Perundungan dan Resistensi Santri Jadi Sorotan dalam Pengukuhan Guru Besar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 16:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAMEKASAN, nusainsider.com Perundungan dan resistensi dalam dunia pesantren menjadi sorotan utama dalam orasi ilmiah Achmad Muhlis saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam di Aula UIN Madura, Sabtu (2/5/2026).

Dalam paparannya, Direktur Utama Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) tersebut mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sekitar 40 persen santri pernah terlibat dalam praktik perundungan.

Ia menjelaskan, fenomena ini sejalan dengan tren nasional yang menunjukkan peningkatan kasus dari tahun ke tahun.

Pada 2023 tercatat sekitar 3.800 kasus perundungan, menurun menjadi 2.057 kasus pada 2024, namun kembali meningkat pada 2025 menjadi sekitar 3.520 kasus.

Dari jumlah tersebut, 55,5 persen merupakan kekerasan fisik dan 25 kasus berujung kematian. Sementara pada awal 2026, tercatat 258 kasus dengan 10 di antaranya berujung fatal.

“Perundungan di dunia pendidikan menunjukkan tren meningkat signifikan,” tegasnya.

Mengacu pada pemikiran Dan Olweus, Achmad Muhlis menjelaskan bahwa perundungan merupakan perilaku agresif yang disengaja, dilakukan berulang, serta melibatkan ketimpangan kekuasaan.

Baca Juga :  Kolaborasi Lintas Sektor, KUA dan Puskesmas Batang Batang Perkuat Layanan Mental Berbasis Spiritual

Bentuknya bisa berupa tindakan menyakiti, merendahkan, mengejek, hingga mengucilkan, baik secara verbal maupun nonverbal.

Sementara itu, konsep resistensi dijelaskan dengan merujuk pada pemikiran James C. Scott dan Michel Foucault sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur dominasi, baik secara terbuka maupun terselubung, melalui kritik sosial, protes, satire, hingga gerakan sosial.

Ia juga membedakan istilah roasting dan kacoan. Mengutip Rod A. Martin dan Salvatore Attardo, roasting merupakan ejekan dalam balutan humor yang biasanya disepakati dalam konteks hiburan.

Baca Juga :  Pesta Rakyat Simpedes 2024, BRI Sumenep Sediakan Satu Unit Mobil New Ertiga Mewah

Sementara kacoan, menurut Erving Goffman dan Pierre Bourdieu, adalah guyonan spontan yang bisa menjadi medium keakraban, namun juga berpotensi menjadi bentuk dominasi simbolik jika melampaui batas.

“Roasting bisa menjadi perundungan jika tanpa persetujuan. Kacoan dapat menjadi perundungan terselubung jika terus merendahkan. Bahkan resistensi pun bisa berubah menjadi perundungan jika menyerang pribadi dan kehilangan basis isu,” jelasnya.

Dalam orasinya, Achmad Muhlis menegaskan bahwa pesantren merupakan sistem sosial yang hidup (living institution), yang terus berdialektika dengan perubahan zaman. Pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pembentukan moral, budaya, dan spiritual masyarakat.

Ia menawarkan model pendidikan pesantren yang mengintegrasikan akselerasi pembelajaran kitab kuning dengan tradisi sorogan dan bandongan, serta memadukan modernitas dengan spiritualitas tanpa kehilangan ruh keislaman.

Baca Juga :  Yuk Hadir Besok! Cita Rasa Otentik Rokok Madura Siap Menyapa Pengunjung di Festival Tembakau 2025

Lebih jauh, ia menguraikan bahwa hegemoni dalam pesantren bersifat transformasional, bukan represif. Nilai-nilai ditanamkan melalui kesadaran, bukan paksaan, sehingga membentuk kemampuan pengendalian diri (self-regulation), empati sosial, serta solidaritas kolektif di kalangan santri.

Menurutnya, pesantren bukan institusi tanpa masalah, melainkan ruang yang mampu mengolah problem sosial menjadi pembelajaran bermakna. Perundungan, dalam konteks ini, dipandang sebagai “Teks Sosial” yang dapat dibaca melalui resistensi yang kerap tidak terucap.

“Pesantren adalah ruang di mana luka sosial ditransendensikan; perundungan dibaca sebagai tanda, resistensi sebagai makna, dan keduanya disublimasikan dalam perjalanan menuju keutuhan batin,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Dana Desa Terbatas, Pemdes Rosong dan Warga Bangun Jalan Secara Swadaya
Saat Bupati Sumenep Jemput Proyek Baru ke KKP, Aktivis Soroti KNMP dan ICS Rp16 Miliar di Longos yang Mangkrak
Kasus Korupsi BSPS Sumenep Berlanjut, Terdakwa Jalani Pemeriksaan di Pengadilan Tipikor Jatim
Sumenep Bidik Lompatan Ekonomi Maritim, Pulau Pagerungan Kecil Diusulkan Jadi Kampung Industri Perikanan
Setelah Jadi Sorotan, Nakhoda Ungkap Lokasi Kapal Patroli, Kepala KSOP Tetap Diam
Menuju Kota Hijau, Sumenep Hadirkan Infrastruktur Pengisian Kendaraan Listrik Modern
Siapkan Akreditasi Berkualitas, Kemenag Sumenep Bekali Guru RA dengan Penguatan Kompetensi
Di Tengah Tantangan Global, Sumenep Berhasil Dongkrak Ekonomi dan Tekan Kemiskinan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:46 WIB

Dana Desa Terbatas, Pemdes Rosong dan Warga Bangun Jalan Secara Swadaya

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:25 WIB

Saat Bupati Sumenep Jemput Proyek Baru ke KKP, Aktivis Soroti KNMP dan ICS Rp16 Miliar di Longos yang Mangkrak

Jumat, 19 Juni 2026 - 08:26 WIB

Kasus Korupsi BSPS Sumenep Berlanjut, Terdakwa Jalani Pemeriksaan di Pengadilan Tipikor Jatim

Kamis, 18 Juni 2026 - 19:38 WIB

Sumenep Bidik Lompatan Ekonomi Maritim, Pulau Pagerungan Kecil Diusulkan Jadi Kampung Industri Perikanan

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:52 WIB

Setelah Jadi Sorotan, Nakhoda Ungkap Lokasi Kapal Patroli, Kepala KSOP Tetap Diam

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:19 WIB

Siapkan Akreditasi Berkualitas, Kemenag Sumenep Bekali Guru RA dengan Penguatan Kompetensi

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:55 WIB

Di Tengah Tantangan Global, Sumenep Berhasil Dongkrak Ekonomi dan Tekan Kemiskinan

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:48 WIB

Gubernur Khofifah Gandeng Produsen Benih Bersertifikat, Petani Tebu Jatim Siap Sambut Era Produktivitas Baru

Berita Terbaru