Lewat Film Pesta Babi, PMII Sumenep Ajak Publik Refleksi Soal Keadilan Sosial

Kamis, 14 Mei 2026 - 20:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Nobar Film Dokumenter Pesta Babi Bersama PMII UPI Sumenep

Foto. Nobar Film Dokumenter Pesta Babi Bersama PMII UPI Sumenep

SUMENEP, nusainsider.com Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas PGRI Sumenep menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi, Rabu (13/5/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di Cafe Kancakonah, Babbalan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep itu menjadi forum refleksi dan diskusi kritis terkait isu ketimpangan sosial serta kondisi masyarakat adat di Papua.

Acara tersebut dihadiri kalangan mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum yang tampak antusias mengikuti jalannya pemutaran film dan sesi diskusi. Suasana berlangsung khidmat dengan berbagai pandangan kritis yang disampaikan peserta maupun narasumber.

Ketua Komisariat PMII Universitas PGRI Sumenep, Diky Alamsyah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses kaderisasi untuk membangun intelektualitas kader sekaligus membuka ruang diskusi publik di Kabupaten Sumenep.

Baca Juga :  Dari Basis Kuat Jadi Ancaman Boikot: PKB di Madura Hadapi Ujian Berat

Menurutnya, film dokumenter Pesta Babi menghadirkan potret nyata mengenai ketimpangan sosial yang terjadi di tanah Papua.

“Kami menginginkan adanya kegiatan yang dapat membangun forum diskusi di Kabupaten Sumenep dalam menyerap isu-isu baru yang terjadi di tanah Papua,” ungkap Diky.

Ia juga menegaskan bahwa pihak kepolisian sempat hadir memantau kegiatan tersebut. Namun, kehadiran aparat disebut hanya untuk memastikan kegiatan berjalan kondusif tanpa ada pembubaran acara.

“Mereka hanya datang turut memantau jalannya diskusi malam ini dan alhamdulillah diskusi berjalan khidmat tanpa gangguan sedikit pun,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Cabang PMII Sumenep, Khoirus Soleh, menilai film tersebut menggambarkan eksploitasi lahan yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elit dibanding masyarakat adat Papua.

Menurutnya, kebijakan pembukaan lahan besar-besaran untuk proyek strategis nasional dinilai perlu dikaji kembali karena berdampak terhadap masyarakat adat maupun lingkungan hidup di Papua.

“Film ini membuka ruang refleksi kritis tentang bagaimana relasi kuasa pasca-kolonial masih termanifestasi dalam bentuk eksploitasi sumber daya alam, marginalisasi ruang hidup masyarakat adat, serta minimnya perlindungan negara,” kata Khoirus.

Ia menambahkan, diskusi seperti itu penting agar mahasiswa dan masyarakat tidak hanya memahami teori keadilan sosial, tetapi juga mampu melihat realitas yang terjadi di tengah masyarakat.

“Diskusi ini sangat penting agar kita di Sumenep tidak hanya memahami teori keadilan sosial, tapi juga mampu mengontekstualisasikannya dalam realitas bangsa yang nyata,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, dosen sekaligus pengamat kebijakan publik, Wilda Rosaili, menyampaikan bahwa film Pesta Babi menjadi pengingat terhadap praktik pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil.

Baca Juga :  Bakesbangpol Sumenep Tegaskan Pendidikan Kunci Menuju Indonesia Emas

Menurutnya, film tersebut mengajak publik untuk berpikir kritis terhadap berbagai kebijakan yang berdampak pada masyarakat adat dan lingkungan hidup.

“Film ini mengajak kita berpikir tentang bagaimana negara masih belum sepenuhnya berpihak pada kaum kecil,” ujarnya.

Wilda juga mendorong mahasiswa, aktivis, dan masyarakat sipil agar tetap menjaga idealisme serta terus menyuarakan kepentingan rakyat.

Baca Juga :  Momen Mengharukan di SDN Barkot 3, Siswa Sungkem Guru Usai Dinyatakan Lulus

Ia bahkan menyinggung pemikiran Tan Malaka tentang pentingnya idealisme bagi kaum muda.

“Kemewahan terakhir seorang pemuda adalah idealisme. Karena itu kita harus tetap menjaga kekayaan berpikir dan membangun gerakan kolektif dalam mendukung masyarakat adat Papua agar tanah mereka tidak menjadi korban proyek strategis nasional,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Ujung Timur Madura Bersiap Berpesta Budaya, Madura Culture Festival 4 Hadirkan 38 Kontingen
Festival Tong-tong KEN 2026 Dipertanyakan, Event Nasional atau Sekadar Seremonial Hari Jadi?
Pasien Meninggal dan Dugaan Rawat Inap Disorot, Aktivis ALARM Minta Puskesmas Manding Beri Penjelasan
P-APBD 2026 Ketuk Palu, Pemkab Sumenep Janjikan Percepatan Program untuk Masyarakat
Cinta Indonesia Tak Cukup dengan Simbol, Nasionalisme Harus Dibuktikan dengan Aksi
Haswal Group Resmi Buka Pembelian Tembakau 2026, Harga Tembus Rp70 Ribu per Kilogram
“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda
Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:15 WIB

Ujung Timur Madura Bersiap Berpesta Budaya, Madura Culture Festival 4 Hadirkan 38 Kontingen

Rabu, 26 Agustus 2026 - 07:22 WIB

Festival Tong-tong KEN 2026 Dipertanyakan, Event Nasional atau Sekadar Seremonial Hari Jadi?

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Pasien Meninggal dan Dugaan Rawat Inap Disorot, Aktivis ALARM Minta Puskesmas Manding Beri Penjelasan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:46 WIB

P-APBD 2026 Ketuk Palu, Pemkab Sumenep Janjikan Percepatan Program untuk Masyarakat

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:43 WIB

Cinta Indonesia Tak Cukup dengan Simbol, Nasionalisme Harus Dibuktikan dengan Aksi

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:54 WIB

“Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad”, Ning Lia Titip Pesan Demokrasi kepada Generasi Muda

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:36 WIB

Dari Buku untuk Kemerdekaan, Puluhan Penggerak Literasi Berkumpul di Taman Adipura Sumenep

Senin, 24 Agustus 2026 - 02:42 WIB

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU

Berita Terbaru