Fauzi As ; Aktivis Bajingan

Senin, 6 April 2026 - 20:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Fauzi As

Foto. Fauzi As

OPINI, nusainsider.com Aktivis bajingan adalah manusia berbaju aktivis pembunuh petani tembakau dan industri kecil di Madura. Ya ada satu jenis suara yang belakangan paling bising: aktivis yang berbicara tanpa tanah kelahiran di kakinya, mereka didukung media, menulis tanpa data di tangannya.

Mereka berdiri di podium, dengan nada moral paling tinggi, lalu dengan ringan menyebut Madura sebagai “Lumbung Rokok Ilegal.

Kalimat itu terdengar gagah di ruang seminar. Tapi di desa-desa kami, kalimat itu adalah peluru. Itu bukan kritik itu stempel. Bukan analisis – itu vonis.

Dan seperti biasa, yang ditembak bukan sistem. Yang mati pelan-pelan adalah petani tembakau dan industri rakyat.

Madura bukan pabrik gelap seperti yang mereka bayangkan dalam laporan setengah matang. Madura adalah rumah – tempat orang-orang menanam tembakau dengan harapan sederhana: dapur tetap menyala, anak tetap sekolah, dan hidup tidak runtuh oleh kebijakan yang tak pernah benar-benar berpihak.

Tapi apa yang dilakukan “Aktivis” ini?
Ia datang, menunjuk, melapor lalu pergi.
Seperti pemadam kebakaran yang justru membawa bensin.
Kita tidak menutup mata: rokok ilegal itu ada.

Dan tidak ada orang waras yang membenarkan pelanggaran hukum.
Tapi yang lebih tidak waras adalah membangun narasi seolah-olah rokok ilegal itu lahir dari keserakahan semata – tanpa pernah menguliti sebabnya.

Kenapa praktik itu tumbuh?
Karena negara hadir seperti algojo, bukan pelindung.

Karena regulasi dibuat seperti pagar tinggi, tapi tanpa pintu masuk bagi rakyat kecil.
Karena petani tembakau dipaksa hidup dalam sistem yang mahal untuk dipatuhi, tapi murah untuk dihukum.

Harga ditekan.
Akses dipersulit.
Legalitas dipagari biaya dan birokrasi.
Lalu ketika rakyat mencari celah untuk bertahan hidup, mereka disebut kriminal.
Dan aktivis – yang seharusnya membela – petani justru menjadi pengeras suara tuduhan.

Lebih ironis lagi: media ikut menari.
Tanpa riset lapangan.
Tanpa membaca ekosistem.
Tanpa membedakan antara pelaku besar dan petani kecil yang terseret arus.
Cukup satu narasi: “Madura = ilegal.”
Selesai.

Baca Juga :  Kapolres Sumenep Beri Santunan kepada Anak Yatim Korban KDRT di Batuputih

Judul naik.
Engagement tinggi.
Empati mati.
Ini bukan jurnalisme.
Ini produksi stigma perusak Madura.

Pertanyaannya sederhana – dan menyakitkan: Apakah mereka pernah duduk bersama petani yang gagal panen, yang dulu harga tembakaunya terus dipermainkan oligarki?

Apakah mereka tahu berapa banyak tokoh pesantren yang diam-diam menopang ekonomi tembakau agar tidak jatuh ke tangan kartel besar?

Baca Juga :  Disbudporapar Sumenep Sukses Gelar Festival Ketupat 2026, Angkat Budaya dan Kearifan Lokal

Apakah mereka pernah membaca upaya serius para Kiai untuk menghasilkan naskah akademik Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau Madura – yang justru ingin menarik industri ini keluar dari bayang-bayang ilegalitas?

Atau mereka hanya hafal nama, angka, dan jargon – tanpa pernah menyentuh manusia di belakang rumahnya?

Aktivis sejati adalah jembatan.
Bukan algojo sosial. Ia menghubungkan rakyat dengan kebijakan, bukan menjual rakyat sebagai bahan bakar popularitas.
Ia menggugat sistem, bukan menumbalkan tetangga dan komunitasnya sendiri.

Kalau memang ada dugaan keterlibatan aparat atau permainan dalam struktur, dorong sampai akar.
Bongkar kebijakan yang menindas.
Paksa negara hadir sebagai solusi.
Itu kerja aktivis.

Bukan sekadar menyebut nama, membuat gaduh, lalu meninggalkan luka yang harus ditanggung oleh saudara sendiri.

Mari kita jujur:
Menyerang pengusaha kecil dan petani dengan label “Ilegal” itu bukan keberanian.
Itu kemalasan intelektual yang dibungkus moralitas.

Masalah rokok ilegal bukan sekadar soal hukum. Ini soal ekosistem yang timpang.
Selama negara lebih suka menindak daripada membina, selama legalitas hanya ramah bagi pemain besar,
selama petani dibiarkan sendirian menghadapi pasar – maka praktik di wilayah abu-abu itu akan terus hidup.

Baca Juga :  Cukai Tembakau Jadi Mesin Uang Negara, Daerah Penghasil Masih Jadi Korban

Dan setiap kali aktivis atau media datang tanpa empati, tanpa data, tanpa solusi – mereka tidak sedang memperbaiki keadaan.

Mereka sedang mempercepat kematian.
Bukan kematian industri.Tapi kematian harapan petani di rumahnya sendiri.
Madura tidak butuh penghakiman.
Madura butuh keadilan.

Kami tidak menolak hukum.
Kami menolak hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas, lalu dipropagandakan sebagai kebenaran tunggal.

Jadi sebelum kau menyebut tanah kelahiranmu sebagai “Lumbung Ilegal,”
cobalah bertanya:
Siapa yang menciptakan kondisi ini?
Siapa yang diuntungkan?
Dan siapa yang terus-menerus dijadikan korban?
Karena yang paling berbahaya hari ini bukan rokok ilegal – melainkan aktivisme yang kehilangan nurani, dan media tanpa data yang kehilangan akal sehatnya.

Penulis : Fauzi As

Loading

Penulis : Wafa

Berita Terkait

Buntut Flyer Konferensi Pers, Disbudporapar dan FKPPI Sumenep Klarifikasi Polemik Penilaian Festival Musik Tong-Tong
JSI Sumenep Apresiasi Hadirnya Mujahid Lingkungan dalam berbagai Gelaran Event
Klaim PAN sebagai “Partai Anak Nahdliyin” Disorot, GP Ansor Singgung Nasib Pendamping Desa
OPINI : Angin Ribut yang Seolah Tak Berani Ribut
Malik Effendi Dukung Gagasan Bupati Sumenep: Kabupaten Kepulauan Sudah Saya Gagas Sejak di DPRD
Blunder! Disbudporapar dan FKPPI Didesak Klarifikasi kejanggalan pelaksanaan KEN 2026 di Sumenep
Sengit dan Meriah! Ini Daftar Juara Festival Musik Tong-Tong se-Madura 2026
Di Balik Gemuruh Festival Tongtong, Petugas DLH Sumenep Berjibaku Bersihkan Sampah hingga Pagi

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 19:43 WIB

Buntut Flyer Konferensi Pers, Disbudporapar dan FKPPI Sumenep Klarifikasi Polemik Penilaian Festival Musik Tong-Tong

Senin, 7 September 2026 - 06:27 WIB

JSI Sumenep Apresiasi Hadirnya Mujahid Lingkungan dalam berbagai Gelaran Event

Senin, 7 September 2026 - 05:33 WIB

Klaim PAN sebagai “Partai Anak Nahdliyin” Disorot, GP Ansor Singgung Nasib Pendamping Desa

Minggu, 6 September 2026 - 14:13 WIB

OPINI : Angin Ribut yang Seolah Tak Berani Ribut

Minggu, 6 September 2026 - 13:43 WIB

Malik Effendi Dukung Gagasan Bupati Sumenep: Kabupaten Kepulauan Sudah Saya Gagas Sejak di DPRD

Minggu, 6 September 2026 - 07:59 WIB

Sengit dan Meriah! Ini Daftar Juara Festival Musik Tong-Tong se-Madura 2026

Minggu, 6 September 2026 - 06:16 WIB

Di Balik Gemuruh Festival Tongtong, Petugas DLH Sumenep Berjibaku Bersihkan Sampah hingga Pagi

Sabtu, 5 September 2026 - 22:50 WIB

Gemuruh Tongtong Kembali Kuasai Sumenep, 27 Grup Se-Madura Tampil Spektakuler

Berita Terbaru

Foto. Grup Musik tong-tong Angin Ribut Tadi Malam, Sabtu 5 September 2026

Lifestyle

OPINI : Angin Ribut yang Seolah Tak Berani Ribut

Minggu, 6 Sep 2026 - 14:13 WIB