Bantuan BI Rp80 Triliun? Jerry Massie: Itu Hanya Angin Politik

Senin, 22 September 2025 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie.

Foto. Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie.

JAKARTA, nusainsider.com — Pernyataan Menteri Perumahan dan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait serta Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari terkait klaim Bank Indonesia (BI) memberikan “Bantuan” Rp80 triliun untuk sektor perumahan menuai kritik tajam.

Klaim tersebut awalnya terdengar meyakinkan, seolah-olah BI benar-benar mengucurkan dana tunai jumbo untuk mendanai program pembangunan tiga juta rumah.

Namun, Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menyebut klaim itu salah kaprah dan berpotensi menyesatkan publik.

Menurut Jerry, apa yang sebenarnya dilakukan BI bukanlah pemberian dana tunai, melainkan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) bank umum hingga 5%.

Kebijakan ini menambah ruang likuiditas perbankan, yang nilainya diperkirakan setara dengan Rp80 triliun.

“Likuiditas itu bukan uang tunai yang langsung disalurkan untuk perumahan, dan penggunaannya pun tidak spesifik hanya untuk sektor tersebut,” jelas Jerry.

Bank, lanjutnya, tetap memiliki keleluasaan menyalurkan dana sesuai pertimbangan risiko dan kebutuhan masing-masing. Karena itu, menyebut kebijakan tersebut sebagai bantuan perumahan senilai Rp80 triliun, menurut Jerry, adalah “Plesetan Teknis Yang Menyesatkan.”

Kritik untuk Qodari: Campur Aduk Moneter dan Fiskal

Tak hanya menyoal klaim Maruarar, Jerry juga menyoroti pernyataan Muhammad Qodari. Ia menilai analisis Qodari justru menambah kebingungan publik karena mencampuradukkan kebijakan moneter dengan fiskal.

“GWM adalah instrumen moneter, domain penuh BI, bukan usulan politisi atau menteri,” tegas Jerry.

Ia menambahkan, keputusan menaikkan atau menurunkan GWM selalu didasarkan pada analisis stabilitas keuangan dan inflasi.

Baca Juga :  Polwan Polres Sumenep Tebar Kepedulian di Hari Jadi ke-77

Sedangkan penempatan dana pemerintah di bank Himbara adalah kebijakan fiskal yang sepenuhnya berada di bawah kendali Kementerian Keuangan.

“Menyamakan keduanya itu seperti menyamakan cabai rawit dengan bawang merah. Sama-sama di dapur, tapi fungsinya beda total,” sindir Jerry.

Menurutnya, pencampuran otoritas moneter dan fiskal oleh figur publik bisa berdampak serius terhadap kredibilitas kebijakan. Investor maupun pelaku pasar dapat meragukan independensi BI bila dianggap terlalu terpengaruh kepentingan politik.

Baca Juga :  Presiden Prabowo dan LaNyalla Kompak Tolak Demokrasi Liberal

Risiko Gagalnya Target Perumahan

Di balik kritiknya, Jerry menegaskan ada persoalan serius yang luput dari perhatian. Kesalahpahaman publik soal adanya “Dana Bantuan Khusus” berpotensi memunculkan ekspektasi tidak realistis.

“Kalau masyarakat percaya ada dana Rp80 triliun khusus untuk perumahan, mereka bisa berharap lebih, padahal realitanya tidak seperti itu,” ujar Jerry.

Ia menekankan, keberhasilan program tiga juta rumah tidak hanya bergantung pada pelonggaran GWM.

Baca Juga :  Bakal Gelar Rakernas Dan Bimtek Di Bandung, Hanura Upgrade Kader Legislatif Daerah

Masalah mendasar justru terletak pada ketersediaan lahan murah, efisiensi biaya pembangunan, dan skema pembiayaan yang benar-benar terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

“Tanpa solusi nyata di sektor hulu, klaim bantuan Rp80 triliun hanya akan menjadi jargon politik belaka,” kata Jerry.

Ia mengingatkan, janji besar Presiden Prabowo terkait perumahan rakyat harus diimbangi kebijakan yang realistis dan implementatif. Jika tidak, kegagalan program ini akan berdampak langsung pada tingkat kepercayaan publik.

“Keberhasilan atau kegagalan program yang menyangkut hajat hidup jutaan rakyat bisa memicu reaksi publik yang sangat tajam,” pungkas Jerry.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Forum Konfercab PMII Surabaya Memanas, Dugaan Pemukulan Kader Unair Mencuat
Dugaan Kamar Gratis untuk Konstituen Bikin Geger, LBH Desak Kesetaraan Pelayanan
Dari Sengketa Tanah Jemur Wonosari, Ning Lia Dorong Penguatan Perlindungan Hukum Warga
Dulu Mengkritik, Kini Berada di Dalam: Ketika Idealisme Diuji Kekuasaan
Hampir Lima Tahun Diburu, Terduga Pelaku Pembunuhan Akhirnya Masuk Jerat Polisi
Sumenep dalam Gemerlap Dunia Hiburan yang Tidak Sehat, Perlahan akan Terbongkar!
Berbekal Rekaman CCTV, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Kekerasan Seksual di Sumenep
Ning Lia Dikerumuni Santri Al-Fatimah, Suasana Harlah ke-20 Mendadak Gayeng

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:52 WIB

Forum Konfercab PMII Surabaya Memanas, Dugaan Pemukulan Kader Unair Mencuat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 08:32 WIB

Dugaan Kamar Gratis untuk Konstituen Bikin Geger, LBH Desak Kesetaraan Pelayanan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 06:59 WIB

Dari Sengketa Tanah Jemur Wonosari, Ning Lia Dorong Penguatan Perlindungan Hukum Warga

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Dulu Mengkritik, Kini Berada di Dalam: Ketika Idealisme Diuji Kekuasaan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Hampir Lima Tahun Diburu, Terduga Pelaku Pembunuhan Akhirnya Masuk Jerat Polisi

Senin, 21 September 2026 - 14:47 WIB

Sumenep dalam Gemerlap Dunia Hiburan yang Tidak Sehat, Perlahan akan Terbongkar!

Jumat, 18 September 2026 - 08:44 WIB

Berbekal Rekaman CCTV, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Kekerasan Seksual di Sumenep

Kamis, 17 September 2026 - 10:35 WIB

Ning Lia Dikerumuni Santri Al-Fatimah, Suasana Harlah ke-20 Mendadak Gayeng

Berita Terbaru