Terkuak! Data Terjadinya Gempa Bumi di Sumenep: Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan

Kamis, 16 Oktober 2025 - 13:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Distribusi seismisitas di Kabupaten Sumenep berdasarkan kataloh BMKG tahun 2010-2023. Sumber:https://ejournal.itn.ac.id/index.php/sondir

Foto. Distribusi seismisitas di Kabupaten Sumenep berdasarkan kataloh BMKG tahun 2010-2023. Sumber:https://ejournal.itn.ac.id/index.php/sondir

SUMENEP, nusainsider.comAktivitas gempa bumi di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, bukanlah fenomena baru. Catatan sejarah menunjukkan, guncangan bumi di kawasan ini telah terjadi sejak ratusan tahun silam, bahkan sejak masa penjajahan Belanda pada tahun 1800-an.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, menjelaskan bahwa kondisi geologi di perairan sekitar Pulau Sapudi memang menyimpan potensi gempa. Hal ini disebabkan keberadaan sesar aktif di dasar laut yang masih terus bergerak.

“Selain karena sesar aktif, lapisan batuan di wilayah ini mudah menerima dan melepaskan energi. Inilah yang membuat gempa bisa terjadi sewaktu-waktu,” ungkap Ari kepada wartawan, Rabu (15/10/2025).

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada dan sadar terhadap potensi gempa bumi di sekitar mereka. Kewaspadaan, kata Ari, dapat dimulai dari asesmen mandiri untuk mitigasi bencana di rumah dan lingkungan masing-masing.

“Kesadaran mitigasi penting. Masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa. Ini bagian dari kesiapsiagaan bersama,” tegasnya.

Menurut Ari, setiap kali terjadi gempa, BMKG langsung melakukan identifikasi kekuatan gempa dan menganalisis potensi tsunami. Hasil identifikasi awal kemudian divalidasi ulang sebelum diumumkan ke publik.

“Potensi tsunami selalu menjadi prioritas analisis. Untuk gempa kemarin, meskipun bersumber dari sesar aktif di laut, hasil analisis menunjukkan tidak berpotensi tsunami,” jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seperti Sapudi dan Raas perlu memahami tanda-tanda alam. Salah satunya, ketika air laut surut secara mendadak dan signifikan, masyarakat harus segera menginformasikan kepada orang lain dan mencari tempat yang lebih tinggi.

“Langkah cepat menyelamatkan diri sangat penting. Jangan menunggu instruksi resmi jika tanda-tanda bahaya sudah terlihat,” tandasnya.

Penelitian dari Ratri Andinisari dkk. dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang diterbitkan dalam Jurnal Infomanpro Vol. 13 No. 1 Tahun 2024 menguatkan penjelasan BMKG. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Sumenep berada di atas zona sesar Rembang–Madura–Kangean–Sakala (RMKS Fault Zone).

Baca Juga :  Bappeda Sumenep Gelar Musrenbang RKPD 2027, Sinergikan Aspirasi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Zona patahan ini memanjang dari utara Pulau Jawa hingga ke Kangean dan tergolong kompleks secara tektonik karena merupakan batas antara area geologi utara dan selatan Pulau Madura.

Meski selama ini Sumenep dikenal memiliki tingkat seismisitas rendah, sejumlah gempa dengan magnitudo sedang hingga tinggi pernah terjadi. Beberapa di antaranya adalah gempa pada 26 April 2018 (Mw 5,3) dan 2 April 2019 (Mw 4,9).

Baca Juga :  Bangun Budaya Kolaborasi, Disdik Sumenep Gelar Pelatihan Guru Pembina Sains

Fakta tersebut menunjukkan bahwa patahan di sekitar Sumenep berpotensi aktif kembali dan bisa memicu guncangan signifikan di masa depan. Hasil analisis Peak Ground Acceleration (PGA) juga menunjukkan nilai antara 0,1999–0,2083 g, yang mengindikasikan tingkat bahaya gempa kategori sedang.

Wilayah dengan risiko tertinggi tercatat berada di perbatasan Sumenep–Pamekasan, serta di Pulau Sapudi dan Raas. Sementara sebagian besar wilayah daratan Sumenep memiliki risiko gempa lebih rendah, meskipun tetap perlu diwaspadai.

Berdasarkan arsip kolonial Hindia Belanda yang dikutip dari detikJatim, wilayah Madura—terutama Kabupaten Sumenep dan pulau-pulau sekitarnya—telah mengalami serangkaian gempa tektonik sejak abad ke-18.

Catatan lama menyebutkan, salah satu gempa tertua terjadi pada tahun 1863, mengguncang wilayah Pamekasan dan Sumenep. Sejumlah surat kabar kolonial seperti Java-bode, Soerabaijasch Handelsblad, dan De Locomotief juga memberitakan gempa-gempa berikutnya yang terjadi pada tahun 1881, 1883, hingga 1891.

Tak berhenti di situ, arsip sejarah juga merekam kejadian gempa pada tahun 1895, 1896, 1904, 1935, dan 1936. Deretan peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Pulau Madura, khususnya Sumenep, telah berlangsung sangat lama.

Baca Juga :  Benarkah Sumenep Dianaktirikan? Data APBN 2025 Justru Tunjukkan Kucuran Anggaran Fantastis

Memasuki era modern, pencatatan gempa di Madura menjadi lebih sistematis melalui katalog resmi BMKG. Salah satu gempa besar terakhir sebelum 2025 terjadi pada 11 Oktober 2018 di Pulau Sapudi dengan kekuatan magnitudo 6,4.

Peristiwa itu mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, 34 orang luka-luka, dan 210 rumah rusak. Tak lama berselang, pada 2 Maret 2019, gempa bermagnitudo 5,0 kembali mengguncang Sumenep dan menyebabkan enam rumah rusak.

Guncangan berikutnya dirasakan pada Rabu (08/10/2025) dengan kekuatan 4,1 magnitudo, yang berpusat di Pulau Sapudi. Beberapa hari berselang, Senin (13/10/2025), gempa dengan kekuatan magnitudo 5,0 kembali mengguncang wilayah Sumenep pada pukul 14.10 WIB.

Serangkaian kejadian itu menjadi pengingat bahwa Pulau Sapudi dan wilayah pesisir selatan Madura memiliki potensi kegempaan yang perlu terus diwaspadai.

“Sejarah mencatat, Sumenep bukan wilayah bebas gempa. Tapi dengan kesiapsiagaan, edukasi, dan kolaborasi masyarakat, dampak bencana bisa diminimalkan,” ujar Ari menutup keterangannya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Pimred nusainsider.com Apresiasi Kiprah CEO DRT The Big Family di Hari Ulang Tahunnya
Opini Fauzi As ; Madura Tidak Pernah Tamat
Rokok MAKAYASA Genjot Ekspansi Pasar, 200 Outlet Baru Dibuka Setiap Hari
Bappeda Sumenep: Program SIMPUL Jawaban Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Data
Bappeda Sumenep Pacu Pertumbuhan Ekonomi Lewat Sektor Maritim, Pertanian dan Wisata
Bappeda Sumenep Dorong Transparansi Pembangunan melalui Aplikasi SIPD-RI E-Dalev
47 Tahun Achmad Fauzi Wongsojudo, Pemimpin Inspiratif Sumenep dengan Deretan Prestasi Nasional
East Java Maritime Awards 2026: Sumenep Diakui sebagai Penggerak Ekonomi Maritim Daerah

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:20 WIB

Pimred nusainsider.com Apresiasi Kiprah CEO DRT The Big Family di Hari Ulang Tahunnya

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:55 WIB

Opini Fauzi As ; Madura Tidak Pernah Tamat

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:41 WIB

Rokok MAKAYASA Genjot Ekspansi Pasar, 200 Outlet Baru Dibuka Setiap Hari

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:26 WIB

Bappeda Sumenep: Program SIMPUL Jawaban Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Data

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:33 WIB

Bappeda Sumenep Pacu Pertumbuhan Ekonomi Lewat Sektor Maritim, Pertanian dan Wisata

Kamis, 21 Mei 2026 - 02:21 WIB

47 Tahun Achmad Fauzi Wongsojudo, Pemimpin Inspiratif Sumenep dengan Deretan Prestasi Nasional

Kamis, 21 Mei 2026 - 01:18 WIB

East Java Maritime Awards 2026: Sumenep Diakui sebagai Penggerak Ekonomi Maritim Daerah

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:44 WIB

Menuju Sumenep Bersih dan Sehat, Bappeda Gulirkan Program “Small but Beautiful”

Berita Terbaru

Foto. Fauzi As

Berita

Opini Fauzi As ; Madura Tidak Pernah Tamat

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:55 WIB