SUMENEP, nusainsider.com — Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., kembali menunjukkan konsistensinya dalam mengawal ruang informasi pembangunan daerah.
Tak pernah absen dari tempat duduknya selama Pembukaan Madura Culture Festival MCF #4 dan Madura Night Vaganza MNV, Arif Firmanto kembali menyambut kunjungan Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim di stan Bappeda dalam rangkaian Madura Culture Festival (MCF) #4 dan Madura Night Vaganza (MNV) 2026, Minggu (30/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momentum bagi Bappeda untuk memaparkan berbagai arah kebijakan sekaligus capaian pembangunan Kabupaten Sumenep kepada orang nomor dua di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep tersebut.
Di hadapan KH. Imam Hasyim, Arif sapaan akrabnya memperlihatkan sejumlah materi yang ditampilkan di stan Bappeda. Di antaranya delapan program unggulan Sumenep 2025–2029, capaian indikator pembangunan, RKPD, Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), aplikasi e-Stunting, E-SAKIP hingga Peti Koin Bermantara.
Berbagai informasi tersebut dikemas dalam konsep stan yang tidak sekadar menampilkan angka dan data pembangunan. Bappeda mengusung nuansa Keraton dan Pendopo Sumenep sebagai konsep utama yang setiap tahun merepresentasikan identitas, sejarah serta kearifan lokal daerah. Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan informasi pembangunan.
Pesannya jelas, perencanaan masa depan Sumenep tidak boleh tercerabut dari karakter dan jati diri daerah.
Kepala Bappeda Sumenep Dr. Ir. Arif Firmanto menjelaskan, konsep tersebut sengaja dipilih untuk menggambarkan hubungan erat antara identitas daerah dengan proses pembangunan.
“Pendopo merupakan ruang untuk berkumpul, bermusyawarah dan menyampaikan aspirasi. Nilai itu sejalan dengan proses perencanaan pembangunan yang membutuhkan partisipasi dan kesepakatan bersama,” kata Arif Firmanto di sela-sela kunjungan Wabup ke Stan Pembangunan OPD-nya, Minggu 30/8/2026.
Menurutnya, Keraton juga memiliki posisi penting sebagai bagian dari identitas Kabupaten Sumenep.
“Keraton menggambarkan sejarah dan jati diri Sumenep. Jadi, pembangunan ke depan tetap harus memiliki pijakan pada karakter dan budaya daerah,” ujarnya.
Arif sapaan akrabnya menilai, pembangunan bukan hanya persoalan angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur maupun capaian indikator makro. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap menjaga karakter daerah.
Karena itu, keberadaan stan Bappeda dalam pameran pembangunan MNV 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan proses perencanaan pembangunan secara lebih dekat kepada masyarakat.
Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim mengapresiasi konsep yang diusung Bappeda dalam pameran pembangunan tersebut.
Menurut KH. Imam, penyajian informasi pembangunan dengan menggabungkan unsur sejarah dan budaya menjadi pendekatan yang menarik. Masyarakat tidak hanya disuguhi data, tetapi juga diajak memahami bahwa pembangunan Sumenep memiliki akar sejarah dan identitas yang kuat.
KH Imam menegaskan, sejumlah indikator pembangunan daerah menunjukkan tren yang semakin membaik dalam beberapa tahun terakhir.
Mulai dari pertumbuhan ekonomi, penurunan angka pengangguran, berkurangnya tingkat kemiskinan hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bukti adanya kemajuan yang terus berlangsung.
“Pembangunan ini tentu tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan perencanaan yang matang, sinergi antarlembaga serta partisipasi masyarakat,” ujar KH. Imam.
Ia menilai, penegasan ciri khas Bappeda melalui konsep Keraton dan Pendopo dalam pameran pembangunan memiliki makna tersendiri.
Menurutnya, konsep tersebut menunjukkan bahwa proses pembangunan Sumenep harus tetap berpijak pada identitas daerah, sekaligus mampu menjawab kebutuhan masyarakat di masa kini dan masa mendatang.
Ia mengaku mengapresiasi kerja Bappeda dalam menyajikan berbagai informasi pembangunan kepada masyarakat secara terbuka dan mudah dipahami.
“Bappeda memiliki peran strategis dalam memastikan pembangunan berjalan sesuai arah dan prioritas yang telah ditetapkan. Karena itu, perencanaan harus benar-benar berbasis data, kebutuhan masyarakat dan potensi daerah,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembangunan Sumenep ke depan harus terus diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, capaian pembangunan yang telah diraih harus menjadi modal untuk melangkah lebih jauh, bukan menjadi alasan untuk berhenti berbenah.
“Yang sudah baik kita pertahankan, yang masih kurang kita perbaiki. Pembangunan harus terus bergerak dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
Kehadiran stan Bappeda dalam MCF #4 dan MNV 2026 pun menjadi gambaran bahwa pembangunan Sumenep tidak hanya berbicara mengenai masa depan, tetapi juga berangkat dari sejarah, budaya dan jati diri daerah.
![]()
Penulis : Wafa
















