JOMBANG, nusainsider.com — Sektor pertanian Jawa Timur menghadapi tantangan serius, mulai dari regenerasi petani, teknologi, produksi, pemasaran hingga rendahnya nilai tambah hasil pertanian.
Di tengah persoalan tersebut, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur mendorong generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi tampil sebagai penggerak perubahan di sektor pertanian.
Dorongan itu mengemuka dalam Halaqoh Tani Muda Ansor Jatim yang digelar di Jombang, Sabtu (29/8/2026). Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi sekaligus tempat bertemunya gagasan dan praktik baik kader Ansor di berbagai daerah.
Ketua PW Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, S.H., M.H., menegaskan bahwa persoalan pertanian tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional.
Menurutnya, diperlukan keberanian untuk menghadirkan inovasi sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam sektor pertanian.
“Pertanian harus kita lihat sebagai masa depan. Jangan sampai anak-anak muda hanya menjadi penonton, sementara sektor pertanian justru menghadapi persoalan regenerasi,” ujar Musaffa.
Ia mengatakan, Ansor ingin mendorong anak muda agar melihat pertanian bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga sebagai ruang pengabdian sekaligus peluang membangun kemandirian ekonomi.
“Halaqoh ini bukan sekadar forum diskusi. Kita ingin mendengarkan problem petani, kemudian mencari solusinya bersama. Mulai produksi, pemasaran, teknologi, regenerasi hingga bagaimana hasil pertanian memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Musaffa menambahkan, Jawa Timur memiliki banyak kader yang bergerak di tingkat desa. Sebagian di antaranya bahkan telah mengembangkan berbagai inovasi di bidang pertanian dan pembangunan desa.
Potensi tersebut, kata dia, perlu dipertemukan agar inovasi yang berhasil di satu wilayah dapat menjadi inspirasi dan dikembangkan di daerah lainnya.
“Kita memiliki banyak kader yang bergerak di desa, termasuk para kepala desa dan sahabat-sahabat Ansor yang mengembangkan berbagai inovasi pertanian. Apa yang berhasil di satu daerah bisa menjadi inspirasi dan dikembangkan di daerah lain,” tuturnya.
Menurut Musaffa, sektor pertanian memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat desa dan penguatan ekonomi lokal.
Karena itu, Ansor Jatim ingin jaringan kadernya tidak hanya aktif sebagai organisasi kepemudaan, tetapi juga mengambil peran dalam menjawab persoalan konkret masyarakat.
Dalam rangkaian Halaqoh Tani Muda tersebut, PW Ansor Jawa Timur juga memberikan Ansor Agro Inovasi Award kepada kader yang dinilai berhasil mengembangkan inovasi di bidang pertanian dan pembangunan desa.
Juara pertama diraih Sahabat Moh. Hamid Al Maududi, Kepala Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PC Ansor Kabupaten Blitar.
Juara kedua diraih Sahabat Erwan Santoso, Kepala Desa Krisik, Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo, sekaligus Kasatkoryon Banser Pudak.
Sementara juara ketiga diraih Sahabat Fadal, Kepala Desa Lebak, Bawean, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PC Ansor Bawean.
Ketua Tani Kebun PW Ansor Jatim, H. Deni Prasetya, mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus upaya mendorong lebih banyak kader Ansor terjun dan berinovasi di sektor pertanian.
Menurutnya, tantangan utama pertanian saat ini bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan inovasi yang sesuai dengan karakter dan potensi masing-masing daerah.
“Potensi pertanian di Jawa Timur sangat besar, tetapi setiap daerah memiliki karakter berbeda. Karena itu, inovasi tidak bisa diseragamkan,” jelas Deni.
Ia menilai tiga penerima penghargaan tersebut menjadi contoh bahwa kader Ansor mampu menjadi penggerak pembangunan berbasis potensi desa.
“Mereka tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga hadir sebagai kepala desa dan penggerak masyarakat. Ini yang ingin kita dorong agar semakin banyak kader mampu menciptakan inovasi di sektor pertanian,” katanya.
Deni menegaskan, Tani Kebun PW Ansor Jatim tidak ingin penghargaan tersebut berhenti sebagai seremoni.
Inovasi yang telah berjalan, kata dia, harus diperkuat, dipertemukan dengan jejaring yang lebih luas dan bila memungkinkan direplikasi di daerah lain.
“Kita tidak ingin berhenti pada pemberian penghargaan. Setelah ini harus ada tindak lanjut,” tegasnya.
Halaqoh Tani Muda juga menjadi momentum untuk mengubah perspektif bahwa pertanian identik dengan pekerjaan generasi tua.
Musaffa menilai generasi muda justru memiliki peluang besar untuk membawa sektor pertanian ke arah yang lebih modern melalui teknologi, digitalisasi, inovasi budidaya, pengolahan hasil hingga pemasaran.
“Anak muda memiliki keunggulan dalam teknologi dan kreativitas. Kalau keunggulan itu dipadukan dengan pengalaman para petani, kita bisa membangun pertanian yang lebih maju dan memiliki daya saing,” jelasnya.
Ia berharap forum tersebut tidak berhenti menghasilkan gagasan, tetapi mampu melahirkan program konkret yang berdampak langsung kepada petani.
“Kita ingin dari halaqoh ini lahir gagasan, kemudian menjadi program, dan pada akhirnya memberikan dampak kepada petani. Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” pungkas Musaffa.
Senada, Deni menyebut penguatan sektor pertanian harus dilakukan secara berkelanjutan dengan membangun ekosistem yang melibatkan seluruh mata rantai pertanian.
“Pertanian tidak hanya berbicara soal menanam dan panen. Ada teknologi, kelembagaan, distribusi, pengolahan, pemasaran dan regenerasi. Semua mata rantai itu harus kita perkuat bersama,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Pemanfaatan Kawasan Hutan Ansor Jatim sekaligus Kepala Perhutani Bondowoso, H. Misbahul Munir, menyoroti potensi kawasan hutan untuk dikembangkan menjadi area produktif melalui pola pemanfaatan yang tepat dan berkelanjutan.
Menurutnya, pemanfaatan kawasan hutan tidak boleh hanya berorientasi pada produksi pertanian. Aspek ekonomi masyarakat harus berjalan seimbang dengan fungsi ekologis kawasan.
“Kawasan hutan memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi area produktif, termasuk untuk mendukung sektor pertanian masyarakat. Tetapi pemanfaatannya harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, terencana dan tetap menjaga fungsi hutan,” ujar Misbahul.
Ia menyebut pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mengoptimalkan lahan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
- “Kita ingin bagaimana lahan yang ada bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi jangan sampai pemanfaatan itu justru menghilangkan fungsi hutan. Produktivitas dan kelestarian harus berjalan bersama,” katanya.
Misbahul juga menilai keterlibatan generasi muda menjadi faktor penting dalam mengembangkan model pertanian di kawasan hutan.
Dengan dukungan teknologi dan inovasi, pemanfaatan lahan dapat diarahkan pada komoditas yang sesuai dengan karakter wilayah sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Anak-anak muda harus mulai melihat bahwa ruang pertanian itu luas. Tidak hanya sawah, tetapi ada berbagai model pemanfaatan lahan yang bisa dikembangkan,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Wafa
















