SUMENEP, nusainsider.com — Malam ketiga Madura Culture Festival (MCF) #3 pada Sabtu (30/8/2025) di GOR A. Yani Sumenep berlangsung meriah dengan penampilan spektakuler Kabupaten Banyuwangi yang membawakan Tari Gandrung Sewu. Penampilan ini berhasil memikat ribuan penonton yang hadir.
Tarian Gandrung dikenal sebagai tarian khas Banyuwangi yang memiliki sejarah panjang sejak zaman dahulu.

Awalnya, tarian ini hanya dibawakan oleh segelintir penari. Namun, dalam festival kali ini, Tari Gandrung ditarikan oleh puluhan penari sehingga tampak megah dan memukau.
Menurut catatan sejarah, tarian ini lahir seiring dibabatnya Hutan Tirtagindo untuk dijadikan ibu kota Blambangan pada masa pemerintahan Bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit, pada tahun 1774. Menariknya, penari gandrung pertama justru seorang laki-laki bernama Masran.
Kemudian pada tahun 1895, muncul kisah Semi, seorang anak perempuan yang sakit keras. Ibunya bernazar, jika Semi sembuh, maka ia akan dijadikan penari gandrung.
Doa itu terkabul, Semi-pun menjadi pelopor penari gandrung perempuan. Sejak saat itu, tradisi tari gandrung dibawakan oleh penari wanita hingga kini.
Seiring perkembangan zaman, tarian ini yang semula hanya ditarikan oleh keluarga penari, kemudian menyebar luas.
Sejak 1970-an, masyarakat umum mulai mempelajari dan membawakannya tanpa harus menjadi penari profesional. Hal ini membuat Tari Gandrung semakin populer di berbagai kalangan.
Tari Gandrung memiliki makna mendalam bagi masyarakat Banyuwangi, yakni sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen raya.
Kata “Gandrung” dalam bahasa Jawa berarti tergila-gila, yang dimaknai sebagai kegembiraan masyarakat terhadap kemurahan Dewi Padi yang memberi hasil panen melimpah.
Dahulu, tarian ini hanya ditampilkan setelah musim panen. Namun, kini Tari Gandrung berkembang menjadi bagian dari berbagai acara, mulai pernikahan, khitanan, festival budaya, hingga pertunjukan internasional.
Bahkan, banyak sanggar tari di Banyuwangi yang mengajarkan tarian ini kepada generasi muda.
Selain makna dan sejarahnya yang kaya, Tari Gandrung juga memiliki ciri khas yang membedakannya dari tarian tradisional lainnya.
Pertama, iringan musiknya menggunakan kempul atau gong, triangle, dua biola, sepasang kethuk, serta dua kendang.
Kedua, para penari mengenakan kain jarik bermotif batik khas Banyuwangi, yakni batik gajah oling.
Ketiga, penari mengenakan hiasan kepala berbentuk mahkota yang terbuat dari kulit kerbau, dihiasi ornamen berwarna emas dan merah.
Keempat, busana yang dikenakan berbahan dasar beludru hitam dengan hiasan emas yang menambah kesan megah. Kelima, adanya properti tambahan yang memperkuat keindahan gerakan tari.
Dengan segala keunikan dan pesonanya, Tari Gandrung tidak hanya menjadi warisan budaya Banyuwangi, tetapi juga telah menjadi identitas seni Indonesia yang mendunia.
Penampilan di Madura Culture Festival #3 pun semakin mempertegas keistimewaannya sebagai simbol kearifan lokal yang layak dilestarikan.
![]()
Penulis : Wafa

















