Hilal yang Sama, Cara Pandang yang Berbeda: Lebaran 2026 di Persimpangan Iman dan Sains

Jumat, 20 Maret 2026 - 01:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi

Foto. Ilustrasi

OPINI, nusainsider.com Langit Indonesia pada petang 19 Maret 2026 sebenarnya tidak menyimpan misteri. Data astronomi berbicara tegas: hilal telah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Nusantara, dari Merauke hingga Sabang. Artinya, secara geometris, bulan sabit penanda awal Syawal itu sudah “Ada”.

Di Merauke, tinggi hilal tercatat 0,91° dengan elongasi 4,54°.

Jakarta 1,73° dan 5,74°.

Bandung 1,55° dan 5,15°.

Sementara di Sabang, Aceh, posisi hilal bahkan sudah mencapai tinggi 3,13° dengan elongasi 6,10°.

Angka-angka ini bukan sekadar data dingin, melainkan penentu awal sebuah hari raya yang ditunggu jutaan umat.
Namun, justru di titik inilah perbedaan muncul.

Kasus Sabang menjadi simbol dilema. Secara ketinggian, hilal telah melampaui ambang batas 3 derajat. Tetapi elongasinya masih 6,1 derajat, sedikit di bawah syarat 6,4 derajat yang ditetapkan dalam kriteria Neo-MABIMS.

Baca Juga :  Budaya dan Inovasi Indonesia Curi Perhatian Dunia di Osaka, Bukukan Investasi Rp 380 Triliun

Hasilnya jelas: tidak memenuhi syarat secara keseluruhan.

Di sinilah logika sains modern bekerja dengan disiplin. Dalam pendekatan imkanur rukyat berbasis Neo-MABIMS, dua parameter harus terpenuhi sekaligus: tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Tidak ada kompromi. Tidak ada “hampir cukup”.

Konsekuensinya, pemerintah menetapkan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Lebaran pun jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Namun di sisi lain, ada pendekatan berbeda yang tak kalah kuat akar legitimasinya: metode wujudul hilal.

Berangkat dari pemahaman tekstual terhadap hadits Nabi Muhammad SAW “berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya”.

metode ini menekankan keberadaan hilal di atas ufuk, bukan keterlihatannya.

Dengan pendekatan ini, Lebaran justru jatuh sehari lebih awal: Jumat, 20 Maret 2026.

Perbedaan ini bukan sekadar soal tanggal. Ini adalah refleksi dari dua cara manusia memahami realitas: melalui teks suci dan melalui sains modern.

Baca Juga :  Wasekjen PAN ; Pertimbangan Politik Antara Ganjar Dan Prabowo

Sejarah mencatat, Indonesia pernah menggunakan kriteria yang lebih longgar tinggi hilal 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam.

Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa klaim rukyat kerap tidak selaras dengan fakta astronomi. Dari sinilah lahir kebutuhan akan standar yang lebih ketat, yang kemudian diwujudkan dalam kriteria Neo-MABIMS sejak 2022.

Langkah ini, bagi sebagian kalangan, adalah bentuk kemajuan: upaya menghadirkan kepastian berbasis ilmu pengetahuan.

Tetapi bagi yang lain, ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana sains boleh menafsirkan ulang praktik ibadah yang bersumber dari teks agama?

Hadits Nabi tidak pernah menyebut angka elongasi atau derajat ketinggian. Ia hadir dalam bahasa sederhana, dapat dipahami oleh siapa saja, lintas zaman.

Baca Juga :  Konservasi Berkelanjutan: Legislator PDIP Dorong Pelestarian Kakatua Masalembu

Ketika standar teknis semakin kompleks, sebagian umat merasa ada jarak yang kian melebar antara ajaran tekstual dan praktik aktual.

Namun, mungkin persoalannya bukan memilih salah satu dan menegasikan yang lain.

Sains tidak hadir untuk menggantikan teks, melainkan untuk membantu memahami realitas. Sebaliknya, teks agama memberi arah, makna, dan tujuan yang tak selalu bisa dijangkau oleh angka dan perhitungan.

Lebaran 2026 pada akhirnya menjadi cermin: bahwa perbedaan bukanlah kegagalan, melainkan konsekuensi dari cara berpikir yang beragam. Di satu sisi ada ketelitian ilmiah, di sisi lain ada kesederhanaan iman.

Dan di atas semua itu, hilal tetap sama, diam di langit senja, tak berubah, tak berpihak. Ia hanya menjadi saksi bahwa manusia bisa berbeda, bahkan ketika menatap bulan yang sama. (Toifur Ali Wafa)

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda
Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep
NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU
Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat
KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa
PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah
Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern
Membeli Sama dengan Berbagi, Central 88 Gold and Jewellery Dedikasikan Hasil Usaha untuk Yatim

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:54 WIB

“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:36 WIB

Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep

Senin, 24 Agustus 2026 - 02:42 WIB

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:18 WIB

Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:39 WIB

KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:28 WIB

Membeli Sama dengan Berbagi, Central 88 Gold and Jewellery Dedikasikan Hasil Usaha untuk Yatim

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:22 WIB

Ning Lia Dinilai Inspiratif, Raih Penghargaan Leadership dan Community Empowerment

Berita Terbaru