PMII Cabang Butuh Revolusi Manajerial dan Struktural, Bukan Basa-Basi Organisasi

Sabtu, 3 Mei 2025 - 14:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Miftahul Arifin, Pengurus Komisariat PMII STIT Aqidah Usymuni Sumenep.

Foto. Miftahul Arifin, Pengurus Komisariat PMII STIT Aqidah Usymuni Sumenep.

OPINI, nusainsider.com Sejarah telah mencatat bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir sebagai garda terdepan transformasi sosial dan intelektual, berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Namun, realitas hari ini menunjukkan kondisi yang jauh berbeda.

Kita perlu jujur mengakui, manajerial PMII Cabang tengah mengalami degradasi yang signifikan.

PMII hari ini seperti rusak dari atas, namun ironisnya justru menyalahkan kondisi di bawah. Dalih bahwa perubahan harus dimulai dari akar rumput hanya menjadi tameng untuk menutupi kegagalan struktural di tingkat kepemimpinan.

Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah organisasi yang tidak dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Kondisi ini tidak bisa ditutupi dengan pencitraan atau dramatisasi. PMII Cabang telah kehilangan arah, kehilangan nilai, bahkan kehilangan rasa malu terhadap amanah yang diembannya.

Organisasi yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kader progresif, kini justru berjalan tanpa arah yang jelas dan kehilangan ruh gerakannya.

Pertama, mari kita berbicara soal kepemimpinan. Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah jabatan, tetapi amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Nabi Muhammad SAW bersabda

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, apa yang kita lihat hari ini? Banyak pengurus cabang yang menjadikan jabatan hanya sebagai pencapaian pribadi. Mereka tidak memahami tugas strukturalnya, mengabaikan kaderisasi, dan bahkan tidak mampu menjawab kebutuhan dasar komisariat serta rayon. Ini bukan kepemimpinan—ini hanya sekumpulan panitia temporer.

Baca Juga :  Refleksi Nilai dan Norma dalam Organisasi: Kritik atas Ketidaktaatan PB PMII terhadap Peraturan Organisasi

Kepemimpinan cabang hari ini hanya sibuk menggelar acara seremonial. Ketika dituntut menghadirkan solusi strategis untuk problem organisasi, mereka gagap dan tidak siap.

Inikah wajah PMII Cabang yang kita harapkan? Kalau hanya piawai dalam mengatur acara dan foto bersama, itu bukan kepemimpinan—itu sekadar selebrasi kosong.

PMII bukanlah organisasi arisan atau tempat singgah aktivis kampus yang ingin naik panggung tanpa membawa integritas dan kapasitas intelektual.

PMII lahir dari cita-cita besar, tapi kini justru terjebak dalam kultur pragmatisme yang memprioritaskan pencitraan dibandingkan penguatan substansi gerakan.

Kajian mulai stagnan, diskusi mandek, dan wacana-wacana besar hanya menjadi pelengkap proposal kegiatan. Padahal, dalam dokumen ideologi PMII ditegaskan bahwa kader harus membangun kesadaran kritis dan berpikir merdeka sebagai wujud kader progresif. Apakah kita masih bisa menyebut diri sebagai kader jika hanya diam dan manut?

Jika cabang tidak lagi mendorong kader untuk berpikir dan bergerak, maka mereka sedang menulis batu nisan organisasi ini secara perlahan namun pasti.

Baca Juga :  Perdana! Kades Alas Malang Sukses Panen Cabe Di lahan Tandus

PMII yang dulu membakar semangat intelektual kini seperti kehilangan bara api pergerakan. Ini bukan soal idealisme yang memudar, tapi soal kepemimpinan yang gagal mengelola dan membina.

Secara kelembagaan, PMII menjunjung asas kolektif kolegial dan musyawarah mufakat. Namun faktanya, banyak keputusan strategis cabang diambil tanpa forum resmi dan tidak merujuk pada AD/ART.

Sistem manajerial berjenjang diabaikan, dan keputusan penting dilakukan berdasarkan kehendak pribadi, bukan konsensus organisasi.

Akibatnya, penempatan kader di berbagai posisi hanya berdasarkan kedekatan emosional, bukan karena kapasitas. Evaluasi organisasi nyaris tak pernah dilakukan secara serius.

Ini bukan hanya bentuk pembiaran, tapi juga pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip dasar organisasi. PMII butuh evaluasi, bukan euforia kosong.

Kita tidak butuh pemimpin yang pandai berwacana di forum tapi lupa mencatat, lupa mengevaluasi, dan enggan membina. PMII butuh pemimpin yang benar-benar bekerja dalam sunyi, bukan hanya muncul saat kamera menyala.

PMII butuh figur yang memahami makna perjuangan, bukan mereka yang hanya cari panggung.

Yang dibutuhkan PMII Cabang hari ini bukan hanya perombakan personal, tapi taubat struktural. Sebuah kesadaran kolektif bahwa organisasi ini dibangun di atas nilai-nilai perjuangan dan amanah. Tanpa kesadaran ini, jabatan hanya akan menjadi alat untuk memperpanjang eksistensi personal, bukan memperkuat perjuangan kolektif.

Baca Juga :  Hosnan, Rupanya Santri Anak Petani, Caleg DPRD Sumenep Dapil 7, Begini Profil Lengkapnya

Jika manajerial saat ini tidak sanggup membawa semangat pergerakan, maka sebaiknya mereka tahu diri dan mundur. Dalam Islam, jabatan bukan kehormatan, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari). Apakah kita masih menganggap ini hanya peringatan simbolis?

PMII Cabang harus kembali ke khittah perjuangannya. Menata ulang manajerial dengan semangat kolektif, membangun sistem yang transparan, responsif, dan evaluatif. Kaderisasi harus dikembalikan ke pusat gerakan, bukan sekadar formalitas pelatihan yang kosong dari nilai ideologis dan intelektual.

Tanpa perbaikan struktural yang menyeluruh, PMII hanya akan menjadi museum sejarah. Indah untuk dikenang, namun tidak lagi relevan bagi masa depan. Organisasi ini tidak boleh kehilangan arah hanya karena segelintir orang yang memelintir nilai untuk kepentingan pribadi.

Perubahan tidak akan datang dari mereka yang nyaman dalam zona aman. Perubahan hanya lahir dari kesadaran kolektif dan keberanian untuk mengakui kegagalan.

Maka, mari kita hentikan basa-basi organisasi dan mulai membangun PMII dari dalam, dengan kejujuran, keberanian, dan semangat transformasi yang sejati.

Penulis : Miftahul Arifin, Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STIT Aqidah Usymuni

Loading

Penulis : Mif

Berita Terkait

Edukasi Kreatif Hari Kartini, Anak PAUD Belajar Batik dengan Ceria
Siap Kawal Program Rp1,7 Triliun HDDAP, LSM Siap Awasi dari Perencanaan hingga Pelaksanaan
Dari Sumenep ke Puncak Prestasi: Syahra Taklukkan 300 Peserta di Pamekasan
Warga Berburu Lebih Awal, Harga Kambing Sudah Melambung
“Dalih Birokrasi, Derita Kepulauan: Potret Buram Pengelolaan Anggaran Ratusan Miliar”
Baru 4 Hari Klarifikasi, SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Kembali Disorot: Makanan MBG Diduga Berulat Lagi
Tak Lagi Parsial, Lia Istifhama Dorong Pengelolaan Dana Umat Lebih Transparan Lewat PDUF
Baru Buka, SkY Coffee Grounds Diserbu Pengunjung, Nongkrong Naik Level!

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 12:57 WIB

Edukasi Kreatif Hari Kartini, Anak PAUD Belajar Batik dengan Ceria

Senin, 20 April 2026 - 04:49 WIB

Siap Kawal Program Rp1,7 Triliun HDDAP, LSM Siap Awasi dari Perencanaan hingga Pelaksanaan

Minggu, 19 April 2026 - 17:26 WIB

Dari Sumenep ke Puncak Prestasi: Syahra Taklukkan 300 Peserta di Pamekasan

Minggu, 19 April 2026 - 07:36 WIB

Warga Berburu Lebih Awal, Harga Kambing Sudah Melambung

Sabtu, 18 April 2026 - 12:50 WIB

“Dalih Birokrasi, Derita Kepulauan: Potret Buram Pengelolaan Anggaran Ratusan Miliar”

Sabtu, 18 April 2026 - 08:32 WIB

Baru 4 Hari Klarifikasi, SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Kembali Disorot: Makanan MBG Diduga Berulat Lagi

Sabtu, 18 April 2026 - 03:15 WIB

Tak Lagi Parsial, Lia Istifhama Dorong Pengelolaan Dana Umat Lebih Transparan Lewat PDUF

Jumat, 17 April 2026 - 22:59 WIB

Baru Buka, SkY Coffee Grounds Diserbu Pengunjung, Nongkrong Naik Level!

Berita Terbaru