SUMENEP, nusainsider.com — Bumi Madura seakan terguncang hebat setelah sosok pengusaha sukses yang dikenal peduli terhadap sektor sosial, pendidikan, ekonomi, dan petani, H. Khoirul Umam atau yang akrab disapa Haji HER, dipanggil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan kasus suap di lingkungan Bea dan Cukai.
Namun di tengah isu hukum yang mencuat, realitas di lapangan justru menunjukkan arah berlawanan. Gelombang dukungan terhadap Haji HER terus menguat dari berbagai penjuru Madura.
Mulai dari kalangan petani, ulama, hingga masyarakat akar rumput, kompak berdiri dalam satu barisan, menguatkan sosok yang kini dijuluki sebagai “Nafas Madura” sekaligus harapan kebangkitan ekonomi rakyat.
Di tengah tekanan ekonomi yang masih membelit sebagian masyarakat, Haji HER dinilai hadir membawa gagasan konkret dan berdampak luas. Komitmennya sederhana namun menyentuh kebutuhan mendasar rakyat: memastikan tidak ada anak putus sekolah, tidak ada rumah tidak layak huni, serta roda ekonomi masyarakat tetap berputar.
“Tujuan saya adalah melihat Madura sejahtera. Anak-anak bisa sekolah, rumah warga layak huni, dan ekonomi masyarakat berjalan,” tegasnya di hadapan ulama, pengusaha, dan petani.
Perjalanan perjuangan itu tidak instan. Sejak 2022, Haji HER mengaku mendapat panggilan moral dari kalangan pesantren. Saat itu, petani tembakau di Madura berada dalam ketidakpastian harga lebih sering merugi daripada untung. Kondisi tersebut berdampak langsung pada keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka.
Menjawab persoalan tersebut, Haji HER bersama jaringan ulama dan pengusaha merancang langkah strategis: membeli langsung hasil panen tembakau petani guna menjaga stabilitas harga.
Sebanyak 330 pondok pesantren dilibatkan dalam gerakan tersebut, dengan kontribusi modal yang bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah.
Hasilnya tak bisa dipandang sebelah mata. Dari pembelian awal sekitar 60 ton tembakau, kini perputaran dana program tersebut mencapai Rp 4,133 miliar. Dana itu kemudian dialokasikan kembali untuk mendukung pendidikan, pembangunan rumah layak huni, serta penguatan ekonomi lokal.
“Ini bukan uang curian. Ini murni dari kiai, pesantren, dan pengusaha. Bahkan saya pernah meminjam bank demi membantu petani,” ungkapnya.
Dampak nyata mulai dirasakan masyarakat. Dalam empat tahun terakhir, ribuan keluarga petani disebut mampu menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, hingga merintis usaha kecil. Aktivitas ekonomi lokal pun kembali hidup dari pedagang kaki lima hingga industri rumahan.
Kini, dukungan terhadap Haji HER semakin meluas. Dari Sumenep, Pamekasan, Sampang hingga Bangkalan, suara rakyat bergema dalam nada yang sama. Bahkan, ribuan petani dikabarkan siap menyambut kepulangannya dari Jakarta dalam waktu dekat.
“Hari ini ribuan petani siap menyambut kedatangan Haji HER,” ujar salah satu koordinator petani di Sumenep.
Dukungan ini kian menguat setelah Haji HER memenuhi panggilan KPK untuk memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan tidak mengenal pihak-pihak yang disebut dalam perkara tersebut dan hadir secara terbuka tanpa upaya menghindar.
“Saya jawab apa adanya. Orang Madura itu tidak berbelit-belit,” katanya.
Ia juga membantah tudingan mangkir, dengan menjelaskan bahwa keterlambatan semata karena kendala teknis penerimaan surat.
Bahkan, ia menegaskan datang atas inisiatif sendiri demi memperjelas persoalan.
Redaksi menilai, dinamika yang terjadi saat ini tidak hanya soal proses hukum, tetapi juga tentang bagaimana kepercayaan publik terbentuk dari rekam jejak nyata di tengah masyarakat. Di satu sisi, proses hukum harus dihormati dan dijalankan secara transparan.
Namun di sisi lain, kontribusi sosial dan ekonomi yang telah dirasakan langsung oleh masyarakat juga menjadi fakta yang tidak bisa diabaikan.
Bagi sebagian besar warga Madura, Haji HER bukan sekadar pengusaha. Ia telah menjelma menjadi simbol gerakan ekonomi kerakyatan yang berpadu dengan kekuatan pesantren dan solidaritas sosial.
Kini, satu hal menjadi terang: ketika petani, ulama, dan masyarakat bersatu, lahirlah kekuatan besar yang tidak mudah digoyahkan.
Di tengah ujian yang dihadapi, Haji HER tetap berdiri sebagai “Nafas Madura” yang menghidupkan harapan akan masa depan yang lebih sejahtera.
![]()
Penulis : Wafa
















