hingga Sumenep

Meskipun pemilihan oleh DPRD pernah diterapkan pada masa lalu, namun dalam konteks demokrasi pasca-amandemen UUD 1945, prinsip kedaulatan rakyat sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (2) lebih menekankan perwujudan kehendak rakyat secara langsung melalui pemilihan umum.

Pemilihan kepala daerah oleh DPRD dinilai berpotensi mengaburkan kehendak rakyat karena terjadi pelapisan delegasi politik. Hal ini bertentangan dengan semangat demokrasi modern yang menuntut direct accountability antara kepala daerah dan rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

Secara demokrasi substantif, mekanisme pemilihan oleh DPRD berpotensi mempersempit partisipasi publik serta menggeser legitimasi kepala daerah dari rakyat kepada elite politik di parlemen daerah.

Baca Juga :  Satresnarkoba Polres Sumenep Berhasil Ungkap Kasus Narkoba Jenis Inex

Dampaknya, kepala daerah lebih rentan terikat pada kepentingan fraksi atau partai pengusung dibandingkan aspirasi masyarakat luas.

Dari perspektif hukum administrasi dan tata kelola pemerintahan, ketergantungan politik tersebut berisiko melahirkan praktik political bargaining, konflik kepentingan, hingga kebijakan yang tidak sepenuhnya berpihak pada kepentingan publik.

Secara yuridis normatif, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota secara tegas menempatkan pemilihan kepala daerah dalam rezim pemilihan langsung oleh rakyat.

Perubahan mendasar terhadap mekanisme tersebut tanpa perubahan konstitusi berpotensi menimbulkan persoalan inkonstitusionalitas bersyarat.

Selain itu, pemilihan kepala daerah oleh DPRD dinilai berpotensi melemahkan esensi otonomi daerah. Kepala daerah tidak lagi menjadi representasi kehendak masyarakat lokal, melainkan hasil kompromi politik elite.

Baca Juga :  Hotel La Galleria Reddorz Milik Ucup Diduga Jadi Sarang Prostitusi, Aktivis Desak Pemerintah Bertindak cepat

Kondisi ini bertentangan dengan tujuan desentralisasi yang menempatkan rakyat daerah sebagai subjek utama pemerintahan.
Kesimpulan Akademik

Secara konstitusional, demokratis, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pemilihan kepala daerah oleh DPRD dinilai sebagai langkah regresif bagi demokrasi Indonesia.

Mekanisme tersebut tidak hanya mengurangi partisipasi rakyat, tetapi juga berpotensi melanggar prinsip kedaulatan rakyat, akuntabilitas pemerintahan, serta semangat otonomi daerah yang dijamin UUD 1945.

Isu efisiensi anggaran tidak dapat dijadikan alasan fundamental untuk mengubah mekanisme pemilihan.

Negara justru dituntut untuk mendesain pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang lebih efisien, transparan, serta mampu memutus tradisi money politic dan biaya kampanye yang melampaui batas kewajaran, tanpa harus mengorbankan hak konstitusional rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Kementan RI Apresiasi Sumenep atas Keberhasilan Program Pertanian UPLAND
Santri dan Mahasiswa Belajar Jurnalistik, LensaMadura.com Buka Ruang Literasi
Dinkes P2KB Sumenep dan Puskesmas Dasuk Bersinergi Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Desa
Dari Pantai Slopeng, Khofifah Indar Parawansa Dorong Potensi Maritim Sumenep dan Kesejahteraan Nelayan
KEN 2026, Sumenep Padukan Kemegahan Musik Tongtong dengan Sejarah Arya Wiraraja
Dinkes Sumenep Perluas Edukasi Kesehatan, Kasus ISPA Dilaporkan Turun 70 Persen
Dua Jawara Kerapan Sapi Sumenep Melaju ke Piala Presiden, Target Haji Udik Jelas: Juara!
FIKOM Unitomo Siapkan Mahasiswa Hadapi Krisis Informasi melalui Kolaborasi dengan PERHUMAS

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 06:22 WIB

Kementan RI Apresiasi Sumenep atas Keberhasilan Program Pertanian UPLAND

Kamis, 15 Oktober 2026 - 02:37 WIB

Santri dan Mahasiswa Belajar Jurnalistik, LensaMadura.com Buka Ruang Literasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Dinkes P2KB Sumenep dan Puskesmas Dasuk Bersinergi Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Desa

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Dari Pantai Slopeng, Khofifah Indar Parawansa Dorong Potensi Maritim Sumenep dan Kesejahteraan Nelayan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:53 WIB

KEN 2026, Sumenep Padukan Kemegahan Musik Tongtong dengan Sejarah Arya Wiraraja

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Dua Jawara Kerapan Sapi Sumenep Melaju ke Piala Presiden, Target Haji Udik Jelas: Juara!

Rabu, 14 Oktober 2026 - 05:43 WIB

FIKOM Unitomo Siapkan Mahasiswa Hadapi Krisis Informasi melalui Kolaborasi dengan PERHUMAS

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:47 WIB

Dorong Pelayanan Posyandu Berkualitas, Kader di Pragaan Laok Ikuti Supervisi Fasilitatif

Berita Terbaru