JAWA TIMUR, nusainsider.com — Rangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Jawa Timur sejak akhir September 2025 menimbulkan keprihatinan mendalam. Bencana ini tidak hanya berdampak pada rusaknya rumah-rumah warga, tetapi juga menyingkap tragedi kemanusiaan di Sidoarjo yang masih membutuhkan perhatian serius.
Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa pertama terjadi pada 25 September 2025 di Kabupaten Banyuwangi dengan magnitudo 5,3. Titik koordinat berada pada 7,87° LS dan 114,45° BT, tepatnya di laut sekitar 40 kilometer timur laut Banyuwangi, dengan kedalaman 12 kilometer.
Selang beberapa hari, gempa lebih besar mengguncang ujung timur Pulau Madura. Pada 30 September 2025 pukul 23.49 WIB, Kota Sumenep diguncang gempa dengan magnitudo 6,5. Getarannya dirasakan hingga berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.
Hanya dalam 40 menit, yakni pada 1 Oktober 2025 pukul 00.29 WIB, tercatat empat gempa susulan dengan magnitudo terbesar 4,4.
Tak berhenti di situ, di hari yang sama pada pukul 04.50 WIB, gempa kembali terjadi di Kabupaten Situbondo dengan magnitudo 2,6. Pusat gempa berada di 54 kilometer timur laut Situbondo, tepatnya di 7,92° LS dan 114,25° BT.
Di tengah kepanikan akibat gempa beruntun ini, publik sempat melupakan isu lain yang tak kalah krusial. Beberapa hari sebelumnya, pondok pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, roboh akibat runtuhan bangunan.
Peristiwa itu sempat viral di media sosial, terutama di media Nasional dan Lokal serta TikTok bahkan Twitter, namun kemudian tenggelam oleh maraknya pemberitaan soal gempa.
Padahal, tragedi tersebut masih menyisakan derita mendalam. Para santri, yang seharusnya belajar dan menimba ilmu agama, justru terjebak di balik reruntuhan bangunan. Jeritan minta tolong terdengar dari puing-puing, menandai betapa berat perjuangan mereka di tengah situasi darurat.
Kasubdit Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) Basarnas, Emi Freezer, mengungkapkan bahwa gempa yang terjadi di Sumenep memperparah kondisi reruntuhan di Sidoarjo.
“Dari A1, titik runtuhan di bagian depan dekat pintu masuk, terjadi penurunan posisi beban. Awalnya sekitar 15 cm di lokasi korban terjebak, sekarang sudah turun menjadi 10 cm,” ujarnya, dikutip dari detikJatim, Rabu (1/10/2025).
Menurutnya, penurunan beban tersebut membuat impitan terhadap tubuh korban semakin kuat.
“Kalau kompresi semakin turun, maka tekanan pada tubuh korban semakin besar,” jelasnya.
Freezer menambahkan, sebelum gempa susulan, korban yang terjebak masih bisa menggerakkan kepala dan tangan. Namun, setelah getaran dirasakan di Sidoarjo, kondisi korban diduga semakin memburuk.
“Setelah gempa, korban sudah tidak bisa bergerak lagi. Artinya, kompresi semakin mendekat. Saat tim mencoba menarik tubuh korban, stuck terjadi di bagian panggul karena posisi kaki tertekuk,” tambahnya.
Tentunya, Tragedi ini membuka mata publik bahwa musibah gempa bukan hanya soal bangunan retak atau rumah roboh di kepulauan. Lebih jauh, getarannya menimbulkan efek lanjutan yang memperburuk kondisi di titik bencana lain, seperti yang dialami Ponpes Al-Khoziny.
Masyarakat berharap pemerintah segera bertindak cepat, tidak hanya fokus pada kerusakan material akibat gempa, tetapi juga menyelamatkan nyawa para korban reruntuhan di Sidoarjo.
Pesantren, sebagai pusat pendidikan agama, tidak seharusnya menjadi kuburan bagi anak-anak bangsa yang tengah mencari ilmu.
![]()
Penulis : Wafa
















