DPD RI & Ombudsman Bahas Solusi Akses Pendidikan di Indonesia

Rabu, 10 September 2025 - 22:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Senator Jilbab Ijo Dr Lia Istifhama, S. Sos.i., M.E.I saat bersama Ombdusman

Foto. Senator Jilbab Ijo Dr Lia Istifhama, S. Sos.i., M.E.I saat bersama Ombdusman

JAKARTA, nusainsider.com Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menekankan pentingnya penyusunan peta jalan pengembangan pendidikan sebagai upaya mempercepat pemerataan akses dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Komite III DPD RI bersama Ombudsman RI di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (9/9).

Menurut Lia, yang akrab disapa Ning Lia, persoalan mendasar pendidikan di tanah air adalah keterbatasan daya tampung sekolah negeri. Kondisi ini menyebabkan banyak siswa tidak tertampung, terutama di daerah-daerah tertentu.

Ia mencontohkan, di beberapa wilayah, masih ada sekolah dengan jumlah siswa sangat sedikit, seperti di Kabupaten Ngawi yang hanya menerima satu siswa baru. Sebaliknya, sekolah negeri di kota-kota besar justru kelebihan pendaftar.

Baca Juga :  Dr Lia Istifhama: Dunia Harus Buktikan Keadilan Internasional Itu Nyata

Selain itu, Ning Lia juga menyoroti persoalan guru Sekolah Rakyat (SR) yang memilih mundur karena lokasi lembaga pendidikan yang jauh dari domisili.

Masalah ini diperparah dengan keterbatasan rombongan belajar (rombel) serta tuntutan biaya pendidikan, terutama di sekolah swasta.

“Peta jalan pendidikan harus mampu menjawab beragam persoalan, mulai dari akses sekolah negeri, pembiayaan sekolah swasta, hingga penataan rombel. Kami berharap Ombudsman, pemerintah, dan kementerian terkait bisa menyusun strategi tepat agar pendidikan benar-benar adil dan merata,” tegas Ning Lia.

Dalam rapat tersebut, Ombudsman RI memaparkan sejumlah temuan terkait Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Data menunjukkan, 84 persen pemerintah daerah telah menetapkan juknis SPMB dua bulan sebelum pendaftaran.

Baca Juga :  Ning Lia Tegaskan: Orang Tua Adalah Garda Terdepan Ketahanan Nasional

Namun, 36 persen di antaranya belum menyediakan aplikasi penerimaan murid baru yang terintegrasi dengan Dapodik, DTKS, dan Dukcapil.

Ketua Ombudsman RI, Muhammad Najih, menyoroti belum adanya pemetaan menyeluruh terkait guru dan sekolah, serta lemahnya kebijakan afirmasi bagi kelompok rentan.

Ia juga menilai sistem evaluasi pendidikan semakin lemah setelah dihapuskannya ujian nasional.

“Masalah yang kerap muncul mencakup keterbatasan daya tampung, diskriminasi pada jalur afirmasi, hingga kurangnya layanan untuk anak berkebutuhan khusus,” jelas Najih.

Komite III DPD RI dalam kesempatan itu menyatakan dukungan penuh terhadap Ombudsman untuk terus mengawal penerimaan siswa baru.

Baca Juga :  Lia Istifhama Puji Kepemimpinan Khofifah: Pemimpin Paripurna yang Gerakkan Ekonomi Rakyat

DPD juga mendorong pemerintah daerah mengintegrasikan aspek jarak, prestasi, dan kondisi ekonomi dalam sistem zonasi.

Selain itu, DPD RI mengusulkan pemberian beasiswa maupun kerja sama dengan sekolah swasta favorit bagi siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri.

Pengawasan juga harus diperkuat dengan melibatkan aparat penegak hukum bila ditemukan penyalahgunaan dalam proses penerimaan siswa.

Laporan Ombudsman RI mencatat, penyimpangan prosedur SPMB menjadi kasus paling banyak, disusul persoalan layanan publik saat pendaftaran, hingga diskriminasi terhadap anak penyandang disabilitas.

“DPD RI akan terus memperjuangkan kebijakan pendidikan yang inklusif, adil, dan berpihak pada masa depan anak bangsa,” pungkas Ning Lia menutup.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

“Dalih Birokrasi, Derita Kepulauan: Potret Buram Pengelolaan Anggaran Ratusan Miliar”
Berat Barang Bukti Berbeda, BEMSU Singgung Lemahnya Komunikasi Publik Kasus Kokain
Baru 4 Hari Klarifikasi, SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Kembali Disorot: Makanan MBG Diduga Berulat Lagi
Kasus Cukai DJBC Melebar, PR Lokal Sumenep Masuk Radar KPK
Tak Lagi Parsial, Lia Istifhama Dorong Pengelolaan Dana Umat Lebih Transparan Lewat PDUF
Baru Buka, SkY Coffee Grounds Diserbu Pengunjung, Nongkrong Naik Level!
Detikzone Tebar Kepedulian, Santuni Pekerja Informal Lewat Program Jumat Berkah
Gerakan Hijau DPRD Sumenep, Anggota PDIP Pilih Sepeda ke Kantor

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 12:50 WIB

“Dalih Birokrasi, Derita Kepulauan: Potret Buram Pengelolaan Anggaran Ratusan Miliar”

Sabtu, 18 April 2026 - 11:19 WIB

Berat Barang Bukti Berbeda, BEMSU Singgung Lemahnya Komunikasi Publik Kasus Kokain

Sabtu, 18 April 2026 - 08:32 WIB

Baru 4 Hari Klarifikasi, SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Kembali Disorot: Makanan MBG Diduga Berulat Lagi

Sabtu, 18 April 2026 - 07:45 WIB

Kasus Cukai DJBC Melebar, PR Lokal Sumenep Masuk Radar KPK

Sabtu, 18 April 2026 - 03:15 WIB

Tak Lagi Parsial, Lia Istifhama Dorong Pengelolaan Dana Umat Lebih Transparan Lewat PDUF

Jumat, 17 April 2026 - 18:17 WIB

Detikzone Tebar Kepedulian, Santuni Pekerja Informal Lewat Program Jumat Berkah

Jumat, 17 April 2026 - 15:51 WIB

Gerakan Hijau DPRD Sumenep, Anggota PDIP Pilih Sepeda ke Kantor

Jumat, 17 April 2026 - 09:03 WIB

KI Sumenep Bangun Budaya Transparansi Lewat Kolaborasi Akademik

Berita Terbaru

Foto. Pintu Masuk dan Keluar Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur

Berita

Kasus Cukai DJBC Melebar, PR Lokal Sumenep Masuk Radar KPK

Sabtu, 18 Apr 2026 - 07:45 WIB