Program Kampung Nelayan Merah Putih di Jatim Dikritik, Satu Titik Masih 45 Persen

Selasa, 24 Februari 2026 - 21:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Salah satu Bangunan Proyek oleh KNMP CV Cendana Indah

Foto. Salah satu Bangunan Proyek oleh KNMP CV Cendana Indah

SUMENEP, nusainsider.com Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menuai kritik. Kali ini sorotan datang dari aktivis Aliansi Pemuda Reformasi Melawan (ALARM) Kabupaten Sumenep.

Aktivis ALARM, Andriyadi, menilai program tersebut perlu dikawal secara ketat. Selain menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar, ia juga menyoroti realisasi pekerjaan yang dinilai tidak sesuai dengan target kontrak.

Sebagaimana diketahui, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) merupakan bagian dari agenda besar pembangunan nasional yang sejalan dengan visi “Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045”.

Program ini juga diklaim sebagai wujud komitmen pemerintah dalam merealisasikan Asta Cita, khususnya penguatan swasembada pangan dan pembangunan dari desa melalui strategi ekonomi biru KKP.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya, Trian Yunanda, sebelumnya menyampaikan bahwa program tersebut dirancang untuk mentransformasi wajah kampung nelayan menjadi lebih modern dan tertata, seperti yang telah dilakukan di Biak, Papua.

“Kami ingin melanjutkan keberhasilan transformasi wajah kampung nelayan seperti di Biak. Nantinya program ini akan terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih sebagai tulang punggung aktivitas ekonomi,” ujar Trian di Jakarta, Minggu (25/5), dikutip dari laman resmi kampungnelayanmerahputih.kkp.go.id

Program KNMP sendiri mencakup pembangunan berbagai fasilitas utama, seperti dermaga, cold storage, pabrik es, tempat pelelangan ikan (TPI), SPBN (stasiun pengisian bahan bakar nelayan), bengkel mesin, balai pelatihan, sentra kuliner, menara pandang, docking kapal, drainase dan IPAL, hingga gedung perkantoran.

Baca Juga :  Dinilai Peduli Kepada Anak Muda, Pemuda Gapura Bersatu Deklarasi Siap Menangkan Pasangan FAHAM

Namun, Andriyadi mengingatkan agar program tersebut tidak menjadi “Bancakan” oknum kontraktor maupun penyedia jasa, khususnya di Jawa Timur.

“Jangan sampai program yang bertujuan mulia ini justru menjadi ladang kepentingan segelintir pihak,” tegasnya kepada media nusainsider.com.

Berdasarkan data yang dihimpun ALARM, di Jawa Timur terdapat empat titik lokasi KNMP, yakni di Kabupaten Malang, Banyuwangi, Tuban, dan Sumenep. Hingga 25 Februari 2026, tiga titik dilaporkan telah mencapai progres 100 persen, sementara satu titik masih berada di angka 45 persen.

Baca Juga :  Dekat Rumah Anggota DPRD, Jalan Bragung–Prancak Rusak Lama Tak Diperbaiki

Menurut Andriyadi, progres 45 persen tersebut seharusnya sudah rampung sesuai kontrak kerja. Ia menyebut pihaknya tengah melakukan penelusuran dan investigasi mendalam terkait keterlambatan tersebut.

“Entah apa kendalanya sehingga proyek ini belum juga selesai. Kami masih melakukan pendalaman,” ujarnya.

Proyek dengan nomor kontrak B.6754/DJPT.6/PI.420/PKK/IX/2025 tersebut diketahui dikerjakan oleh CV Cendana Indah yang beralamat di Jalan H. Abdullah, Desa Glisgis, Sampang, Madura.

Baca Juga :  Menuju Konser Lanjutan, Indosiar Didorong Pilih Sumenep dan Libatkan Sultan Madura H. Her

Andre, sapaan akrab Andriyadi, menegaskan bahwa pihak kontraktor perlu memberikan keterangan resmi, baik secara tertulis maupun lisan, terkait lambannya progres pekerjaan.

Adapun sejumlah pekerjaan dalam proyek tersebut meliputi pembangunan jalan lingkungan, shelter pendaratan ikan, tempat docking kapal nelayan, pabrik es portabel, bengkel nelayan, serta sarana produksi lainnya.

Sebelum pengerjaan dimulai, proyek tersebut telah ditinjau langsung oleh pihak KKP pada 1 Oktober lalu. Di wilayah Madura, hanya Kabupaten Sumenep yang mendapatkan program pengembangan perikanan tersebut.

“Tujuan program ini sangat baik. Tapi pengawasan tetap wajib dilakukan agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat nelayan,” tutupnya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Diduga Hendak Sentuh Penumpang Perempuan, Oknum Petugas Pelabuhan Kalianget Dipersoalkan
Luka Dunia Pers Belum Sembuh, SMSI Sumenep Pilih Boikot Agenda Kapolresta
Ketua DPRD Sumenep Singgung Kedisiplinan Sekda Baru, Agus Dwi Syahputra Beri Tanggapan Tenang
Kontroversi Pelarangan Liputan, Ratusan Massa Siap Kepung Mapolresta Sumenep
Taretan Sumenep, Inovasi Baru Disdik Sumenep Bangun Kolaborasi Kampus dan Sekolah Hadapi Defisit Guru
PBB-P2 Jadi Instrumen Penguatan PAD, Bapenda Sumenep Gelar Sosialisasi di Giligenting
Madrasah Aliyah di Pamekasan Perkuat Tata Kelola dan Pembelajaran Lewat Rakor KKMA 02
Ucapan Hotman Paris kepada Jurnalis Berbuntut Panjang, PWI Pamekasan Minta Proses Hukum Tetap Berjalan

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:59 WIB

Diduga Hendak Sentuh Penumpang Perempuan, Oknum Petugas Pelabuhan Kalianget Dipersoalkan

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:42 WIB

Luka Dunia Pers Belum Sembuh, SMSI Sumenep Pilih Boikot Agenda Kapolresta

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:39 WIB

Ketua DPRD Sumenep Singgung Kedisiplinan Sekda Baru, Agus Dwi Syahputra Beri Tanggapan Tenang

Kamis, 23 Juli 2026 - 06:39 WIB

Kontroversi Pelarangan Liputan, Ratusan Massa Siap Kepung Mapolresta Sumenep

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:59 WIB

Taretan Sumenep, Inovasi Baru Disdik Sumenep Bangun Kolaborasi Kampus dan Sekolah Hadapi Defisit Guru

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:24 WIB

Madrasah Aliyah di Pamekasan Perkuat Tata Kelola dan Pembelajaran Lewat Rakor KKMA 02

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:42 WIB

Ucapan Hotman Paris kepada Jurnalis Berbuntut Panjang, PWI Pamekasan Minta Proses Hukum Tetap Berjalan

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:34 WIB

Kolaborasi UNESA dan Disdik Sumenep Perkuat Pembelajaran Berbasis Budaya Keris dan Literasi Ekologi

Berita Terbaru