SURABAYA, nusainsider.com — Ada kegelisahan yang tak selalu terucap, namun nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, mengungkapkan keprihatinannya melihat perubahan dunia anak-anak yang kian menjauh dari permainan tradisional dan semakin lekat dengan layar gawai.
Menurut ning Lia, pemandangan anak-anak yang asyik bermain kelereng, bola, atau layangan kini semakin jarang dijumpai. Sebaliknya, sebuah benda pipih bernama ponsel justru menjadi “Teman Bermain” utama, bahkan ukurannya kerap lebih besar dari telapak tangan anak-anak itu sendiri.
“Kadang terasa ironis. Anak-anak sekarang lebih cepat mengeja huruf ‘ha-pe’ ketimbang memanggil ayah atau bunda,” ujar Senator Dapil Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu dengan nada reflektif.
Ia menilai, pola interaksi anak-anak masa kini mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu permainan selalu melibatkan banyak teman dan interaksi langsung, kini hampir semua aktivitas hiburan dapat dilakukan seorang diri. Cukup dengan menggesek layar, dunia seolah terbuka tanpa batas, tanpa perlu kehadiran orang lain.
Gawai yang awalnya diciptakan untuk menunjang kebutuhan orang dewasa, kata Lia, perlahan berubah fungsi menjadi “Pengasuh” bagi anak-anak. Tak sedikit orang tua yang memilih memberikan ponsel pribadi agar anak lebih mudah ditenangkan.
“Sekarang hampir semua anak punya ponsel sendiri. Sesuatu yang dulu bahkan belum tentu dimiliki orang tuanya,” ungkapnya.
Kebiasaan tersebut, lanjut Lia, membawa dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Anak-anak yang berkumpul bersama pun sering kali tetap sibuk dengan layar masing-masing, atau hanya terhubung melalui gim daring. Dari sana, tak jarang muncul kata-kata kasar yang ditiru tanpa memahami maknanya.
Ia juga menyoroti perubahan karakter anak yang dinilai lebih mudah ditenangkan secara instan, namun sekaligus lebih cepat tersulut emosinya ketika keinginan tidak terpenuhi.
Teknologi, secara perlahan, membentuk karakter manusia kecil yang belum sepenuhnya siap memilah mana yang pantas dan mana yang berbahaya.
“Tanpa disadari, mereka jadi terlalu cepat tahu banyak hal, padahal belum cukup kuat secara emosional,” katanya.
Lia kemudian mengenang masa kecilnya yang jauh dari gawai. Televisi menjadi satu-satunya perangkat digital yang dikenal, itupun dengan keterbatasan tayangan.
Ketika tak ada tontonan menarik, membaca buku menjadi pilihan. Bahkan, berbaring sambil membiarkan imajinasi berkelana adalah hal yang lumrah.
“Dulu, menghayal bukan sesuatu yang aneh. Justru dari situlah kreativitas tumbuh,” tutur Ning Lia, Jumat (23/1/2026).
Di akhir refleksinya, Lia Istifhama menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Seperti pisau, ia dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat, namun juga berbahaya jika digunakan tanpa kendali.
Persoalannya, anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
Karena itu, ia mengajak para orang tua dan lingkungan sekitar untuk tidak sepenuhnya menyerahkan proses tumbuh kembang anak kepada layar. Pendampingan, keteladanan, serta kehadiran nyata orang dewasa menjadi benteng utama agar teknologi tetap menjadi sahabat, bukan “Setan Gepeng” yang diam-diam mengambil alih masa kecil anak-anak.
![]()
Penulis : Wafa
















