Gempa Beruntun Guncang Jatim, Tragedi Ponpes Sidoarjo Tenggelam di Balik Isu

Kamis, 2 Oktober 2025 - 19:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Ilustrasi Getaran Gempa dan Robohnya Bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo

Foto. Ilustrasi Getaran Gempa dan Robohnya Bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo

JAWA TIMUR, nusainsider.com Rangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Jawa Timur sejak akhir September 2025 menimbulkan keprihatinan mendalam. Bencana ini tidak hanya berdampak pada rusaknya rumah-rumah warga, tetapi juga menyingkap tragedi kemanusiaan di Sidoarjo yang masih membutuhkan perhatian serius.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa pertama terjadi pada 25 September 2025 di Kabupaten Banyuwangi dengan magnitudo 5,3. Titik koordinat berada pada 7,87° LS dan 114,45° BT, tepatnya di laut sekitar 40 kilometer timur laut Banyuwangi, dengan kedalaman 12 kilometer.

Selang beberapa hari, gempa lebih besar mengguncang ujung timur Pulau Madura. Pada 30 September 2025 pukul 23.49 WIB, Kota Sumenep diguncang gempa dengan magnitudo 6,5. Getarannya dirasakan hingga berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.

Hanya dalam 40 menit, yakni pada 1 Oktober 2025 pukul 00.29 WIB, tercatat empat gempa susulan dengan magnitudo terbesar 4,4.

Baca Juga :  Daftarkan 144 Aset Inovasi, Brida Sumenep Siap Kembangkan Ekosistem Riset dan Teknologi Daerah

Tak berhenti di situ, di hari yang sama pada pukul 04.50 WIB, gempa kembali terjadi di Kabupaten Situbondo dengan magnitudo 2,6. Pusat gempa berada di 54 kilometer timur laut Situbondo, tepatnya di 7,92° LS dan 114,25° BT.

Di tengah kepanikan akibat gempa beruntun ini, publik sempat melupakan isu lain yang tak kalah krusial. Beberapa hari sebelumnya, pondok pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, roboh akibat runtuhan bangunan.

Peristiwa itu sempat viral di media sosial, terutama di media Nasional dan Lokal serta TikTok bahkan Twitter, namun kemudian tenggelam oleh maraknya pemberitaan soal gempa.

Padahal, tragedi tersebut masih menyisakan derita mendalam. Para santri, yang seharusnya belajar dan menimba ilmu agama, justru terjebak di balik reruntuhan bangunan. Jeritan minta tolong terdengar dari puing-puing, menandai betapa berat perjuangan mereka di tengah situasi darurat.

Baca Juga :  Cegah Banjir dan Penyakit, DLH Sumenep Bersihkan TPS Liar di Lingkar Timur

Kasubdit Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) Basarnas, Emi Freezer, mengungkapkan bahwa gempa yang terjadi di Sumenep memperparah kondisi reruntuhan di Sidoarjo.

“Dari A1, titik runtuhan di bagian depan dekat pintu masuk, terjadi penurunan posisi beban. Awalnya sekitar 15 cm di lokasi korban terjebak, sekarang sudah turun menjadi 10 cm,” ujarnya, dikutip dari detikJatim, Rabu (1/10/2025).

Menurutnya, penurunan beban tersebut membuat impitan terhadap tubuh korban semakin kuat.

“Kalau kompresi semakin turun, maka tekanan pada tubuh korban semakin besar,” jelasnya.

Freezer menambahkan, sebelum gempa susulan, korban yang terjebak masih bisa menggerakkan kepala dan tangan. Namun, setelah getaran dirasakan di Sidoarjo, kondisi korban diduga semakin memburuk.

“Setelah gempa, korban sudah tidak bisa bergerak lagi. Artinya, kompresi semakin mendekat. Saat tim mencoba menarik tubuh korban, stuck terjadi di bagian panggul karena posisi kaki tertekuk,” tambahnya.

Tentunya, Tragedi ini membuka mata publik bahwa musibah gempa bukan hanya soal bangunan retak atau rumah roboh di kepulauan. Lebih jauh, getarannya menimbulkan efek lanjutan yang memperburuk kondisi di titik bencana lain, seperti yang dialami Ponpes Al-Khoziny.

Baca Juga :  Astaga! Kepala Puskesmas Akui Takut Dicap Jahat, Pungli di Lahan Negara Bisa Berakhir di Jeruji Besi

Masyarakat berharap pemerintah segera bertindak cepat, tidak hanya fokus pada kerusakan material akibat gempa, tetapi juga menyelamatkan nyawa para korban reruntuhan di Sidoarjo.

Pesantren, sebagai pusat pendidikan agama, tidak seharusnya menjadi kuburan bagi anak-anak bangsa yang tengah mencari ilmu.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU Diduga Picu Blackout, CERI Minta Penyidikan Diperluas
DPR RI Beri Dukungan Penuh, Polri Diminta Tuntaskan Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU
PT ESM Siap Luncurkan King Djava Reguler, Bidik Filipina hingga Australia
PT Garam Diduga Bongkar Tambak Produktif Tanpa Musyawarah, P4GI Desak Kades dan Manajemen Bertindak
Komitmen Bangun SDM Kepulauan, Medco Energi Gelar Pelatihan Deep Learning untuk Guru Sumenep
Yuddy Chrisnandi Apresiasi Diplomasi Prabowo: Jakarta Tak Lagi Sekadar Tamu, Kini Jadi Tuan Rumah Dunia
FGD “NgomBe” Bahas Masa Depan MBG di Sumenep, Pemkab Dorong Evaluasi Menyeluruh
Yang Paling Sakit Bukan Kepergian, Melainkan Kebenaran yang Tak Pernah Terucapkan

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 18:26 WIB

Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU Diduga Picu Blackout, CERI Minta Penyidikan Diperluas

Kamis, 9 Juli 2026 - 18:23 WIB

DPR RI Beri Dukungan Penuh, Polri Diminta Tuntaskan Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:32 WIB

PT ESM Siap Luncurkan King Djava Reguler, Bidik Filipina hingga Australia

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:34 WIB

PT Garam Diduga Bongkar Tambak Produktif Tanpa Musyawarah, P4GI Desak Kades dan Manajemen Bertindak

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:32 WIB

Komitmen Bangun SDM Kepulauan, Medco Energi Gelar Pelatihan Deep Learning untuk Guru Sumenep

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:59 WIB

FGD “NgomBe” Bahas Masa Depan MBG di Sumenep, Pemkab Dorong Evaluasi Menyeluruh

Rabu, 8 Juli 2026 - 22:55 WIB

Yang Paling Sakit Bukan Kepergian, Melainkan Kebenaran yang Tak Pernah Terucapkan

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:34 WIB

Pesantren Al-Islamiyah Gandeng Yonif TP 931/KJ Bentuk Santri Tangguh Lewat Kemah HIMMAH ke-51

Berita Terbaru