Konfercab Ini Milik Kita, Bukan Milik Mereka yang Selalu Sama

Sabtu, 19 April 2025 - 15:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Dauri Aziz

Foto. Dauri Aziz

OPINI, nusainsider.com Tanggal 3 Mei 2025 akan menjadi momentum penting bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Sumenep. Konferensi Cabang (Konfercab) bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ajang konsolidasi, regenerasi, dan pembaruan ideologis.

Namun, di balik spanduk besar dan kesibukan persiapan, ada keresahan yang pelan-pelan membubung. Banyak kader mempertanyakan: apakah Konfercab masih milik kita semua, atau hanya dikuasai oleh segelintir elite yang tak mau melepas kendali?

PMII lahir dari kegelisahan zaman, dari kerinduan akan gerakan Islam yang adil, setara, dan berpihak pada kaum tertindas. Semangat awal itu kini mulai pudar, tergilas oleh arus pragmatisme yang menyelinap tanpa malu.

Di Sumenep, situasi ini bukan sekadar kekhawatiran. Dalam beberapa tahun terakhir, problem serius mengemuka: kaderisasi yang stagnan, komunikasi yang buruk, dan pengambilan keputusan yang sarat kepentingan kelompok, bukan kebijaksanaan kolektif.

Tak sedikit kader di komisariat merasa terpinggirkan. Mereka hanya diingat saat Muscab atau Konfercab, lalu dilupakan begitu saja. Keluhan ini mencerminkan rusaknya relasi antara pengurus cabang dan akar organisasi.

PMII adalah organisasi kader, bukan korporasi dengan struktur beku. Jika suara komisariat tak lagi didengar, maka organisasi ini sedang mengalami kematian perlahan—sunyi namun pasti.

Sahabat Khairul Umam, Ketua Cabang PMII Sumenep 2015–2016, pernah berkata:

PMII bukan tempat menanamkan loyalitas semu pada individu. Ia adalah ruang mendewasakan nalar dan membumikan nilai.” Kutipan itu layak direnungkan bersama.

Organisasi ini bukanlah alat tukar, apalagi warisan turun-temurun. Ia adalah ruang perjuangan. Maka, ketika kekuasaan diwariskan tanpa proses kritis, semangat kaderisasi justru terkebiri di depan mata kita sendiri.

Baca Juga :  PMII dan Metamodernisme: Menari di Atas Paradoks Zaman

Mengapa kita cemas menyambut Konfercab tahun ini? Karena kita pernah kecewa. Kita pernah berharap, tetapi yang datang hanyalah pengulangan. Kita pernah membangun gagasan, tapi akhirnya dikalahkan oleh lobi-lobi kamar.

Kita ingin perubahan, tetapi yang hadir hanya nama baru tanpa ruh baru. Kita ingin gagasan, tapi yang ditawarkan cuma janji dan basa-basi. Kita ingin harapan, tetapi yang datang hanyalah kompromi dan repetisi.

Padahal, tantangan yang dihadapi PMII Sumenep masih nyata. Kemiskinan masih mengikat, pendidikan belum merata, infrastruktur masih tertinggal, dan partisipasi publik masih rendah. Apakah PMII hadir dalam menyikapi semua itu?

Pertanyaan itu harus dijawab dengan jujur. Apakah PMII hari ini masih menjadi mitra kritis pemerintah? Ataukah telah kehilangan tajinya karena tenggelam dalam konflik internal dan kompromi dengan kekuasaan?

Kita tak kekurangan kader. Di tingkat rayon dan komisariat, semangat masih ada. Namun, semangat itu sering kali padam karena tak diberi ruang untuk menyala. Mereka butuh panggung, bukan sekadar tempat duduk.

Baca Juga :  Kapolres dan Bupati Sumenep Bertemu, Bahas Penguatan Kolaborasi

Kader di bawah ingin dilibatkan, bukan hanya disuruh datang saat pemilihan. Mereka ingin bicara tentang masa depan organisasi, bukan cuma menyimak debat kosong elite yang berkutat pada kekuasaan.

Konfercab 2025 harus menjadi titik balik. Kita butuh proses yang bersih, adil, dan terbuka. Tak boleh ada calon yang hanya mengandalkan backing senior atau kekuatan uang semata. Gagasan harus menjadi poros utama.

Forum ini harus jadi ujian integritas, bukan kontes taktik kotor. Kita harus menolak jual beli suara, menolak politik nasi kotak, dan menolak janji-janji palsu yang hanya muncul saat pemilihan lalu menghilang.

KH Sahal Mahfudz dalam “Nuansa Fiqh Sosial” menekankan pentingnya gerakan sosial berbasis nilai. Ini harus menjadi cermin bagi kita: apakah PMII masih bergerak di tengah realitas masyarakat, atau sibuk dalam drama internal?

Sahabat M. Abdullah Syukri, Ketua Umum PB PMII 2021–2024, pernah berkata: “Konfercab bukan hanya agenda rutin, tetapi peristiwa ideologis.” Di situlah arah gerakan ditentukan dan kepercayaan kader dibangun kembali.

Pernyataan itu mestinya menyadarkan kita: Konfercab bukan formalitas. Ia adalah tonggak ideologis dan platform strategis. Gagal memaknainya berarti gagal menjaga ruh gerakan yang diwariskan para pendiri.

Bagi panitia pelaksana, netralitas adalah keharusan. Jangan ada intervensi. Jangan ada permainan di balik layar. Jangan biarkan kepentingan pribadi merusak kepercayaan kolektif yang dibangun bertahun-tahun.

Baca Juga :  Kepala Bappeda Sumenep Sampaikan Ucapan Idul Fitri, Ajak Warga Perkuat Silaturahmi

Untuk semua komisariat, jangan diam. Beranilah bersuara. Gunakan Konfercab sebagai forum untuk menagih arah, memperjelas tujuan, dan menyuarakan keresahan. Diam adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan organisasi.

PMII Sumenep memiliki banyak kader cerdas dan potensial. Yang kurang adalah keberanian membuka ruang dan menumbuhkan kepercayaan. Maka, sekaranglah saatnya membuka ruang itu dan menyambut keberanian sebagai kekuatan bersama.

Saatnya kita menebas loyalitas sempit, membongkar sekat-sekat palsu, dan membangun kembali marwah organisasi dengan semangat kolektif. Jika bukan kita yang menjaga PMII, siapa lagi?

Konfercab 2025 adalah cermin. Ia akan memantulkan wajah sejati organisasi kita. Apakah masih setia pada cita-cita awal, atau telah menjelma menjadi bayangan suram dari masa lalu yang heroik?

Mari kita jaga cermin itu tetap jernih. Agar yang tercermin adalah wajah kejujuran, keberanian, dan harapan. Bukan wajah kepalsuan, bukan pula topeng-topeng yang menyembunyikan kepentingan pribadi.

PMII bukan milik mereka yang selalu sama. PMII adalah milik semua kader yang berani bermimpi, bersuara, dan bergerak. Maka, jangan biarkan Konfercab ini dirampas oleh mereka yang hanya ingin mempertahankan kursi.

*) Penulis : Dauri Aziz, Wakil Ketua (Waka) II pengurus komisariat (PK) PMII STIT Aqidah Usymuni kabupaten Sumenep. 

Loading

Berita Terkait

“Dalih Birokrasi, Derita Kepulauan: Potret Buram Pengelolaan Anggaran Ratusan Miliar”
Baru 4 Hari Klarifikasi, SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Kembali Disorot: Makanan MBG Diduga Berulat Lagi
Tak Lagi Parsial, Lia Istifhama Dorong Pengelolaan Dana Umat Lebih Transparan Lewat PDUF
Baru Buka, SkY Coffee Grounds Diserbu Pengunjung, Nongkrong Naik Level!
Detikzone Tebar Kepedulian, Santuni Pekerja Informal Lewat Program Jumat Berkah
Gerakan Hijau DPRD Sumenep, Anggota PDIP Pilih Sepeda ke Kantor
KI Sumenep Bangun Budaya Transparansi Lewat Kolaborasi Akademik
Tiga Komoditas Unggulan Digenjot, HDDAP Bawa Harapan Baru Petani Sumenep

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 12:50 WIB

“Dalih Birokrasi, Derita Kepulauan: Potret Buram Pengelolaan Anggaran Ratusan Miliar”

Sabtu, 18 April 2026 - 08:32 WIB

Baru 4 Hari Klarifikasi, SPPG Yayasan Sosial Rumah Sejahtera Kembali Disorot: Makanan MBG Diduga Berulat Lagi

Sabtu, 18 April 2026 - 03:15 WIB

Tak Lagi Parsial, Lia Istifhama Dorong Pengelolaan Dana Umat Lebih Transparan Lewat PDUF

Jumat, 17 April 2026 - 18:17 WIB

Detikzone Tebar Kepedulian, Santuni Pekerja Informal Lewat Program Jumat Berkah

Jumat, 17 April 2026 - 15:51 WIB

Gerakan Hijau DPRD Sumenep, Anggota PDIP Pilih Sepeda ke Kantor

Jumat, 17 April 2026 - 09:03 WIB

KI Sumenep Bangun Budaya Transparansi Lewat Kolaborasi Akademik

Kamis, 16 April 2026 - 15:32 WIB

Tiga Komoditas Unggulan Digenjot, HDDAP Bawa Harapan Baru Petani Sumenep

Kamis, 16 April 2026 - 08:34 WIB

Kasus Kokain 27,83 Kg di Sumenep Picu Kecurigaan Publik, JSI Ingatkan Kasus Teddy Minahasa 

Berita Terbaru

Foto. Pintu Masuk dan Keluar Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur

Berita

Kasus Cukai DJBC Melebar, PR Lokal Sumenep Masuk Radar KPK

Sabtu, 18 Apr 2026 - 07:45 WIB