SUMENEP, nusainsider.com — Jurnalis Sumenep Independen (JSI) kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan jurnalisme beradab melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan dengan mengawal pembangunan musala yang sempat ambruk di Dusun Cekkor, Desa Gunung Kembar, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep.
Pembangunan musala kini memasuki tahap akhir dan tinggal pemasangan keramik. Material tersebut merupakan hasil donasi dari seorang Hamba Allah yang mempercayakan bantuannya kepada JSI untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Musala tersebut dibangun kembali melalui gerakan penggalangan dana yang dipelopori JSI, dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari masyarakat, pemerintah, pihak swasta, hingga para dermawan. Terbaru, JSI menerima bantuan sebanyak 100 dus keramik yang menjadi bagian penting dalam penyelesaian bangunan ibadah tersebut.
Hingga akhir November 2025, progres pembangunan musala telah mencapai sekitar 50 persen. Saat ini, pengerjaan difokuskan pada penyelesaian struktur utama dan pemasangan rangka atap bagian tengah.
JSI menargetkan pembangunan dapat segera dirampungkan agar musala kembali difungsikan oleh warga sekitar.
Ketua JSI, Igusty Madani, mengatakan bahwa keterlibatan JSI dalam pembangunan musala merupakan implementasi nyata dari prinsip Ihdinas Sirotol Mustaqim, yakni berjalan di jalan lurus dalam profesi jurnalistik dengan menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Jurnalisme tidak berhenti pada pemberitaan semata. Jurnalisme harus menghadirkan kebermanfaatan. Bantuan dari para donatur ini adalah amanah yang harus diwujudkan menjadi amal jariyah yang nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan dari berbagai pihak menjadi energi moral bagi seluruh anggota JSI untuk terus bergerak dalam kegiatan sosial yang berkelanjutan.
Menurutnya, musala bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol kepedulian, kebersamaan, dan nilai spiritual yang harus dijaga bersama.
Pengurus JSI, Ibnu Hajar, yang turut meninjau langsung proses pembangunan, menilai keberadaan musala sangat vital bagi kehidupan keagamaan masyarakat Dusun Cekkor. Oleh karena itu, pembangunan kembali musala ambruk tersebut memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi.
“Musala ini sangat dibutuhkan warga. Dukungan dari para donatur membuktikan bahwa kepedulian sosial masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat,” katanya.
Selain mengawal pembangunan musala, JSI juga dikenal konsisten menjalankan berbagai program sosial lainnya. Di antaranya kegiatan bersih-bersih lingkungan, program Saku Berkah untuk warga dhuafa setiap pekan, santunan anak yatim, hingga inisiatif pengadaan Ambulans Umat.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam Rapat Kerja (Raker) JSI yang digelar di Kota Batu, Jawa Timur. Dalam forum itu, JSI meneguhkan prinsip jurnalisme beradab, profesional, dan mencerdaskan publik sebagai fondasi organisasi.
Prinsip Ihdinas Sirotol Mustaqim diposisikan sebagai pedoman etik agar jurnalis hadir sebagai penyejuk sosial dan pelopor kebaikan.
Melalui pembangunan musala di Manding dan berbagai aksi sosial lainnya, JSI menegaskan bahwa jurnalis bukan sekadar pengamat peristiwa, melainkan bagian dari solusi sosial dan kemanusiaan.
Bagi JSI, jurnalisme adalah jalan pengabdian yang menuntut kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk berbuat nyata demi kemaslahatan masyarakat.
![]()
Penulis : Wafa
















