Saatnya Bangun Kemerdekaan Substansi Bukan Yang Basa-basi

- Pewarta

Kamis, 10 Agustus 2023 - 09:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAATNYA BANGUN KEMERDEKAAN SUBSTANSI BUKAN YANG BASA-BASI

Oleh, MOCHLIS AL-BATH

 

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, segala bentuk penjajahan di atas dunia ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan” (Pembukaan UUD 1945).

Kalimat di atas paling sering dibaca setiap upacara di setiap instansi negara bahkan hampir semua anak bangsa sudah hafal dan lincah mengucapkannya.

Tidak boleh lupa bahwa dalam kalimat itu ada spirit tentang pentingnya merdeka, dan pada kalimat itu pula mengkristal makna filosofis tentang betapa kejamnya bentuk penjajahan di dunia ini, baik antar individu, kelompok, maupun golongan. baik secara langsung maupun tidak langsung. baik penjajahan itu secara ideologis maupun non ideologis. Itulah sebabnya gerakan penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan ruh kehidupan dan nilai-nilai asasi kemanusiaan.

Secara universal, Manusia pada dasarnya adalah mahluk merdeka, atau makhluk yang terbebas dari segala bentuk penindasan. Berupa apa pun penindasan itu. Manusia memiliki hak mutlak untuk menentukan gerak dan langkahnya sendiri untuk mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya secara otonom dalam kehidupan nyata.

Di ranah privat. Manusia memiliki hak strategis seperti menjaga harga diri, menjaga keluarga dari berbagai tindakan yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan.

Begitu pun dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kewajiban membela tanah air dari segela bentuk tindakan yang mengusik martabat dan kedaulatan tanah air wajib dilawan karena akan mengganggu harmonisasi serta stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara

Semangat itu bisa dilihat dari apa yang telah dilakukan oleh para pendiri dan proklamator republik ini. Mereka tampil gagah berani, dan rela mempertaruhkan nyawa dan harta benda demi merebut bumi pertiwi dari cengkeraman para penjajah tanpamempedulikan apa pun resikonya. Mereka berjuang melawan penjajah dengan kekuatan yang seadanya demi menjaga martabat dan kedaulatan tanah air ini agar terbebas dari tindakan penjajahan yang tidak manusiawi.

Baca Juga :  Sigap! 18 Poktan di Guluk-guluk Siap Rintis Ketersediaan Benih Padi Mandiri

Akibat dari perjuangan yang berdarah-darah itu betapa banyak para pejuang kemerdekaan berguguran di medan perang, mereka harus meninggalkan keluarga dan putra-putri tercinta untuk selamanya. bahkan kita mengetahuinya hanya yang tercatat dalam sejarah, belum yang tercatat tetapi kita yakin bahwa mereka adalah pejuang sejati sang pewaris mutlak kemerdekaan ini.

Jiwa juang yang dibangun mereka adalah bahwa tanah air Indonesia harus dijaga meski harus nyawa taruhannya. Itu dilakukan untuk mewariskan kehidupan hakiki pada generasi selanjutnya

Potensi kekayaan alam yang sangat melimpah di bumi pertiwi ini ingin diberikan kepada generasi berikutnya supaya dikelola dan didayagunakan untuk kebutuhan kehidupan dalam mencapai kemakmuran bersama sesama anak bangsa.

Tujuan kehidupan berbangsa adalah merajut semangat persatuan dan kesatuan yang berbasis keadilan, meski berasal dari suku agama dan bahasa yang berbeda-beda.

Perbedaan di negara yang besar ini sebuah keniscayaan faktual maka dalam menjalani kehidupan bersama harus dilandasi dengan semangat patriotik, nasionalisme dan toleransi yang tinggi.

Para pahlawan menegaskan komitmen perjuangannya dengan berani bahwa sejengkal tanah pun haram hukumnya bumi pertiwi dibiarkan apalagi hingga jatuh pada tangan kolonial yang tidak berkeadilan dan tak berperikemanusiaan

Ikhtiar ini cukup memberi isyarat keras bahwa memperjuangkan tanah air hukumnya wajib ain.

Maka dengan prinsip Hubbul Waton Minal Iman, bergeloralah semangat nasionalisme dan patriotisme untuk menumpas para durjna di tanah air ini karena mereka hanya menyebar virus yang menghancurkan dengan merusak kultur dan tatanan kehidupan sosial masyarakat pribumi.

Misalnya, sistem pendidikan yang diskriminatif dan kegiatan sosial yang destruktif. Maka puncak dari perjuangan berdarah itu adalah tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia menyatakan kemerdekannya.

Namun demikian, para founding fathers tetap mengakui kemerdekaan
yang dicapai adalah semata anugerah dan rahmat Allah SWT, sebagaimana tersirat pada alinea ke-3 pembukaan UUD 1945.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekannya.”_

Baca Juga :  Akibat Kelangkaan Gas LPG Belum Teratasi, PMII Jatim Kritik Manajemen Pertamina

Alinea ketiga secara tegas menyatakan bahwa tanpa rahmat dari Allah SWT mustahil Indonesia dapat meraih kemerdekaannya dan bebas dari bayang-bayang hegemoni imperialisme.

Kemerdekaan itu tidak dicapai semata hasil jerih payah perjuangan bangsa Indonesia tetapi juga atas kuasa TuhanYang Maha Kuasa.

Para pejuang sadar akan hal itu bahwa upaya perjuangan masif mereka tidak ada artinya tanpa ada intervensi kekuatan Yang Maha Kuasa. Maka menjadi keniscayaan bagi bangsa Indonesia untuk menyukuri nikmat besar kemerdekaan ini sebagai sarana membebaskan manusia dari borgol kebiadaban, ketidakmanusiaan, dan ketidakadilan.

Lantas bagaimana dengan refleksi kemerdekaan hari ini?
Sudah relevankah dengan  cita-cita yang diidealkan para pahlawan kemerdekaan?
Nikmat kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu kita seharusnya menjadi wahana refleksi total kebersamaan.

Dihari kemerdekaan yang ke 78 ini sejatinya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan produktif yang berorientasi pada pembangunan karakter moral generasi bangsa agar bisa memperkuat eksistensi NKRI dan juga dapat menumbuhkan mental patriotik nasionalisme yang nyata

Jika pahlawan dulu dalam merebut kemerdekaan harus menggunakan senjata fisik, maka pahlawan masa kini harus menggunakan senjata intelektual ilmu pengetahuan dan teknologi, karena penjajah di era disrupsi dewasa ini adalah penjajah yang bercorak ideologis.

Baca Juga :  Membumikan Pancasila dan Kaum Muda

Hal itu dapat terlihat mulai dari sistem pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, dan teknologi informasi digital yang hampir dirasuki paham-paham pemikiran yang sangat dangkal dan destruktif. Tantangan demi tantangan di era globalisasi ini lebih kompleks dan dahsyat.

Karena ancaman yang dihadapi tidak lagi berupa fisik tapi berbau ideologi pemikiran yang diselancar melalui sistem informasi digital, maka generasi muda harus punya daya kecakapan dan keterampilan yang memadai. mau tidak mau generasi muda sudah waktunya bertransformasi diri dengan merubah mindset. Yakni mindset yang terarah dan meneguhkan mental agar tidak gampang terjebak gaya hidup hidonis dan konsumeristik yang ujungnya bisa menyesatkan.

Di berbagai instansi pemerintahan dan pendidikan serentak dilaksanakan beragam tipe kegiatan menjelang 17 Agustus. Seperti pagelaran lomba yang sangat variatif. Mulai dari yang berupa kesenian, keagamaan, hingga kecakapan dan keterampilan. Selain daripada itu hampir di seluruh tanah air dipajang pusaka merah putih sebagai simbol pusaka kebangsaan dan momentum merefleksi kembali hari kemerdekaan yang digapai melalui pertumpahan darah dan pertaruhan nyawa.

Setidaknya pada momen kali ini masyarakat Indonesia bangga untuk merayakan guna membangkitkan jiwa kebangsaan dan spirit nasionalisme kebersamaan dan juga menjadi ajang renungan total apakah hari ini kita merdeka dalam arti yang sesungguhnya? Apakah sistem kehidupan kita sudah merdeka atau justru kita masih dalam krisis merdeka secara substansi?

Baca Juga :  Tiap Akhir Pekan, DKPP Sumenep Dirikan Stand Jual Bawang Merah Murah, Cek Harganya!

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hendaknya dimunculkan dan direfleksikan bersama di semua tempat penyelengaraan HUT RI agar momentum HUT RI yang ke 78 kali ini bisa menjadi ajang introspeksi kebangsaan untuk semua anak bangsa dan para pemangku kebijakan di seluruh tanah air untuk mengulik permasalahan bangsa yang masih belum terselesaikan dengan tuntas sehingga pada gilirannya pemerintah mampu menunaikan janji-janji kemerdekaan agar nikmat kemerdekaan bisa dirasakan semua anak bangsa.

Banyaknya kegagalan para pemegang kebijakan dalam menunaikan amanat konstitusi yang semangatnya untuk memerdekakan semua anak bangsa bisa segera dicarikan solusinya dan dilaksanakan secara konkret dan menukik pada titik-titik yang masih dirasa timpang.

Peringatan kemerdekaan yang diharapkan tidak hanya terjebak pada ajang selebrasi, seremonial yang penuh simbolik dan melankolik semata tanpa menggali dan mencari pemecahan masalah yang kongkret dan fundamental merespon atas persoalan yang ada. Selain itu, kita berharap pada momentum ini menjadi jembatan bagi seluruh panak bangsa untuk mencari ide ide baru guna menajamkan kesadaran bangsa dan para pemangku kebijakan dalam mencari  Problem solving kebangsaan.

Maka renungan bersama mulai dari rakyat kecil hingga para pemangku kebijakan akan melahirkan jalan yang dapat memerdekakan semua

Fakta yang sangat paradoksal hari ini adalah Selebrasi kemerdekaan diorkestrasi di mana-mana sementara banyak rakyat miskin menderita kelaparan karena masih terjajah ketidakadilan pemerintah, pengangguran makin merajalela, sulitnya mencari lapangan kerja, minimnya akses penyaluran potensi anak muda, kebijakan yang hanya berhenti di atas kertas atau kebijakan yang tidak berpihak pada kaum lemah, atau meski ada kebijakannya namun belum menyentuh seutuhnya pada sektor-sektor kongkret yang bisa menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Tentu tugas kita bersama untuk saling berkontribusi dan dan saling mengontrol antara pemerintah dan rakyat kecil agar gaungan kemerdekaan bagi masyarakat miskin bukan sekadar narasi fiksi atau dongeng belaka tapi kemerdekaan yang benar-benar melepaskan masyatakat dari jangkitan kemiskinan dan keterpurukan hidup yang tidak berujung.

Maka sebagai bangsa yang berjiwa optimis mari terus saling memperkuat semangat solidaritas untuk menjaga kedaulatan dan semangat untuk hidup makmur bersama mulai dari pelaku ekonomi, politik, kesehatan dan pendidikan

Begitu pun para pemangku kebijakan dan elit politik harus ikhtiar total membangun kesadaran bersama untuk menerjemahkan misi kemerdekaan secara nyata untuk mencapai kemakmuran bersama.

Elit politik dan masyararakat sipil harus bersatu padu menyatukan tekad untuk membangun negeri dan terus berkontribusi sesuai dengan potensinya masing masing untuk menunaikan janji kemerdekaan

Itulah refleksi yang harus dilakukan pada momentum kemerdekaan kali ini. Segenap masyarakat harus ikhtiar keras agar bisa menjawab problem ketidakadilan bangsa. Di negeri yang kaya raya ini haram hukumnya masih bergelimpangan orang miskin.

Visi reformatif kemerdekaan yang harus kita songsong ke depan adalah bahwa di negara yang kaya raya ini tidak boleh ada orang yang kelaparan dan menderita kemiskinan karena korban kebijakan yang tidak memerdekakan.

kasihan rakyat kecil yang hidup susah secara ekonomi. selama 78 tahun merdeka tapi tetap hidup dalam rantai kesengsaraan dan kemiskinan dan terpaan sederet persoalan lainnya yang tak terhitungkan. sehingga tak salah jika dikatakan bahwa yang merdeka di republik ini hanya segelintir elit atau kelompok orang saja terutama yang punya akses terhadap otoritas kekuasaan. sungguh ironis, tapi bagaimanapun kondisi rakyat kecil kita sangat yakin bahwa saat ini mereka tetap bergembira menyambut hari kemerdekaan dan berusaha mengibarkan pusaka merah putih kerena cinta NKRI.

Oleh sebab itu, negara harus hadir mencarikan solusi bagi mereka yang hidupnya masih timpang.

Misi kemerdekasan harus menjadi batu loncatan bangsa merajut kehidupan ideal bersama. Jika gagal mewujudkan misi itu. Maka visi Hut RI ke-78 hanya akan menjadi selebrasi dramatik yang hanya menghadirkan hiburan semata bagi bangsa

Selanjutnya, untuk menanamkan jiwa nasionalisme bagi generasi muda sejatinya di berbagai jenjang sekolah anak didik hendaknya dijamu dengan simbol-simbol kemerdekaan dan dikenalkan pula pada sosok pahlawan dengan kemuliaaan cita-citanya, penjelasan tentang upaya mereka memerdekakan negeri ini tak berharap pamrih penting di sampaikan terhadap anak didik.

Baca Juga :  Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi di Eksekusi Penjara 12 Tahun Karena Ini

Begitu pula diajak berpikir kritis tentang mengapa negeri ini harus merdeka, langkah ini penting diajarkan terhadap mereka supaya anak bangsa di masa depan mempunyai jiwa yang tulus dalam membela tanah air .

Cita cita para pahlawan memerdekakan negeri ini sangat bersih dari tujuan politik duniawi yang sifatnya pragmatis. Mereka bersatu demi membela tanah air sebagai tanggung jawab agama dan iktikad moralitas kebersamaan. maka dengan
formula kegiatan kemerdekaan yang berorientasi pada pengenalan peserta didik pada hal-hal yang substansi hasilnya akan membentuk mereka mampu berpikir kritis berjiwa nasionalisme dan menjadi generasi masa depan yang tangguh.

Oleh karena itu transformasi nilai-nilai kemerdekaan di sekolah akan memudahkan peserta didik menerjemahkan pada kehidupan konkret sehari-hari.

Sebagaimana adagium,“The young today is the leader tomorrow.”

_Penulis : adalah pemuda asal Desa Juruan Daya. kini sedang berkonsentrasi di sektor usaha kelontong di Tangerang Banten. 

Loading

Berita Terkait

Ribuan Penonton Padati Kegiatan Pentas Seni di Lughatul Islamiyah, Berikut Kemeriahannya
Bioskop Ipar Adalah Maut Tayang di Sumenep, Mau? Segera Pesan Ticket disini
SKK Migas Tetapkan Standarisasi Pengukuran CO2 Pada Program CCS/CCUS
Dispendukcapil Sumenep Maksimalkan Penerapan IKD, Ini Manfaat dan Keunggulannya
Geger! Warga Sumenep Temukan Bayi Terbungkus Kantong Plastik Merah
PPK Kecamatan Rubaru Loloskan Anggota PPS terdaftar Partai Politik
Film Menarik Tanah Air Berjudul Ipar Adalah Maut Mengunggah Keseruan, Ini Cara Nontonnya
Bappeda Sumenep Mulai Sinkronisasi RKPD dengan KEM-PPKF 2025, Ini Tujuannya

Berita Terkait

Jumat, 21 Juni 2024 - 20:53 WIB

Ribuan Penonton Padati Kegiatan Pentas Seni di Lughatul Islamiyah, Berikut Kemeriahannya

Kamis, 20 Juni 2024 - 20:00 WIB

Bioskop Ipar Adalah Maut Tayang di Sumenep, Mau? Segera Pesan Ticket disini

Rabu, 19 Juni 2024 - 20:49 WIB

SKK Migas Tetapkan Standarisasi Pengukuran CO2 Pada Program CCS/CCUS

Rabu, 19 Juni 2024 - 16:54 WIB

Dispendukcapil Sumenep Maksimalkan Penerapan IKD, Ini Manfaat dan Keunggulannya

Sabtu, 15 Juni 2024 - 18:59 WIB

PPK Kecamatan Rubaru Loloskan Anggota PPS terdaftar Partai Politik

Jumat, 14 Juni 2024 - 16:41 WIB

Film Menarik Tanah Air Berjudul Ipar Adalah Maut Mengunggah Keseruan, Ini Cara Nontonnya

Rabu, 12 Juni 2024 - 11:42 WIB

Bappeda Sumenep Mulai Sinkronisasi RKPD dengan KEM-PPKF 2025, Ini Tujuannya

Selasa, 11 Juni 2024 - 21:38 WIB

Pasca dilantik, FPR Sumenep Warning Kades Raas Agar Tidak Main-Main Dalam Mengelola Dana Desa

Berita Terbaru