SUMENEP, nusainsider.com — Festival kebudayaan di Kabupaten Sumenep kembali menjadi perhatian. Di tengah kritik yang menilai festival hanya menjadi hiburan dan menghabiskan anggaran, muncul narasi tandingan yang menyoroti dampak ekonomi serta sosial dari penyelenggaraan kegiatan budaya.
Kritik terhadap festival pada dasarnya merupakan bagian dari ruang publik. Namun, penilaian bahwa kegiatan kebudayaan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat dinilai perlu dilihat secara lebih utuh.
Materi kampanye yang beredar menegaskan bahwa festival tidak semata-mata menghadirkan pertunjukan seni. Di balik panggung, terdapat banyak pihak yang terlibat dan memperoleh manfaat ekonomi.
Salah satunya adalah penyerapan tenaga kerja. Penyelenggaraan festival membutuhkan keterlibatan seniman, kru acara, pekerja panggung, sound system, lighting, dokumentasi, keamanan hingga tenaga kebersihan dan transportasi.
Artinya, aktivitas festival menciptakan mata rantai ekonomi yang cukup panjang.
Perputaran uang tidak berhenti di lokasi pertunjukan, tetapi dapat mengalir kepada berbagai pekerja dan pelaku usaha yang terlibat.
UMKM Ikut Kecipratan
Dampak lainnya terlihat dari keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM.
Ketika sebuah festival mendatangkan masyarakat dalam jumlah besar, kebutuhan terhadap makanan, minuman, produk lokal, jasa transportasi, parkir hingga berbagai kebutuhan pengunjung ikut meningkat.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi pedagang dan pelaku UMKM untuk meningkatkan penjualan.
Selain itu, sektor penginapan dan transportasi juga berpotensi mendapatkan manfaat ketika kegiatan budaya mampu menarik pengunjung dari luar daerah.
Narasi tersebut menggambarkan festival sebagai salah satu instrumen untuk menggerakkan ekonomi lokal melalui meningkatnya aktivitas masyarakat selama kegiatan berlangsung.
Seniman Bukan Sekadar Penghibur
Festival kebudayaan juga menjadi ruang bagi para seniman untuk tampil dan mendapatkan apresiasi.
Seni dan budaya bukan hanya persoalan hiburan. Kesenian merupakan bagian dari identitas daerah sekaligus aset kebudayaan yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Ketika seniman mendapatkan ruang tampil, ekosistem kesenian turut bergerak. Mulai dari pelaku seni, kelompok kesenian, penata panggung, pekerja kreatif hingga berbagai pihak yang mendukung produksi pertunjukan.
Karena itu, keberadaan festival dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk memberdayakan pelaku seni sekaligus menjaga agar kebudayaan lokal tidak kehilangan ruang di tengah perkembangan zaman.
Berpotensi Dorong Pariwisata
Dampak berikutnya berkaitan dengan sektor pariwisata.
Festival yang dikemas dengan kekuatan budaya lokal dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan. Semakin banyak orang mengenal Sumenep, semakin terbuka pula peluang kunjungan ke destinasi wisata, pusat kuliner maupun sentra UMKM.
Dalam jangka panjang, meningkatnya aktivitas wisata diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
Materi tersebut juga mengaitkan peningkatan aktivitas wisata dengan potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meski besarnya dampak tentu perlu diukur berdasarkan data dan indikator yang jelas.
Kritik Tetap Diperlukan Terlepas dari pro dan kontra, kritik terhadap penggunaan anggaran publik tetap penting. Setiap kegiatan pemerintah idealnya memiliki perencanaan, target, indikator keberhasilan dan evaluasi yang transparan.
Dengan demikian, perdebatan mengenai festival tidak berhenti pada pertanyaan apakah kegiatan tersebut menghibur atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan tersebut mampu memberikan manfaat nyata, siapa saja yang mendapatkan dampak ekonomi, berapa besar perputaran ekonomi yang tercipta, serta bagaimana kontribusinya terhadap promosi budaya dan pariwisata daerah.
Festival kebudayaan pada akhirnya dapat dipandang bukan hanya sebagai panggung hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif dan pelestarian budaya.
Pesan utama yang disampaikan dalam materi tersebut pun cukup tegas: festival bukan sekadar hiburan, melainkan investasi budaya untuk ekonomi dan masa depan Sumenep.
Budaya yang hidup diharapkan melahirkan ekonomi yang bergerak, sementara ekonomi yang tumbuh dapat memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Sumenep menyala bukan hanya karena panggung festival, tetapi juga karena budaya, ekonomi, UMKM, pariwisata dan kreativitas masyarakatnya ikut bergerak.
![]()
Penulis : Wafa
















