Fauzi As : Wakil Bupati atau Pajangan Serambi?

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi

Foto. Ilustrasi

OPINI, nusainsider.com Ketika Kota Santri Mulai Berdansa, Kiai Nomor Dua Justru Tak Terdengar. Mungkin tulisan ini menjadi yang pertama untuk K. Imam Hasyim, sebab saat Pilkada sekalipun saya pribadi berusaha untuk tidak menyentil beliau.

Bukan karena takut. Bukan pula karena menganggap beliau tanpa cela. Tetapi saya berusaha menjaga adab kepada seorang ulama.

Hari ini, setelah lebih dari satu tahun beliau menjabat sebagai Wakil Bupati Sumenep, saya justru dipaksa oleh kenyataan untuk bertanya:

Kemana Kiai yang dulu dipilih itu pergi?

Dulu, kehadiran K. Imam Hasyim dianggap sebagai penyeimbang. Banyak orang berharap beliau menjadi rem moral dalam pemerintahan.

Jika ada kebijakan yang terlalu jauh dari nilai keislaman, ada sosok kiai yang akan mengingatkan.

Jika ada gejala kerusakan sosial, ada ulama yang akan bersuara.

Beliau hadir bukan hanya membawa suara politik, tetapi membawa simbol pesantren, simbol moralitas, simbol harapan masyarakat yang ingin Sumenep tetap dikenal sebagai kota santri.

Namun hari ini, yang terlihat justru sebaliknya. Tempat hiburan malam tumbuh dengan percaya diri. Live DJ menjadi pemandangan biasa.

Baca Juga :  Mengejutkan! Anggaran Wirausaha Santri 2026 Dipangkas Karena Alasan Ini

Karaoke menjamur. Minuman keras tidak lagi menjadi cerita bisik-bisik. Prostitusi online bergerak semakin rapi dan modern.

Yang lebih menyedihkan, anak-anak belia mulai masuk ke lingkungan yang seharusnya tidak menjadi tempat mereka belajar kehidupan.

Lalu pertanyaannya sederhana:
Di mana suara Wakil Bupati yang seorang kiai itu?

Seorang ayah seperti saya tidak sedang meminta beliau turun membawa pentungan.

Tidak pula meminta beliau menjadi polisi moral yang menggerebek tempat hiburan. Tetapi kami setidaknya ingin mendengar suara.

Sebab jabatan wakil bupati bukan sekadar kursi empuk dengan pelat nomor dinas. Jabatan itu membawa amanah dan ekspektasi.

Apalagi ketika yang duduk di kursi tersebut adalah seorang ulama. Aneh rasanya melihat seorang kiai begitu lantang saat masa kampanye, tetapi menjadi sangat sunyi setelah masuk ke ruang kekuasaan.

Dulu, dalam berbagai forum, tempat hiburan sering menjadi bahan kritik. Narasi tentang menjaga moral masyarakat begitu mudah ditemukan. Video debat Pilkada masih tersimpan di internet. Jejak digital tidak mudah dibakar.

Baca Juga :  Bupati Fauzi Blusukan ke Stan RSUD Sumenep, Ada Layanan Gratis yang Bikin Warga Antusias

Tetapi hari ini, ketika tempat hiburan semakin ramai, justru suara kritik itu seperti menguap bersama asap mesin karaoke.

Kadang saya bertanya-tanya, jangan-jangan jabatan memang memiliki kemampuan ajaib. Ia mampu mengubah singa menjadi kucing.

Mampu mengubah pengeras suara menjadi mode senyap. Mampu mengubah kritik menjadi senyum protokoler.

Atau mungkin saya yang salah.
Mungkin K. Imam sedang bekerja diam-diam.

Mungkin beliau sedang menyusun strategi besar. Mungkin beliau sedang menunggu waktu yang tepat.

Tetapi masalahnya, kerusakan sosial tidak pernah menunggu.

Anak-anak yang terpapar lingkungan buruk tidak menunggu. Peredaran minuman keras tidak menunggu.

Praktik prostitusi online tidak menunggu.
Mereka bekerja dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.

Sementara masyarakat hanya melihat pemerintah bekerja pada jam kantor.

Lebih ironis lagi, Sumenep selama ini menjual identitas sebagai daerah religius. Pesantren ada di mana-mana. Ulama dihormati. Acara keagamaan begitu hidup.

Namun di sisi lain, hiburan malam berkembang tanpa rasa malu.

Akhirnya publik bertanya-tanya, apakah religiusitas kita hanya menjadi spanduk besar yang dipasang saat bulan puasa?

Baca Juga :  JSI Beri Ruang Ekspresi dan Dorongan Ekonomi Lewat Panggung Kreasi di WMS

Apakah nilai-nilai agama hanya dipakai saat kampanye dan peringatan hari besar?

Ataukah kita memang sedang memasuki zaman baru, ketika gelar kiai dalam politik hanya menjadi aksesoris elektoral?

Jujur saja, saya tidak ingin percaya pada kesimpulan terakhir itu.

Saya masih ingin percaya bahwa K. Imam Hasyim adalah sosok yang sama seperti yang dulu dikenal masyarakat.

Kiai yang peduli pada moral umat.
Kiai yang berani menyampaikan kebenaran.
Kiai yang tidak takut kehilangan tepuk tangan demi mempertahankan prinsip.

Karena jika seorang kiai yang telah diberi jabatan tinggi pun memilih diam terhadap persoalan moral yang tumbuh di depan mata, maka masyarakat berhak bertanya:
Yang menjadi Wakil Bupati itu sebenarnya seorang ulama yang masuk ke dunia politik, atau politisi yang kebetulan memiliki gelar kiai?

Pertanyaan itu memang tajam.
Tetapi terkadang sebuah daerah tidak membutuhkan jawaban yang manis.

Daerah membutuhkan keberanian.
Dan keberanian selalu dimulai dari satu hal yang sederhana: bersuara ketika yang lain memilih diam.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Tak Pernah Absen, Kepala Bappeda Sumenep Kembali Sambut Wabup di Stan Pameran MNV 2026
Geger! 36 Ribu Warga Serbu JJS Central 88 di Pamekasan, 6,7 Kg Emas Langsung Ludes Terjual
“Arabet Polo Ajenge Nak Poto”, Pesan Camat Gayam di Balik Karnaval Penuh Kreativitas
Problem Pertanian Dibedah di Jombang, Ansor Jatim Serukan Anak Muda Jangan Jadi Penonton
MCF #4 Ramai, Sampah Bermunculan, Pasukan Kuning DLH Sumenep Tak Tinggal Diam
Habis Fun Run, Gas Lagi! Fira Cantika Bakal Temani Warga Sumenep di MCF #4 Malam Ini
Semarak MCF #4, Ribuan Peserta Ramaikan GO Sumenep Purnama MDR Fun Run 2026
Dari Laporan Nasabah hingga SP3 Penyelidikan, Begini Akhir Polemik Dugaan Emas Palsu di Sapudi

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:52 WIB

Tak Pernah Absen, Kepala Bappeda Sumenep Kembali Sambut Wabup di Stan Pameran MNV 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Geger! 36 Ribu Warga Serbu JJS Central 88 di Pamekasan, 6,7 Kg Emas Langsung Ludes Terjual

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:46 WIB

“Arabet Polo Ajenge Nak Poto”, Pesan Camat Gayam di Balik Karnaval Penuh Kreativitas

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:43 WIB

Problem Pertanian Dibedah di Jombang, Ansor Jatim Serukan Anak Muda Jangan Jadi Penonton

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:31 WIB

MCF #4 Ramai, Sampah Bermunculan, Pasukan Kuning DLH Sumenep Tak Tinggal Diam

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:59 WIB

Semarak MCF #4, Ribuan Peserta Ramaikan GO Sumenep Purnama MDR Fun Run 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 - 05:43 WIB

Dari Laporan Nasabah hingga SP3 Penyelidikan, Begini Akhir Polemik Dugaan Emas Palsu di Sapudi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:34 WIB

Tak Hanya Sukses Gelar Event, Pemkab Sumenep Tunjukkan Komitmen Jaga Kebersihan GOR A Yani

Berita Terbaru