SUMENEP, nusainsider.com — Malam kemenangan Idulfitri 1447 H / 2026 M menjadi momen yang penuh makna bagi grup musik tong-tong legendaris, Mega Remmeng.
Momentum malam takbiran tersebut dimanfaatkan untuk menggelar takbir keliling yang berlangsung meriah di Desa Jangkong, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa (Pemdes) Jangkong bersama Komunitas Pemuda Bangkong Bersatu.
Puluhan pemuda dan masyarakat setempat turut ambil bagian dalam perayaan tersebut dengan membawa obor, menciptakan suasana religius sekaligus semarak sebagai simbol kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Rute takbir keliling dimulai dari Rumah Makan Tok-Patok hingga berakhir di perempatan Pasar Legung Timur dengan jarak kurang lebih satu kilometer.
Sepanjang jalan tersebut dipadati ribuan penonton yang telah menanti penampilan Mega Remmeng, grup musik tong-tong yang telah lama dikenal sebagai ikon kebanggaan masyarakat Sumenep.
Sorak sorai penonton semakin pecah ketika Mega Remmeng mulai memainkan sejumlah aransemen andalannya seperti “Kasur Pasir”, “Totale”, “Set-Seset Maloko”, hingga “Kembang Mawar”.
Irama khas yang dipadukan dengan atraksi panggung dan dekorasi megah membuat suasana malam takbiran terasa semakin hidup dan berkesan.
Salah satu penonton, Atrawi, warga Kecamatan Batuputih, mengaku sangat terhibur dengan penampilan grup musik tersebut. Ia menyebut Mega Remmeng sebagai legenda yang tidak hanya menjadi favorit, tetapi juga kebanggaan masyarakat Sumenep.
“Mega Remmeng itu sudah seperti ikon. Setiap tampil selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Bahkan beberapa bulan lalu saat festival musik tong-tong di Sumenep, antusias masyarakat sangat luar biasa,” ujarnya.
Atrawi menambahkan, pada malam takbiran kali ini, ribuan masyarakat dari berbagai daerah, tidak hanya dari Batang-Batang, turut hadir untuk menyaksikan langsung penampilan tersebut.
Menurutnya, hal ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik Mega Remmeng di tengah masyarakat.
Ia juga menilai bahwa ciri khas dekorasi Mega Remmeng yang didominasi warna hitam-putih dengan latar depan berbentuk kuda menjadi daya tarik tersendiri yang mudah dikenali. Selain itu, aransemen musik yang khas dinilai mampu menghadirkan suasana meriah sekaligus estetis.
“Ciri khasnya itu yang membuat orang langsung tahu kalau itu Mega Remmeng. Dekorasinya megah, musiknya juga enak didengar, jadi wajar kalau selalu dinantikan,” tambahnya.
Atrawi berharap tradisi seperti ini terus dilestarikan karena tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mempererat kebersamaan masyarakat dalam merayakan hari besar keagamaan.
Sementara itu, Kepala Desa Jangkong, Arif Kinandar Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan takbir keliling tersebut memang rutin diselenggarakan setiap tahun, khususnya pada malam terakhir Ramadan dan malam takbiran.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Ini sudah menjadi tradisi tahunan. Kami ingin menjaga kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat, sekaligus merayakan kemenangan dengan cara yang positif dan penuh makna,” jelasnya.
Arif juga menegaskan bahwa pihak desa akan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bersifat budaya dan keagamaan, termasuk pelestarian musik tong-tong sebagai warisan lokal yang menjadi identitas masyarakat Sumenep.
Dengan kemeriahan yang tercipta, malam takbiran di Desa Jangkong tahun ini tidak hanya menjadi perayaan biasa, tetapi juga menjadi simbol kuat kebersamaan, budaya, dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan seni daerahnya.
![]()
Penulis : Wafa
















