Sumenep Butuh Penjaga Ritme Lagu Mencintai Tanpa Dicintai, Bukan Pengguncang Panggung Rock and Rock

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi

Foto. Ilustrasi

SUMENEP, nusainsider.com Proses seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep yang kini menyisakan tiga kandidat kuat terakhir sesungguhnya bukan sekadar agenda administratif.

Di balik suasana yang terkesan tenang, berlangsung proses penyaringan yang jauh lebih kompleks dari sekadar ujian kompetensi dan kelengkapan berkas.

Publik mungkin tidak menyaksikan perdebatan terbuka atau manuver mencolok. Namun di lingkaran birokrasi, perbincangan berjalan senyap. Sebab, seleksi Sekda bukan hanya soal kecakapan berbicara atau kepiawaian tampil di ruang formal.

Ia adalah soal karakter, kedewasaan membaca situasi, serta kemampuan menempatkan diri dalam struktur kepemimpinan.

Aktivis Aliansi Pemuda Reformasi Melawan (ALARM), Andriyadi, menyebut ada satu karakter yang sejak awal hampir pasti tersisih dari bursa: figur bergaya keras, meledak-ledak, dan gemar mendominasi ruang.

Gaya seperti itu, menurutnya, ibarat musik rock metal keras, menghentak, dan memaksa semua orang mengikuti iramanya.

Baca Juga :  Agustus Penuh Semangat di Pulau Saebus, Warga Gelar Lomba dan Tasyakuran Laut

Padahal, pemerintahan bukan panggung konser. Ia adalah ruang kerja kolektif yang membutuhkan ketenangan, koordinasi, dan keseimbangan. Sekda bukan dirancang untuk menjadi pusat sorotan, melainkan penjaga stabilitas administrasi.

Dalam konstruksi pemerintahan daerah, Bupati adalah penentu arah. Sementara Sekda adalah penjaga ritme dan kecepatan. Jika penjaga ritme justru memaksakan tempo sendiri, maka yang terjadi bukan percepatan pembangunan, melainkan potensi benturan kebijakan.

Tidak ada visi-misi Sekda. Visi-misi adalah milik kepala daerah. Sekda bertugas memastikan seluruh perangkat daerah bergerak dalam satu garis komando, bukan menciptakan garis baru yang berpotensi menarik birokrasi keluar rel.

Salah satu penyakit laten birokrasi, sebagaimana disinggung Andriyadi, adalah ketika Sekda merasa menjadi pusat gravitasi kekuasaan. Pada titik itu, koordinasi berubah menjadi tekanan, arahan menjelma menjadi instruksi kaku, dan suasana kerja kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Struktur organisasi mungkin tetap berdiri, tetapi relasi kerja menjadi tegang dan penuh jarak.

Baca Juga :  Sekolah Gerakan PMII UPI Sumenep Dibuka, Siapkan Agen Perubahan untuk Kampus dan Masyarakat

Dalam konteks Sumenep, stabilitas bukan sekadar kebutuhan administratif, melainkan prasyarat pembangunan. Wilayah yang luas dengan tantangan sosial yang berlapis membutuhkan ketenangan dalam pengambilan keputusan.

Kepemimpinan yang panik atau emosional justru berisiko menciptakan kegaduhan struktural.

Kini, seleksi telah mengerucut pada tiga nama: Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid, dan R. Abd. Rahman Riadi. Ketiganya berasal dari latar belakang dinas strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Pada fase akhir ini, yang diuji bukan lagi sekadar angka dan dokumen, melainkan kematangan karakter, kecakapan membaca ruang, dan kemampuan menjaga harmoni.
Keputusan akhir memang berada di tangan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo.

Dan arah seleksi yang berkembang dinilai sejalan dengan gaya kepemimpinannya yang cenderung menjaga ritme tanpa kegaduhan.

Dalam irama tersebut, figur Sekda yang ideal bukanlah yang datang dengan hentakan, melainkan yang mampu menenangkan suasana dan menguatkan koordinasi.

Baca Juga :  Dinilai Berdedikasi Menjaga Demokrasi, Prabowo Subianto Terima Pin Emas dari SMSI

Pemerintahan yang kuat bukan yang paling berisik, tetapi yang paling konsisten menjaga kepercayaan publik. Sekda pun bukan figur yang harus ditakuti, melainkan sosok yang membuat seluruh OPD bekerja dengan rasa aman dan kejelasan arah.

Gaya keras mungkin tampak tegas di permukaan, namun kerap menyisakan retakan jangka panjang dalam tubuh birokrasi. Sebaliknya, kepemimpinan yang tenang dan terukur sering kali tidak mencolok, tetapi justru membangun fondasi yang kokoh.

Masyarakat Sumenep kini hanya bisa membaca isyarat. Dan isyarat itu cukup jelas: daerah ini tidak membutuhkan Sekda dengan suara paling keras, melainkan dengan langkah paling tepat.

Seleksi masih berjalan, keputusan belum diumumkan. Namun satu nada dasar telah terdengar: di Sumenep, harmoni bukan sekadar pelengkap. Ia adalah syarat utama bagi keberlanjutan pemerintahan.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

SMSI Usulkan HPN 2027 di Jakarta, Dewan Pers: Belum Ada Keputusan
Lebih dari 400 Santri Jadi Korban MBG, Ning Lia Turun Langsung Beri Penguatan Mental
GLB Mulai Gerakkan Konsolidasi, Masyudi Dorong Peran Nyata dalam Pembangunan Sumenep
Dari Ujung Timur Madura, Mega Remmeng Siap Gebrak KEN 2026 dengan “Gelang Soko”
Destry Damayanti Pimpin BI, Achsanul Qosasi Ungkap Tantangan Besar: Ada Rp2.548 Triliun Dana Belum Tersalurkan
Dugaan Pungutan Parkir di MCF#4 Jadi Sorotan, Kades Pabian Sebut Begini ke Pemkab Sumenep
Sumenep Bersholawat 3 September: Ribuan Jamaah Diajak Bersatu dalam Doa dan Cinta Rasulullah
Jangan Sampai Terlewat! Kiki Asiska Hadir di Malam Puncak Madura Culture Fest #4

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 08:51 WIB

SMSI Usulkan HPN 2027 di Jakarta, Dewan Pers: Belum Ada Keputusan

Kamis, 3 September 2026 - 06:47 WIB

Lebih dari 400 Santri Jadi Korban MBG, Ning Lia Turun Langsung Beri Penguatan Mental

Rabu, 2 September 2026 - 19:57 WIB

GLB Mulai Gerakkan Konsolidasi, Masyudi Dorong Peran Nyata dalam Pembangunan Sumenep

Rabu, 2 September 2026 - 17:49 WIB

Dari Ujung Timur Madura, Mega Remmeng Siap Gebrak KEN 2026 dengan “Gelang Soko”

Rabu, 2 September 2026 - 15:55 WIB

Destry Damayanti Pimpin BI, Achsanul Qosasi Ungkap Tantangan Besar: Ada Rp2.548 Triliun Dana Belum Tersalurkan

Rabu, 2 September 2026 - 08:32 WIB

Sumenep Bersholawat 3 September: Ribuan Jamaah Diajak Bersatu dalam Doa dan Cinta Rasulullah

Rabu, 2 September 2026 - 06:46 WIB

Jangan Sampai Terlewat! Kiki Asiska Hadir di Malam Puncak Madura Culture Fest #4

Rabu, 2 September 2026 - 06:39 WIB

Pesta Usai, Sampah Menggunung! Petugas DLH Sumenep Sterilkan GOR A Yani

Berita Terbaru