SURABAYA, nusainsider.com — Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar kegiatan Dialog Keinsinyuran dan buka puasa bersama sebagai forum diskusi strategis untuk memperkuat peran profesi insinyur dalam mendukung pembangunan nasional.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 lalu di Ruang Sidang SA, Gedung Rektorat Lantai 1 Kampus ITS Sukolilo, Surabaya, mulai pukul 15.00 hingga 19.00 WIB.
Acara tersebut menghadirkan berbagai tokoh penting di bidang keinsinyuran, akademisi, serta praktisi dari berbagai sektor.
Dialog keinsinyuran tersebut menghadirkan keynote speaker Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, MT., IPU., ASEAN Eng., yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2024–2027.
Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya peran insinyur dalam mendorong inovasi teknologi serta pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan di Indonesia.
Menurutnya, tantangan pembangunan di masa depan menuntut para insinyur tidak hanya memiliki kompetensi teknis yang kuat, tetapi juga menjunjung tinggi etika profesi dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi global.
“Insinyur memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan solusi teknologi yang inovatif untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan,” ujarnya dalam sesi keynote speech, Jumat 13 Maret 2026 lalu.
Selain keynote speaker, kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman luas di bidang keinsinyuran, di antaranya Ir. Sutopo Kristanto, MT., mantan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITS (PP IKA ITS) periode 2019–2024, Ir. Bastian S. Sihombing, MEng., IPU, yang merupakan pengurus Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kementerian PUPR sekaligus anggota Komite Etik Persatuan Insinyur Indonesia, serta Prof. Bambang Pramujati, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Dalam kesempatan tersebut, Ir. Sutopo Kristanto, MT menegaskan bahwa profesi insinyur memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di Indonesia, mulai dari pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, hingga penguatan inovasi di berbagai sektor.
Ia menilai bahwa kolaborasi antara dunia akademik, industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan inovasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kehadiran forum seperti ini sangat penting untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan agar bisa saling bertukar gagasan dan memperkuat kontribusi insinyur dalam pembangunan nasional,” kata Sutopo Kristanto dalam pemaparannya.
Sementara itu, Bastian S. Sihombing menyoroti pentingnya penguatan kompetensi serta sertifikasi profesi insinyur guna memastikan standar profesionalisme yang tinggi dalam praktik keinsinyuran di Indonesia.
Ia juga menekankan perlunya implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran secara optimal agar profesi insinyur memiliki landasan hukum yang kuat.
Ditambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencetak insinyur yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki integritas serta kemampuan untuk menjawab kebutuhan pembangunan bangsa.
“Kampus harus menjadi pusat lahirnya inovasi teknologi yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan di masyarakat,” ujarnya.
Acara yang dimoderatori oleh Gotot Kustyadji tersebut diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, serta sambutan dari sejumlah tokoh. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi keynote speech, pemaparan materi oleh para narasumber, dialog interaktif dengan peserta, hingga ditutup dengan buka puasa bersama.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., yang menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep turut hadir sebagai bagian dari kalangan profesional yang memiliki latar belakang keinsinyuran.
Arif sapaan akrabnya diketahui memperoleh gelar insinyur pada tahun lalu, tepatnya maret 2024 di Universitas Katolik madya Mandala surabaya.
Menurut Arif Firmanto, dialog keinsinyuran semacam ini menjadi ruang penting untuk memperkuat sinergi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kehadiran para insinyur dari berbagai bidang memberikan perspektif yang luas dalam melihat tantangan pembangunan. Kolaborasi ini sangat penting agar kebijakan pembangunan di daerah dapat lebih inovatif dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari civitas akademika PSPPI ITS, anggota Persatuan Insinyur Indonesia, alumni ITS, praktisi keinsinyuran, serta perwakilan dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya.
Dialog keinsinyuran tersebut digelar sebagai upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha, dan pemerintah dalam mengembangkan profesi keinsinyuran yang profesional dan berdaya saing global, “Imbuhnya.
Lebih lanjut, arif mengaku bahwa Selain menjadi ruang diskusi strategis, momentum dialog keinsinyuran ini juga dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi antara civitas akademika, alumni, organisasi profesi, dan para praktisi, terlebih diselenggarakan dalam suasana bulan suci Ramadan yang penuh kebersamaan.
Melalui forum ini, diharapkan kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah dapat semakin kuat sehingga profesi insinyur mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan, “Harapnya menutup
![]()
Penulis : Wafa
















