SUMENEP, nusainsider.com — Upaya pelestarian warisan budaya Islam Nusantara terus dilakukan. Salah satunya melalui langkah Kelompok Kesenian Rebana Klasik Assalafiyah asal Larangan, Pamekasan, yang resmi melakukan rekaman profesional di OS Studio, Kabupaten Sumenep, Kamis 2 April 2026.
Rekaman tersebut bertujuan mendokumentasikan “Terbang Karatangan”, pakem rebana khas Pamekasan yang diwariskan secara turun-temurun dan sarat nilai sejarah.
Pengampu Grup Rebana Assalafiyah, Kiai Jawahir, mengungkapkan bahwa alat musik rebana yang digunakan bukanlah instrumen biasa. Bahkan, usianya diperkirakan mencapai sekitar 300 tahun dan telah melewati berbagai zaman.
“Rekaman profesional ini menjadi langkah penting agar dokumentasi kesenian ini bisa lebih utuh dan bernilai jangka panjang,” ujar Mpu Fauzi selaku promotor grup.
Proses rekaman ini mendapat sambutan hangat dari Rifan Khoridi, tokoh konservasi seni tradisional sekaligus pemilik OS Studio. Ia menilai langkah tersebut sebagai upaya strategis dalam menjaga warisan leluhur.
“Ini langkah yang sangat tepat untuk merawat nilai-nilai heritage agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Kelompok Rebana Assalafiyah sendiri memiliki formasi unik, terdiri dari 12 penabuh rebana serta 7 hingga 10 anggota tim Ruddat yang menampilkan koreografi khas.
Menariknya, grup ini menghadirkan harmoni lintas generasi. Para sesepuh seperti Bapak Rifa’i, Bapak Supandi, Bapak Sun, Bapak Pasulah, dan H. Syaiful, tampil berdampingan dengan generasi muda seperti Adul Adim, Rahmad, Fauzi, Umam, Rian, Berril, dan lainnya.
Lebih dari sekadar pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana ibadah dan penguatan spiritual. Melalui lantunan selawat yang direkam, kelompok ini berharap dapat menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Hal tersebut tercermin dalam bait syair yang mereka kumandangkan, “Man Yamut Fi Hubbihi Nala Kullal Mathlabi” (Siapa yang wafat dalam cintanya kepada Rasul, maka ia telah meraih segala yang dicari).
Ke depan, hasil rekaman ini akan dirilis dalam format fisik maupun digital, sehingga generasi mendatang tetap dapat menikmati keaslian tabuhan Terbang Karatangan yang telah bertahan selama ratusan tahun.
![]()
Penulis : Wafa
















