SUMENEP, nusainsider.com — Dua grup musik tong-tong Angin Ribut dan Gong Mania kembali bentrok dan ricuh pada pembukaan Festival Cemara 2023 Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur pada Jumat malam, 3 November 2023.
Akibat dari Kericuhan tersebut, berbagai komentar negatif bermunculan baik melalui media online ataupun di berbagai grup whatsapp Aktivis, Wartawan dan Masyarakat Umum kota Keris.
Kabupaten yang dikenal dengan masyarakatnya yang tentram, kondusif dan menjunjung tinggi toleransi dan atau perdamaian justru berubah dalam waktu semalam menjadi perpecahan yang tidak biasanya di pertontonkan.
Aktivis Aliansi pemuda Reformasi Melawan (ALARM) sangat menyayangkan insiden pelemparan Batu, Kursi dan Petasan dari Supporter kedua Grup musik tong-tong asal Sumenep itu.
Ia menilai, kericuhan tersebut bukti ketidakbecusan Panitia atau EO Penyelenggara acara Festival bertaraf Provinsi yang diletakkan di kabupaten Sumenep sebagai Tuan rumah, dan tentunya insiden tersebut mencoreng nama Baik Sumenep khususnya dan Bupati secara Umum, “kata Andriyadi kepada media ini, Sabtu 4 November 2023.
Padahal, Festival Dewi Cemara itu menghabiskan Anggaran Rp 81 juta melalui Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBDP) tahun 2023. Tapi kenapa pelaksanaannya Amburadul? dan tidak ada Antisipasi perpecahan dan atau pengamanan?
Bahkan, info yang diterima dari berbagai sumber bahwa dua Grup musik tong-tong itu memang sedang tidak terjalin hubungan baik dari sebelum-sebelumnya dan potensi bertengkar ketika bertemu, apa memang Dinas sengaja mempertemukan dua Grup itu untuk menciptakan suasana panas ditengah Event Nasional itu?, “imbuhnya.
Andre sapaan akrabnya menyayangkan lemahnya Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep pada pelaksanaan yang dihadiri dari berbagai desa wilayah Jawa Timur itu.
Pihaknya meminta Pemerintah kabupaten (Pemkab) Sumenep baik eksekutif maupun yudikatif untuk melakukan evaluasi total pelaksanaan Event yang dananya bersumber dari APBD Sumenep agar tidak terkesan buang-buang Anggaran.
Kalau sudah seperti ini, Pemkab sumenep khususnya Disbudporapar bisa apa? Mau meminta maaf tidak cukup karena ada korban dari insiden tersebut dan kerugian Puluhan juta karena dekorasi kedua Grup tong-tong yang rusak parah, “Jelasnya.
Ditambahkan, ia meminta Bupati Sumenep untuk lebih bijak menyikapi kepala Dinas yang tidak sesuai dengan Visi dan Misinya. Apalagi Kepala Disbudporapar yang mempunya sikap dan sifat keras menyikapi setiap persoalan. Kalau perlu lengserkan dari jabatannya karena tidak produktif juga.
Belum lagi persoalan pengembangan Wisata yang hingga saat ini masih Stagnan, promosi wisata yang tidak jelas efeknya bagi pertumbuhan ekonomi lokal, semuanya tersusun rapi seolah-olah peduli, “Tutupnya.
![]()
















