Viral Penolakan Masyarakat Bawean Atas Tudingan Budaya Thok Thok Sapi, Senator Jatim: Wajib Sebagai Pembelajaran

- Pewarta

Senin, 20 Mei 2024 - 15:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATIM, nusainsider.com Baru-baru ini, viral pemasangan spanduk atas nama warga Bawean yang bertebaran di Gresik, Jawa Timur. Isi spanduk itu menolak klaim yang menyebutkan bahwa aduan sapi yang populer dengan thok-thok itu adalah tradisi Bawean.

Spanduk itu, di antaranya, membentang di dekat kantor Pemkab Gresik, kantor DPRD Gresik, dan kantor BNI Gresik.

banner 325x300

Usut punya usut, penolakan tersebut muncul dari Masyarakat Adat Bawen (MAB) sebagai bentuk menyikapi unggahan Dewan Kebudayaan Gresik di laman FB dan IG tentang tok tok sapi yang dikategorikan sebagai tradisi budaya Bawean. Meski, belakangan diketahui unggahan tersebut telah dihapus oleh DKG.

Tokoh agama setempat, yaitu Kiai Ali Masyhar, Imam Besar Masjid Jamik Sangkapura Bawean, kepada awak media (20/5/24) juga menyatakan tegas penolakan atas budaya thok-thok sapi.

“Itu klaim Dewan Kebudayaan Gresik, thok-thok itu bukan budaya Bawean. Kami Masyarakat Adat Bawean (MAB) menyatakan bahwa unggahan (DKG) tersebut tidak benar dan merupakan penghinaan yang menyakiti perasaan masyarakat Bawean.” imbuhnya.

Baca Juga :  Tersangka dan Calon Tersangka PATM Menghilang, Polda Jatim Terkesan Cuci Tangan

Masyarakat Bawean selama ini tidak pernah tahu dan merasakan kiprah positif keberadaan Dewan Kebudayaan Gresik bagi budaya etnis Bawean. Unggahan tentang tok tok sapi dewan kebudayaan gresik terasa ibarat gempa budaya Bawean berskala 7,5 SR dengan tsunami setinggi 35 M.

Menurutnya, warga Bawean Gresik Jawa Timur menolak keras adu sapi atau thok-thok diklaim sebagai tradisi Bawean. Apalagi dijadikan ikon masyarakat Bawean.

Masih menurut Muhammad, sikap penolakan terbuka itu disampaikan para tokoh adat Bawean. Di antaranya KH Ali Masyhar, Imam Besar Masjid Jami’ Sangkapura; KH Fauzi Rauf, Ketua PCNU Bawean; dan Nur Syarifuddin, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Bawean.

banner 325x300

Sikap tegas masyarakat Bawean pun memantik dukungan banyak pihak. Tak terkecuali senator Jatim, Dr. Lia Istifhama. Melalui seluler, ia menyebut penolakan tersebut menjadi pembelajaran banyak pihak dan potret ikhtiar menjaga nilai luhur kearifan lokal.

Baca Juga :  Harkitnas 2024, Lia Istifhama Dorong Generasi Muda Miliki Contigency Plan

Apa yang dilakukan masyarakat Bawean merupakan self reminder bagi semua pihak. Bahwa ini harus dan wajib sebagai pembelajaran berarti. Jangan sesekali men-sematkan budaya A pada sebuah wilayah yang tidak ada kaitan dengan budaya tersebut. Apalagi budaya thok-thok sapi yang mana dua sapi diadu. Ini jelas haram dan menyakitkan hewan ternak.

Jadi wajar masyarakat Bawean menolak. Saya kira, wilayah lainnya pun tidak ada yang mau jika mereka memiliki budaya adu hewan seperti itu. Yang pasti, tindakan masyarakat Bawean sangat tegas dan bentuk nyata mereka menjaga nilai luhur kearifan lokal yang sangat agamis dan humanis,” tegasnya.

Aktivis berparas ayu yang acapkali menolak beauty privilege tersebut juga menyampaikan harapan agar sikap tegas masyarakat Bawean bisa menjadi teladan bersama.

“Sikap tegas seperti itu, harus diteladani agar budaya di tempat lain juga terjaga nilai luhurnya. Dan agar tidak ada penumpang gelap yang pansos dengan mengkaitkan sebuah kebiasaan dengan wilayah tertentu. Beda lho, kebiasaan orang tertentu dengan budaya masyarakat. Tapi ternyata banyak yang salah kaprah.

Buktinya, terkait tok-tok sapi, di tiktok ada beberapa konten yang mengupload. Ini bukti ada saja yang gagal paham dan justru turut memviralkan itu.

Konten seperti itu harusnya ditake-down karena itu bukan konten positif dan tidak ada unsur edukasi bagi anak-anak. Dan yang kurang paham, jangan cepat-cepat share. Harus saring dulu, baru share,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Mam

Berita Terkait

Pamit dari Jabatan, Hj. Dewi Khalifah: Pengabdian Saya untuk Sumenep Tak Akan Berhenti
Menghindari Penyalahgunaan Profesi Wartawan, Dewan Pers Imbau Media untuk Perketat Pengawasan
Madura Pop Talent Sumenep 2025 Berlangsung Sukses, 10 Peserta Melaju ke Babak Selanjutnya. Berikut Daftarnya
Bupati Sumenep Apresiasi Madura Pop Talent 2025, Harap Sumenep Jadi Pusat Seni Vokal Nasional
IMORI Dukung Parluatan Siregar Jadi Ketua KONI Sumut, Fokus Tingkatkan Prestasi Olahraga
Opini: Peredaran Rokok Ilegal di Madura, Peran Pejabat Desa dan Potensi Penyalahgunaan Wewenang
Kaderisasi Pemuda Madura: PKD Ansor Blega Jadi Ajang Penguatan Kepemimpinan dan Ideologi
Bupati Sumenep Panen Jagung Hibrida, Lepas Hilirisasi Perdana ke PT Charoen Pokphand Indonesia

Berita Terkait

Senin, 17 Februari 2025 - 10:38 WIB

Pamit dari Jabatan, Hj. Dewi Khalifah: Pengabdian Saya untuk Sumenep Tak Akan Berhenti

Minggu, 16 Februari 2025 - 20:44 WIB

Menghindari Penyalahgunaan Profesi Wartawan, Dewan Pers Imbau Media untuk Perketat Pengawasan

Minggu, 16 Februari 2025 - 14:13 WIB

Bupati Sumenep Apresiasi Madura Pop Talent 2025, Harap Sumenep Jadi Pusat Seni Vokal Nasional

Sabtu, 15 Februari 2025 - 09:04 WIB

IMORI Dukung Parluatan Siregar Jadi Ketua KONI Sumut, Fokus Tingkatkan Prestasi Olahraga

Jumat, 14 Februari 2025 - 17:31 WIB

Opini: Peredaran Rokok Ilegal di Madura, Peran Pejabat Desa dan Potensi Penyalahgunaan Wewenang

Jumat, 14 Februari 2025 - 13:00 WIB

Kaderisasi Pemuda Madura: PKD Ansor Blega Jadi Ajang Penguatan Kepemimpinan dan Ideologi

Jumat, 14 Februari 2025 - 11:35 WIB

Bupati Sumenep Panen Jagung Hibrida, Lepas Hilirisasi Perdana ke PT Charoen Pokphand Indonesia

Jumat, 14 Februari 2025 - 11:04 WIB

Bintang-Bintang Muda Madura Siap Bersaing di Ajang Madura Pop Talent 2025 

Berita Terbaru