PHK Ratusan Buruh Plywood Jelang Lebaran, Ning Lia Desak Industri Siapkan Mitigasi Risiko

Rabu, 11 Maret 2026 - 00:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. PHK Massaj di Jombang Jawa Timur mendapat Desakan dari DPD RI Ning Lia

Foto. PHK Massaj di Jombang Jawa Timur mendapat Desakan dari DPD RI Ning Lia

JOMBANG, nusainsider.com Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali terjadi di sektor industri. Kali ini, ratusan buruh di salah satu pabrik plywood di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, terdampak PHK menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, yang menilai tekanan pasar global menjadi salah satu penyebab utama melemahnya industri kayu nasional.

Menurut Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, meningkatnya kasus PHK di sejumlah sektor industri menunjukkan adanya kerentanan struktural pada industri yang sangat bergantung pada pasar ekspor.

Ia menilai fenomena ini perlu menjadi perhatian serius berbagai pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha.

“Kasus PHK massal menjelang Lebaran ini tentu memprihatinkan. Kita perlu melihat secara lebih luas mengapa belakangan ini semakin banyak perusahaan mengalami kesulitan hingga berujung pada pengurangan tenaga kerja,” ujar Ning Lia.

Politisi yang dikenal aktif menyuarakan isu sosial tersebut menilai kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global yang tengah melemah, terutama pada sektor konstruksi dan properti di negara-negara tujuan ekspor produk kayu Indonesia.

Secara ekonomi, industri kayu Indonesia, khususnya produk kayu lapis (plywood) dan furnitur, tengah menghadapi tekanan akibat menurunnya permintaan global. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tarif impor yang tinggi di Amerika Serikat hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor.

Baca Juga :  DKPP Sumenep Ucapkan Hari Pers Nasional 2026

Pasar utama ekspor produk kayu Indonesia seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan dilaporkan mengalami penurunan permintaan. Penurunan ini dipengaruhi oleh melambatnya sektor konstruksi dan properti di negara-negara tersebut.

Selain itu, harga komoditas kayu di pasar global juga mengalami tekanan. Pada akhir 2025 lalu, futures kayu jati tercatat turun mendekati USD 530 per ribu kaki papan atau sekitar 10 persen dari puncaknya pada awal Januari 2026.

Penurunan tersebut dipicu oleh kondisi kelebihan pasokan di pasar internasional serta lemahnya permintaan sektor perumahan.

Di Amerika Serikat, misalnya, pembangunan rumah baru dan izin bangunan masih berada di bawah level tahun sebelumnya. Tingginya suku bunga kredit perumahan membuat aktivitas konstruksi belum sepenuhnya pulih sehingga berdampak pada menurunnya konsumsi produk kayu.

“Dengan permintaan perumahan yang masih lemah dan tingkat suku bunga yang relatif tinggi, ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan membuat harga kayu global terus tertekan,” jelas Ning Lia, yang juga dikenal sebagai keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Selain faktor pasar, industri kayu juga menghadapi tantangan lain yang berkaitan dengan kepercayaan pasar internasional. Salah satunya terkait isu legalitas kayu dan keberlanjutan rantai pasok.

Baca Juga :  Bappeda Sumenep: Program SIMPUL Jawaban Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Data

Ning Lia mengungkapkan bahwa ia sempat menganalisis adanya upaya deregulasi yang berpotensi melemahkan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Padahal sistem tersebut sangat penting untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan pasar internasional terhadap produk kayu Indonesia.

“Saya sempat melihat adanya upaya deregulasi yang berpotensi melemahkan SVLK. Padahal sistem ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan pasar internasional terhadap produk kayu Indonesia,” ujarnya.

Di tengah tekanan bisnis global tersebut, Ning Lia menilai perusahaan tetap harus memiliki strategi mitigasi risiko yang matang, terutama dalam melindungi pekerja ketika industri menghadapi tekanan ekonomi.

Menurutnya, perusahaan seharusnya menyiapkan cadangan keuangan, asuransi bisnis, maupun skema perlindungan tenaga kerja sehingga dampak krisis tidak sepenuhnya dibebankan kepada pekerja.

“Ketika sebuah bisnis menghadapi tekanan signifikan, perusahaan harus tetap mempersiapkan perlindungan bagi pekerja, termasuk pesangon dan skema perlindungan lainnya,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sektor industri berbasis ekspor agar industri dalam negeri memiliki ketahanan yang lebih kuat menghadapi dinamika ekonomi global.

Baca Juga :  Kelangkaan Terjawab, Lia Apresiasi Langkah Khofifah Benahi Distribusi LPG

Berdasarkan informasi yang dihimpun, PHK di pabrik plywood Jombang terjadi dalam dua gelombang. Pada gelombang kedua, sekitar 170 pekerja diperkirakan akan diberhentikan.

Sebelumnya, hampir 160 pekerja telah lebih dulu terkena PHK pada gelombang pertama. Dengan demikian, total pekerja yang terdampak mencapai lebih dari 300 orang.
Ketua Serikat Buruh Plywood Jombang (SBPJ), Hadi Purnomo, mengatakan proses PHK gelombang kedua mulai berjalan dalam beberapa hari terakhir.

Meski perusahaan tetap memberikan tunjangan hari raya (THR), para pekerja kini menyoroti persoalan pesangon. Perusahaan disebut menawarkan pesangon sebesar 0,5 kali ketentuan normatif dengan skema pembayaran secara bertahap hingga 10 bulan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jombang, Isawan Nanang Risdiyanto, mengaku pihaknya belum menerima laporan resmi terkait PHK massal tersebut.

“Persoalan ketenagakerjaan harus diselesaikan melalui mekanisme hubungan industrial, dimulai dari perundingan bipartit antara pekerja dan perusahaan sebelum dilanjutkan ke tahap mediasi,” katanya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU
Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat
KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa
PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah
Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern
Membeli Sama dengan Berbagi, Central 88 Gold and Jewellery Dedikasikan Hasil Usaha untuk Yatim
Ning Lia Dinilai Inspiratif, Raih Penghargaan Leadership dan Community Empowerment
JJS Gayam Pecah! Ribuan Warga Padati Jalan, Doorprize Jadi Magnet

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 02:42 WIB

NU Education Summit Sumenep 2026 Jadi Momentum Transformasi Pendidikan NU

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:18 WIB

Rutin Tiap Bulan ke Madura, Ning Lia Tunjukkan Wajah Senator yang Dekat dengan Rakyat

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:39 WIB

KPM STITA dan PKK Bersinergi, Temulawak Beluk Raja Diolah Jadi Produk Unggulan Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 - 09:29 WIB

PBB Sumenep Bakal Full Digital 2027, Bapenda: Pembayaran Langsung Masuk Kas Daerah

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:22 WIB

Ning Lia Dinilai Inspiratif, Raih Penghargaan Leadership dan Community Empowerment

Minggu, 23 Agustus 2026 - 06:52 WIB

JJS Gayam Pecah! Ribuan Warga Padati Jalan, Doorprize Jadi Magnet

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 23:32 WIB

Eduwisata ke Markas TNI, Siswa SLBN Bugih Dapat Pengalaman Belajar Penuh Makna

Berita Terbaru