Malam Meriah Madura Culture Festival #3, Tari Gandrung Banyuwangi Hentakkan GOR A. Yani

Minggu, 31 Agustus 2025 - 02:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Penampilan Tari Gandrung asal Banyuwangi di Malam ketiga Madura culture Festival#3 sumenep

Foto. Penampilan Tari Gandrung asal Banyuwangi di Malam ketiga Madura culture Festival#3 sumenep

SUMENEP, nusainsider.comMalam ketiga Madura Culture Festival (MCF) #3 pada Sabtu (30/8/2025) di GOR A. Yani Sumenep berlangsung meriah dengan penampilan spektakuler Kabupaten Banyuwangi yang membawakan Tari Gandrung Sewu. Penampilan ini berhasil memikat ribuan penonton yang hadir.

Tarian Gandrung dikenal sebagai tarian khas Banyuwangi yang memiliki sejarah panjang sejak zaman dahulu.

Awalnya, tarian ini hanya dibawakan oleh segelintir penari. Namun, dalam festival kali ini, Tari Gandrung ditarikan oleh puluhan penari sehingga tampak megah dan memukau.

Menurut catatan sejarah, tarian ini lahir seiring dibabatnya Hutan Tirtagindo untuk dijadikan ibu kota Blambangan pada masa pemerintahan Bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit, pada tahun 1774. Menariknya, penari gandrung pertama justru seorang laki-laki bernama Masran.

Baca Juga :  Warga Pragaan Geger! Sumur Bor Semburkan Gas Mudah Terbakar

Kemudian pada tahun 1895, muncul kisah Semi, seorang anak perempuan yang sakit keras. Ibunya bernazar, jika Semi sembuh, maka ia akan dijadikan penari gandrung.

Doa itu terkabul, Semi-pun menjadi pelopor penari gandrung perempuan. Sejak saat itu, tradisi tari gandrung dibawakan oleh penari wanita hingga kini.

Seiring perkembangan zaman, tarian ini yang semula hanya ditarikan oleh keluarga penari, kemudian menyebar luas.

Sejak 1970-an, masyarakat umum mulai mempelajari dan membawakannya tanpa harus menjadi penari profesional. Hal ini membuat Tari Gandrung semakin populer di berbagai kalangan.

Tari Gandrung memiliki makna mendalam bagi masyarakat Banyuwangi, yakni sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen raya.

Baca Juga :  Seorang Kakek di Pagerungan Besar Sapeken Gantung Diri

Kata “Gandrung” dalam bahasa Jawa berarti tergila-gila, yang dimaknai sebagai kegembiraan masyarakat terhadap kemurahan Dewi Padi yang memberi hasil panen melimpah.

Dahulu, tarian ini hanya ditampilkan setelah musim panen. Namun, kini Tari Gandrung berkembang menjadi bagian dari berbagai acara, mulai pernikahan, khitanan, festival budaya, hingga pertunjukan internasional.

Bahkan, banyak sanggar tari di Banyuwangi yang mengajarkan tarian ini kepada generasi muda.

Selain makna dan sejarahnya yang kaya, Tari Gandrung juga memiliki ciri khas yang membedakannya dari tarian tradisional lainnya.

Pertama, iringan musiknya menggunakan kempul atau gong, triangle, dua biola, sepasang kethuk, serta dua kendang.

Baca Juga :  Malam Ketiga Madura Culture Festival #3, Madura Jadi Rumah Keberagaman Budaya Nusantara

Kedua, para penari mengenakan kain jarik bermotif batik khas Banyuwangi, yakni batik gajah oling.

Ketiga, penari mengenakan hiasan kepala berbentuk mahkota yang terbuat dari kulit kerbau, dihiasi ornamen berwarna emas dan merah.

Keempat, busana yang dikenakan berbahan dasar beludru hitam dengan hiasan emas yang menambah kesan megah. Kelima, adanya properti tambahan yang memperkuat keindahan gerakan tari.

Dengan segala keunikan dan pesonanya, Tari Gandrung tidak hanya menjadi warisan budaya Banyuwangi, tetapi juga telah menjadi identitas seni Indonesia yang mendunia.

Penampilan di Madura Culture Festival #3 pun semakin mempertegas keistimewaannya sebagai simbol kearifan lokal yang layak dilestarikan.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Pengurus JSI Sumenep 2026-2029 Dikukuhkan, Bupati Fauzi Dorong Media Sajikan Berita Mencerdaskan
Dikukuhkan Periode 2026-2029, JSI Sumenep Tegaskan Komitmen Bergerak di Bidang Sosial
Sosialisasi Empat Pilar, Ning Lia Tekankan Peran Anak Muda Kawal Keadilan
Dari Borobudur, Fauka Noor Farid Tegaskan Arah Baru Lindu Aji: Budaya, Sosial dan Ekonomi Kerakyatan
Lia Istifhama Dorong RUU Pertanahan Jadi Benteng Warga Hadapi Sengketa dan Mafia Tanah
Gegara Investasi Dapur MBG, Warga Sumenep Laporkan Istri DPR RI ke Polisi
Ning Lia Apresiasi Haji dan Umrah Fest 2026 Gresik, Dorong Pelayanan Jemaah Makin Prima
Suahasil Nazara Resmi Jadi Menkeu, Komisi XI Titip Pesan soal APBN

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:34 WIB

Pengurus JSI Sumenep 2026-2029 Dikukuhkan, Bupati Fauzi Dorong Media Sajikan Berita Mencerdaskan

Selasa, 15 September 2026 - 15:26 WIB

Dikukuhkan Periode 2026-2029, JSI Sumenep Tegaskan Komitmen Bergerak di Bidang Sosial

Selasa, 15 September 2026 - 12:46 WIB

Sosialisasi Empat Pilar, Ning Lia Tekankan Peran Anak Muda Kawal Keadilan

Selasa, 15 September 2026 - 11:20 WIB

Dari Borobudur, Fauka Noor Farid Tegaskan Arah Baru Lindu Aji: Budaya, Sosial dan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 15 September 2026 - 10:22 WIB

Lia Istifhama Dorong RUU Pertanahan Jadi Benteng Warga Hadapi Sengketa dan Mafia Tanah

Senin, 14 September 2026 - 19:45 WIB

Ning Lia Apresiasi Haji dan Umrah Fest 2026 Gresik, Dorong Pelayanan Jemaah Makin Prima

Senin, 14 September 2026 - 16:27 WIB

Suahasil Nazara Resmi Jadi Menkeu, Komisi XI Titip Pesan soal APBN

Senin, 14 September 2026 - 11:28 WIB

Perkuat Iman dan Kebersamaan, Bappeda Sumenep Gelar Maulid Nabi dan Santuni Anak Yatim

Berita Terbaru