SUMENEP, nusainsider.com — Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas PGRI Sumenep menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi, Rabu (13/5/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung di Cafe Kancakonah, Babbalan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep itu menjadi forum refleksi dan diskusi kritis terkait isu ketimpangan sosial serta kondisi masyarakat adat di Papua.
Acara tersebut dihadiri kalangan mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum yang tampak antusias mengikuti jalannya pemutaran film dan sesi diskusi. Suasana berlangsung khidmat dengan berbagai pandangan kritis yang disampaikan peserta maupun narasumber.
Ketua Komisariat PMII Universitas PGRI Sumenep, Diky Alamsyah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses kaderisasi untuk membangun intelektualitas kader sekaligus membuka ruang diskusi publik di Kabupaten Sumenep.
Menurutnya, film dokumenter Pesta Babi menghadirkan potret nyata mengenai ketimpangan sosial yang terjadi di tanah Papua.
“Kami menginginkan adanya kegiatan yang dapat membangun forum diskusi di Kabupaten Sumenep dalam menyerap isu-isu baru yang terjadi di tanah Papua,” ungkap Diky.
Ia juga menegaskan bahwa pihak kepolisian sempat hadir memantau kegiatan tersebut. Namun, kehadiran aparat disebut hanya untuk memastikan kegiatan berjalan kondusif tanpa ada pembubaran acara.
“Mereka hanya datang turut memantau jalannya diskusi malam ini dan alhamdulillah diskusi berjalan khidmat tanpa gangguan sedikit pun,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Cabang PMII Sumenep, Khoirus Soleh, menilai film tersebut menggambarkan eksploitasi lahan yang dinilai lebih menguntungkan kelompok elit dibanding masyarakat adat Papua.
Menurutnya, kebijakan pembukaan lahan besar-besaran untuk proyek strategis nasional dinilai perlu dikaji kembali karena berdampak terhadap masyarakat adat maupun lingkungan hidup di Papua.
“Film ini membuka ruang refleksi kritis tentang bagaimana relasi kuasa pasca-kolonial masih termanifestasi dalam bentuk eksploitasi sumber daya alam, marginalisasi ruang hidup masyarakat adat, serta minimnya perlindungan negara,” kata Khoirus.
Ia menambahkan, diskusi seperti itu penting agar mahasiswa dan masyarakat tidak hanya memahami teori keadilan sosial, tetapi juga mampu melihat realitas yang terjadi di tengah masyarakat.
“Diskusi ini sangat penting agar kita di Sumenep tidak hanya memahami teori keadilan sosial, tapi juga mampu mengontekstualisasikannya dalam realitas bangsa yang nyata,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, dosen sekaligus pengamat kebijakan publik, Wilda Rosaili, menyampaikan bahwa film Pesta Babi menjadi pengingat terhadap praktik pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil.
Menurutnya, film tersebut mengajak publik untuk berpikir kritis terhadap berbagai kebijakan yang berdampak pada masyarakat adat dan lingkungan hidup.
“Film ini mengajak kita berpikir tentang bagaimana negara masih belum sepenuhnya berpihak pada kaum kecil,” ujarnya.
Wilda juga mendorong mahasiswa, aktivis, dan masyarakat sipil agar tetap menjaga idealisme serta terus menyuarakan kepentingan rakyat.
Ia bahkan menyinggung pemikiran Tan Malaka tentang pentingnya idealisme bagi kaum muda.
“Kemewahan terakhir seorang pemuda adalah idealisme. Karena itu kita harus tetap menjaga kekayaan berpikir dan membangun gerakan kolektif dalam mendukung masyarakat adat Papua agar tanah mereka tidak menjadi korban proyek strategis nasional,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Wafa
















