Valen Ditolak, Tong-Tong Dibiarkan: Moral Siapa yang Sebenarnya Dijaga?

Senin, 5 Januari 2026 - 09:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi

Foto. Ilustrasi

OPINI, nusainsider.com Kepulangan Valen, peraih Runner Up Dangdut Academy 7 Indosiar, yang sekaligus disebut sebagai King of Dynamica sejatinya adalah momentum kebanggaan. Ia bukan sekadar pulang membawa koper, tetapi membawa nama Pamekasan bersinar di panggung nasional, hasil dari kerja keras, disiplin, dan dukungan masyarakat Madura sendiri.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: prestasi Valen atau yang disebut king of Dynamica itu disambut dengan penolakan, dibungkus narasi moral oleh oknum tertentu, seolah keberhasilan di dunia seni adalah ancaman yang harus diawasi.

Ironi ini menampar akal sehat publik. Di media sosial, khususnya TikTok, masyarakat mulai mempertanyakan konsistensi moral yang digunakan.

Baca Juga :  Satgas PPKPT UNIBA Madura: Hadir untuk Demokrasi, Cegah Kekerasan dalam Demonstrasi

Ketika musik tong-tong ditabuh, ratusan laki-laki dan perempuan berkumpul dalam satu tempat tanpa sekat, dianggap lumrah. Ketika hiburan malam tetap hidup di berbagai sudut kota, nyaris tanpa penolakan berarti, semuanya seperti tak bermasalah.

Namun saat Valen pulang dari Jakarta dan masyarakat antusias serta pemerintah dengan menyediakan panggung meriah untuk konser sekaligus bertemu orang tua, keluarga, dan masyarakat yang telah mendukungnya justru dicurigai dan ditolak.

Di titik inilah publik berhak bertanya: di mana sebenarnya posisi agama dan sosial oknum tersebut dalam memandang seni? Apakah agama hadir sebagai nilai pemersatu yang adil, atau justru berubah menjadi alat sensor yang selektif?

Baca Juga :  Dari Madura untuk Aceh: H. Her Kirim Bantuan Rp500 Juta untuk Korban Banjir

Jika seni lain diterima, tetapi seni populer dicurigai; jika keramaian lokal dianggap aman, tetapi kepulangan anak daerah dinilai bermasalah, maka yang sedang bekerja bukan nilai, melainkan standar ganda.

Valen tidak membawa kerusakan moral. Ia membawa prestasi, inspirasi, dan harapan bagi anak-anak muda Madura bahwa mimpi bisa dicapai tanpa harus meninggalkan identitas daerah.

Menolak kepulangannya sama saja dengan mengirim pesan pahit: bahwa keberhasilan hanya diterima jika sesuai dengan selera tafsir segelintir orang, bukan berdasarkan manfaat sosial yang nyata.

Baca Juga :  Tanpa EO dan Gratis, Bawang Mas Grup Pastikan Konser Valen DA7 Tetap Jalan

Masalahnya bukan dangdut. Bukan pula teknis acara. Persoalan utamanya adalah ketakutan berlebihan terhadap seni yang tumbuh dari masyarakat sendiri.

Ketika tafsir agama dijadikan satu-satunya standar ruang publik, yang dikorbankan bukan hanya panggung hiburan, tetapi hak sosial masyarakat untuk merayakan prestasi anak daerahnya.

Jika setiap keberhasilan harus diuji dengan kecurigaan moral, maka Pamekasan tidak sedang menjaga nilai melainkan sedang memproduksi ketakutan. Dan di tengah ketakutan itu, seni dipaksa pulang sebelum sempat benar-benar pulang ke kampung halaman.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Kepala Desa Pinggirpapas Dorong Partisipasi Masyarakat dalam Sensus Ekonomi 2026
Perjuangkan Hak Pendidikan untuk Semua, Ning Lia Dianugerahi Maklumat Partnership Awards 2026
Jambore Perhutanan Sosial 2026, Ning Lia Tegaskan Pentingnya Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi
Semarak Soekarno Fun Run 2026, Abrari-Hosnan Dukung Sport Tourism dan Kreativitas Pemuda
Dari Tari Topeng hingga Hadrah Klasik, Panggung Budaya Sumenep Siap Memukau Penonton Nanti Malam
Dari Sawit hingga Emas Dapat Perhatian, Mengapa Tembakau Madura Terpinggirkan?
Soekarno Fun Run 2026 Jadi Panggung Sportivitas dan Nasionalisme, Peserta dari Berbagai Daerah Raih Juara
Ketahanan Pangan dari Desa, Polsek Batang-Batang Monitoring Green House Melon Pertiwi

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 11:32 WIB

Kepala Desa Pinggirpapas Dorong Partisipasi Masyarakat dalam Sensus Ekonomi 2026

Senin, 15 Juni 2026 - 08:56 WIB

Perjuangkan Hak Pendidikan untuk Semua, Ning Lia Dianugerahi Maklumat Partnership Awards 2026

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:46 WIB

Jambore Perhutanan Sosial 2026, Ning Lia Tegaskan Pentingnya Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi

Minggu, 14 Juni 2026 - 13:32 WIB

Semarak Soekarno Fun Run 2026, Abrari-Hosnan Dukung Sport Tourism dan Kreativitas Pemuda

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:35 WIB

Dari Sawit hingga Emas Dapat Perhatian, Mengapa Tembakau Madura Terpinggirkan?

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:54 WIB

Soekarno Fun Run 2026 Jadi Panggung Sportivitas dan Nasionalisme, Peserta dari Berbagai Daerah Raih Juara

Minggu, 14 Juni 2026 - 07:45 WIB

Ketahanan Pangan dari Desa, Polsek Batang-Batang Monitoring Green House Melon Pertiwi

Minggu, 14 Juni 2026 - 06:43 WIB

Tanpa Dana APBD, Soekarno Fun Run 2026 Bagikan Voucher Jajan di Komentari Peserta

Berita Terbaru