PMII dan Metamodernisme: Menari di Atas Paradoks Zaman

Jumat, 18 April 2025 - 14:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. Maksudi, MM

Foto. Maksudi, MM

OPINI, nusainsider.com Memasuki usia ke-65 pada 17 April 2025, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tiba di persimpangan sejarah dan realitas baru. Lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU), PMII telah melintasi berbagai rezim politik dan kini menghadapi tantangan zaman metamodernisme yang kompleks dan paradoksal.

Sebagai organisasi ekstra kampus, PMII telah berperan penting dalam merawat nilai keislaman dan keindonesiaan. Namun, di era digital yang serba cepat ini, kaderisasi tak bisa lagi bertumpu pada metode konvensional.

Generasi muda hari ini adalah generasi kreator digital, yang menuntut pendekatan baru, kreatif, dan reflektif.

Sejarah dan Evolusi Paradigma PMII

PMII didirikan pada 17 April 1960 di Surabaya sebagai respon atas dinamika Demokrasi Terpimpin. Mahbub Djunaidi dan kawan-kawan memosisikan organisasi ini sebagai wadah perjuangan intelektual dan ideologis mahasiswa NU, berpijak pada nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan kebangsaan.

Dalam perjalanannya, PMII mengalami perubahan paradigma gerakan. Tahun 1997, di bawah Muhaimin Iskandar, muncul Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran. Fokusnya adalah kritik terhadap hegemoni negara dan kapitalisme, serta keberpihakan kepada kelompok terpinggirkan. PMII hadir sebagai kekuatan advokasi sosial.

Era 1999-2000 di bawah Syaiful Bahri Anshori memperkenalkan Paradigma Kritis Transformatif (PKT). PMII mengadopsi pemikiran kritis dari Mazhab Frankfurt dan intelektual muslim progresif seperti Hasan Hanafi, Ali Asghar Engineer, serta Muhammad Arkoun. Pendekatannya menekankan dekonstruksi terhadap sistem penindas.

Kemudian pada 2006–2008, Herry Harianto Azumi mengusung paradigma “Menggiring Arus Berbasis Realitas.” PMII tak hanya menjadi pengkritik, tetapi juga mitra strategis dalam pembangunan sosial. Nilai-nilai Aswaja tetap menjadi fondasi: tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) dijaga dalam setiap langkah.

Baca Juga :  Debat Terbuka Relawan! Sahabat Muda AF Terpaksa Ungkap Data Negara Dihadapan Generasi Sumenep Hijau

Metamodernisme: Zaman Baru, Wajah Baru

Istilah metamodernisme pertama kali digunakan Mas’ud Zavarzadeh pada 1975. Kini, ia menjelma sebagai semangat zaman—bergerak lincah antara idealisme modern dan sinisme postmodern.

Fabio Vittorini menyebutnya sebagai “tarian antara fanatisme dan pragmatisme.” Di sinilah, PMII perlu menari.

Di era digital ini, ekspresi manusia berubah. Fanfiction, remix, meme, vlog, hingga TikTok menjadi arena penciptaan makna. Kreativitas menjadi bahasa perlawanan dan refleksi diri. Metamodernisme bukan apatisme, tapi justru keterlibatan aktif dengan dunia, walau sadar akan keterbatasannya.

Menurut Greg Dember, metamodernisme melahirkan konsep seperti normcore (kesederhanaan anti-hierarki), ironi tulus (jujur lewat sarkasme), dan pastiche konstruktif (kolaborasi lintas genre). Misalnya, musik country dan hip-hop bisa bersatu dalam satu lagu, tanpa harus saling menertawakan.

Iklan Bryan Wilson yang absurd namun bermakna, atau meme yang menyindir elitisme politik, adalah bentuk ekspresi metamodern: tidak selalu serius, tapi punya pesan. Dalam konteks ini, kaderisasi PMII harus belajar memanfaatkan seni ambiguitas—merangkul kebingungan sambil menciptakan makna baru.

Kaderisasi PMII di Era Metamodern

Zaman metamodern bukan ancaman, melainkan peluang untuk memperbarui proses kaderisasi. Generasi kreator tak suka dikuliahi panjang; mereka mencari ruang berekspresi, bereksperimen, dan berjejaring. PMII bisa mengambil pendekatan baru: mengajarkan Aswaja lewat podcast, menyampaikan kritik sosial lewat meme.

Baca Juga :  BKPSDM Bersama Universitas Veteran Gelar Sosialisasi Kegiatan RPL Program S2

Moderasi beragama, misalnya, bisa disebarkan lewat konten TikTok yang ringan dan menghibur. Webinar keadilan iklim bisa dikemas dalam bentuk vlog investigasi. Kaderisasi bukan hanya ruang doktrinasi, tapi ekosistem kreativitas. Ini tantangan besar, sekaligus medan baru perjuangan.

Namun, tantangannya tidak kecil. Di tengah banjir informasi, bagaimana menjaga nilai Aswaja agar tidak tereduksi menjadi slogan kosong? Di tengah budaya “klik-scroll-repeat”, bagaimana menjaga daya pikir kritis agar tak hilang ditelan algoritma?

Tantangan dan Peluang Nyata

Survei BNPT tahun 2019 menunjukkan bahwa 80% Gen Z di Indonesia rentan terpapar ekstremisme karena rendahnya literasi kritis. Globalisasi juga menimbulkan krisis identitas; batas antara lokal dan global makin kabur. Di sinilah PMII perlu hadir sebagai penyeimbang antara akar budaya dan arus global.

Masalah internal organisasi juga tak bisa diabaikan. PMII, seperti organisasi mahasiswa lainnya, sering terjebak dalam kompetisi jabatan. Padahal, masyarakat luar menghadapi krisis ekologi, kemiskinan, dan keterasingan digital. Gerakan mahasiswa seharusnya tidak hanya sibuk pada internal, tetapi hadir sebagai solusi konkret.

Di balik tantangan, terbuka ruang besar untuk inovasi. Pertama, kaderisasi bisa disinergikan dengan pelatihan teknologi: analisis big data, pemetaan sosial, atau penggunaan AI untuk kampanye literasi. Ini akan memperluas wawasan kader dan memperkuat posisi PMII sebagai organisasi yang adaptif.

Baca Juga :  Komitmen Kembangkan Potensi Diri, Arif Firmanto Resmi Sandang Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude

Kedua, kreativitas digital harus dirangkul. Meme tentang ketimpangan sosial, vlog yang mengeksplorasi keresahan anak muda, atau video pendek yang mempopulerkan nilai-nilai Aswaja, semua bisa menjadi alat dakwah baru. Ini bukan sekadar tren, melainkan medan baru dakwah dan advokasi.

Ketiga, paradigma metamodern membuka ruang untuk kolaborasi tanpa kehilangan sikap kritis. PMII bisa tetap mengkritik kebijakan pemerintah, namun juga siap membangun ekonomi mikro berbasis teknologi seperti blockchain, serta mengadvokasi hak-hak masyarakat lewat platform digital.

Menari Bersama Zaman

Pada usia ke-65, PMII mesti menjadi organisasi yang gesit dan lentur. Ia harus mampu menjadi “pendulum metamodern”—bergerak antara tradisi dan inovasi, antara spiritualitas dan rasionalitas, antara kritik dan kolaborasi. Kaderisasi bukan mencetak pemimpin idealis atau sinis, tapi pribadi yang siap menari dalam paradoks.

Generasi PMII ke depan harus mampu bersikap religius namun terbuka, kritis namun solutif, tradisional namun melek teknologi. Mereka bukan hanya pewaris sejarah, tetapi pencipta masa depan. Mereka harus menjadi penggerak perubahan yang mampu membaca zaman tanpa kehilangan arah.

Seperti kata Greg Dember, metamodernisme adalah seni “Menciptakan Makna Di Sini, Sekarang, Bersama.” Inilah tantangan sekaligus peluang PMII: tetap relevan, tetap berakar, dan tetap bergerak, dalam dunia yang terus berubah.

Selamat Harlah ke-65, PMII. Ilmu dan bakti kuberikan, adil dan makmur kuperjuangkan.

*) Penulis : Maksudi. M,M. Pengurus PKC PMII Jawa Timur

Loading

Berita Terkait

Koteka Masuk Disertasi, IBS PKMKK Tunjukkan Keberanian Intelektual
Duka di Balik Urusan Dana BOSP, Dua Ibu Diduga Jadi Korban Sistem Administrasi Rumit
“Polisi Belajar Baik”: Perjalanan Aipda Purnomo dari Kemiskinan Menuju Misi Kemanusiaan
LDK Unija Sukses Gelar Forum Kebangsaan, Soroti Pentingnya Moderasi Beragama
Dari Sumenep ke Puncak Prestasi: Syahra Taklukkan 300 Peserta di Pamekasan
Khofifah Terapkan Aturan Baru: Gadget Siswa Dibatasi demi Fokus Belajar
Aksi Mahasiswa sebagai Cermin: Saatnya Kampus Berbenah
SPPG Ganding Diterpa Isu Kualitas Makanan, Siswa Dilaporkan Muntah

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 14:33 WIB

Koteka Masuk Disertasi, IBS PKMKK Tunjukkan Keberanian Intelektual

Senin, 27 April 2026 - 06:36 WIB

Duka di Balik Urusan Dana BOSP, Dua Ibu Diduga Jadi Korban Sistem Administrasi Rumit

Minggu, 26 April 2026 - 18:26 WIB

“Polisi Belajar Baik”: Perjalanan Aipda Purnomo dari Kemiskinan Menuju Misi Kemanusiaan

Sabtu, 25 April 2026 - 10:41 WIB

LDK Unija Sukses Gelar Forum Kebangsaan, Soroti Pentingnya Moderasi Beragama

Minggu, 19 April 2026 - 17:26 WIB

Dari Sumenep ke Puncak Prestasi: Syahra Taklukkan 300 Peserta di Pamekasan

Rabu, 15 April 2026 - 02:52 WIB

Khofifah Terapkan Aturan Baru: Gadget Siswa Dibatasi demi Fokus Belajar

Sabtu, 11 April 2026 - 04:23 WIB

Aksi Mahasiswa sebagai Cermin: Saatnya Kampus Berbenah

Selasa, 7 April 2026 - 14:13 WIB

SPPG Ganding Diterpa Isu Kualitas Makanan, Siswa Dilaporkan Muntah

Berita Terbaru

Foto. Fauzi As Pengamat Kebijakan Publik kota Keris

Ekonomi

Episode I Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:33 WIB