SUMENEP, nusainsider.com — Malam ketiga Madura Culture Festival (MCF) #3 semakin meriah dengan penampilan Kabupaten Probolinggo yang membawakan kesenian khas mereka, Jaran Bodhag.
Tarian tradisional ini berhasil memikat penonton dengan kekompakan dan keindahan gerakannya, hingga mendapat sorakan meriah dari ribuan pengunjung.

Kesenian Jaran Bodhag sendiri memiliki sejarah panjang. Menurut catatan budaya, seni ini mulai dikenal masyarakat Probolinggo sejak awal masa kemerdekaan. Salah satu tokoh asal Probolinggo menjelaskan kepada nusainsider.com, bahwa Jaran Bodhag merupakan turunan (hybrid) dari kesenian Jaran Kecak.
Bedanya, jika Jaran Kecak menggunakan kuda asli, Jaran Bodhag justru memakai tiruan kuda berbahan rotan dan kayu.
Biasanya, Jaran Bodhag ditampilkan pada momentum penting masyarakat, seperti khitanan, santunan, hingga berbagai perayaan tradisional sebagai bentuk hiburan.
“Kesenian ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Masyarakat biasanya menghadirkannya dalam hajatan untuk memeriahkan suasana,” ungkap salah seorang warga Probolinggo yang hadir dalam acara tersebut.
Pada penampilan di MCF #3, para seniman Probolinggo menghadirkan Jaran Bodhag dengan nuansa khas. Mereka tampil dalam arak-arakan meriah yang diiringi musik kenong telo’ dan sronen, instrumen tradisional yang kental dengan nuansa Jawa Timur dan Madura.
Dari pantauan media ini, pertunjukan Jaran Bodhag dibawakan oleh dua orang pembawa kuda tiruan, serta dua orang Janis atau penari pengiring yang menambah semarak tarian.
Kostum para penampil tampak gemerlap, unik, dan penuh warna, seakan menunjukkan kreativitas estetik pemiliknya untuk memikat perhatian penonton.
Kehadiran Jaran Bodhag di MCF #3 bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi ruang pelestarian seni budaya lokal.
Melalui ajang ini, kesenian tradisional yang hampir jarang tampil di ruang publik kembali menemukan panggung untuk diperkenalkan kepada generasi muda serta masyarakat luas.
![]()
Penulis : Wafa

















