SUMENEP, nusainsider.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Trunojoyo mengimbau masyarakat Kabupaten Sumenep untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi fenomena El Nino yang diperkirakan dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyimpang dari kondisi normal.
Kondisi tersebut dapat mengganggu pola sirkulasi angin global sehingga memicu musim kemarau yang lebih panjang, peningkatan suhu udara, serta penurunan curah hujan secara signifikan.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah kondisi sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep yang masih berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep mengidentifikasi sejumlah kawasan yang sempat berada pada kategori kering kritis dan kini mulai berangsur membaik menjadi kering langka setelah dilakukan pengeboran air di beberapa titik.
Berdasarkan data BPBD, terdapat 76 desa yang tersebar di 19 kecamatan di Kabupaten Sumenep masuk kategori rawan kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
Wilayah tersebut meliputi kawasan daratan maupun kepulauan, seperti Kecamatan Manding, Pasongsongan, Rubaru, Pragaan, Ganding, Guluk-Guluk, Ambunten, Batang-Batang, Batuputih, Saronggi, Arjasa, Kangayan, Gayam, Raas, Giligenting, Talango, Masalembu, Nonggunong, hingga Sapeken.
Sekretaris BPBD Kabupaten Sumenep, Abd. Kadir, mengatakan desa-desa dengan status kering kritis akan menjadi prioritas dalam penyaluran bantuan air bersih.
“Desa-desa berstatus kering kritis akan diutamakan dalam penyaluran bantuan air bersih. Berkaca dari pola tahun-tahun sebelumnya, kesulitan air di wilayah tersebut biasanya mulai terasa sekitar satu bulan setelah musim kemarau berlangsung,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Trunojoyo, Ari Widjajanto, meminta masyarakat agar mulai melakukan langkah-langkah antisipatif guna menghadapi potensi dampak El Nino, khususnya terkait ketersediaan air bersih.
“Saat ini Madura termasuk kategori waspada. Kami harapkan masyarakat berhati-hati dan mengantisipasi dengan memanfaatkan sumber air yang ada,” kata Ari, Minggu (5/7/2026).
Ia menekankan pentingnya penggunaan air secara efisien dan tidak berlebihan sebagai bentuk mitigasi menghadapi ancaman kekeringan yang dapat terjadi apabila fenomena El Nino berkembang.
Selain ancaman kekurangan air, BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap meningkatnya potensi kebakaran saat musim kemarau berlangsung, terutama jika El Nino terjadi dengan intensitas yang cukup kuat.
“Mohon arif dan bijaksana untuk menjaga kondisi air sesuai kebutuhan dan menjaga dari potensi kebakaran,” tandasnya.
Dengan peringatan dini tersebut, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan, mengelola penggunaan air secara hemat, serta menjaga lingkungan sekitar guna meminimalkan risiko bencana kekeringan dan kebakaran selama musim kemarau berlangsung.
![]()
Penulis : Wafa
















