Antara Teknologi dan Kasih Sayang, Ning Lia Suarakan Peran Keluarga

Sabtu, 24 Januari 2026 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Senator Jatim, Ning Lia.

Foto. Senator Jatim, Ning Lia.

SURABAYA, nusainsider.com Ada kegelisahan yang tak selalu terucap, namun nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama, mengungkapkan keprihatinannya melihat perubahan dunia anak-anak yang kian menjauh dari permainan tradisional dan semakin lekat dengan layar gawai.

Menurut ning Lia, pemandangan anak-anak yang asyik bermain kelereng, bola, atau layangan kini semakin jarang dijumpai. Sebaliknya, sebuah benda pipih bernama ponsel justru menjadi “Teman Bermain” utama, bahkan ukurannya kerap lebih besar dari telapak tangan anak-anak itu sendiri.

“Kadang terasa ironis. Anak-anak sekarang lebih cepat mengeja huruf ‘ha-pe’ ketimbang memanggil ayah atau bunda,” ujar Senator Dapil Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu dengan nada reflektif.

Ia menilai, pola interaksi anak-anak masa kini mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu permainan selalu melibatkan banyak teman dan interaksi langsung, kini hampir semua aktivitas hiburan dapat dilakukan seorang diri. Cukup dengan menggesek layar, dunia seolah terbuka tanpa batas, tanpa perlu kehadiran orang lain.

Baca Juga :  Siskamling Jadi Instruksi Nasional, PKDI Sumenep Siap Hidupkan Kembali Semangat Gotong Royong

Gawai yang awalnya diciptakan untuk menunjang kebutuhan orang dewasa, kata Lia, perlahan berubah fungsi menjadi “Pengasuh” bagi anak-anak. Tak sedikit orang tua yang memilih memberikan ponsel pribadi agar anak lebih mudah ditenangkan.

“Sekarang hampir semua anak punya ponsel sendiri. Sesuatu yang dulu bahkan belum tentu dimiliki orang tuanya,” ungkapnya.

Kebiasaan tersebut, lanjut Lia, membawa dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Anak-anak yang berkumpul bersama pun sering kali tetap sibuk dengan layar masing-masing, atau hanya terhubung melalui gim daring. Dari sana, tak jarang muncul kata-kata kasar yang ditiru tanpa memahami maknanya.

Baca Juga :  Harlah ke-41, Ponpes Aqidah Usymuni Wisuda Santri Tahfidz dan Teguhkan Pengabdian untuk Umat

Ia juga menyoroti perubahan karakter anak yang dinilai lebih mudah ditenangkan secara instan, namun sekaligus lebih cepat tersulut emosinya ketika keinginan tidak terpenuhi.

Teknologi, secara perlahan, membentuk karakter manusia kecil yang belum sepenuhnya siap memilah mana yang pantas dan mana yang berbahaya.

“Tanpa disadari, mereka jadi terlalu cepat tahu banyak hal, padahal belum cukup kuat secara emosional,” katanya.

Lia kemudian mengenang masa kecilnya yang jauh dari gawai. Televisi menjadi satu-satunya perangkat digital yang dikenal, itupun dengan keterbatasan tayangan.

Ketika tak ada tontonan menarik, membaca buku menjadi pilihan. Bahkan, berbaring sambil membiarkan imajinasi berkelana adalah hal yang lumrah.

“Dulu, menghayal bukan sesuatu yang aneh. Justru dari situlah kreativitas tumbuh,” tutur Ning Lia, Jumat (23/1/2026).

Di akhir refleksinya, Lia Istifhama menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Seperti pisau, ia dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat, namun juga berbahaya jika digunakan tanpa kendali.

Baca Juga :  Sumenep Kembali Tandatangani Proyek Percontohan kementerian Pertanian, Begini kata Bupati

Persoalannya, anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Karena itu, ia mengajak para orang tua dan lingkungan sekitar untuk tidak sepenuhnya menyerahkan proses tumbuh kembang anak kepada layar. Pendampingan, keteladanan, serta kehadiran nyata orang dewasa menjadi benteng utama agar teknologi tetap menjadi sahabat, bukan “Setan Gepeng” yang diam-diam mengambil alih masa kecil anak-anak.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU Diduga Picu Blackout, CERI Minta Penyidikan Diperluas
DPR RI Beri Dukungan Penuh, Polri Diminta Tuntaskan Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU
PT ESM Siap Luncurkan King Djava Reguler, Bidik Filipina hingga Australia
PT Garam Diduga Bongkar Tambak Produktif Tanpa Musyawarah, P4GI Desak Kades dan Manajemen Bertindak
Komitmen Bangun SDM Kepulauan, Medco Energi Gelar Pelatihan Deep Learning untuk Guru Sumenep
Yuddy Chrisnandi Apresiasi Diplomasi Prabowo: Jakarta Tak Lagi Sekadar Tamu, Kini Jadi Tuan Rumah Dunia
FGD “NgomBe” Bahas Masa Depan MBG di Sumenep, Pemkab Dorong Evaluasi Menyeluruh
Yang Paling Sakit Bukan Kepergian, Melainkan Kebenaran yang Tak Pernah Terucapkan

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 18:26 WIB

Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU Diduga Picu Blackout, CERI Minta Penyidikan Diperluas

Kamis, 9 Juli 2026 - 18:23 WIB

DPR RI Beri Dukungan Penuh, Polri Diminta Tuntaskan Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:32 WIB

PT ESM Siap Luncurkan King Djava Reguler, Bidik Filipina hingga Australia

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:34 WIB

PT Garam Diduga Bongkar Tambak Produktif Tanpa Musyawarah, P4GI Desak Kades dan Manajemen Bertindak

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:32 WIB

Komitmen Bangun SDM Kepulauan, Medco Energi Gelar Pelatihan Deep Learning untuk Guru Sumenep

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:59 WIB

FGD “NgomBe” Bahas Masa Depan MBG di Sumenep, Pemkab Dorong Evaluasi Menyeluruh

Rabu, 8 Juli 2026 - 22:55 WIB

Yang Paling Sakit Bukan Kepergian, Melainkan Kebenaran yang Tak Pernah Terucapkan

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:34 WIB

Pesantren Al-Islamiyah Gandeng Yonif TP 931/KJ Bentuk Santri Tangguh Lewat Kemah HIMMAH ke-51

Berita Terbaru