SUMENEP, nusainsider.com — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep terus memperkuat langkah strategis untuk menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di wilayahnya.
Berdasarkan data Dinkes P2KB, hingga September 2025 tercatat delapan kasus kematian ibu dan 33 kasus kematian bayi. Angka ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena mencerminkan masih adanya tantangan dalam layanan kesehatan ibu dan anak.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fahdasah, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas layanan kesehatan melalui dua pendekatan utama, yaitu penguatan sumber daya manusia (SDM) dan perbaikan sarana prasarana (sarpras).
Menurut Ellya, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan menjadi fokus utama. Sebab, mereka berada di garda terdepan dalam menangani kegawatdaruratan ibu dan bayi di lapangan.
“Kami terus membekali petugas dengan berbagai pelatihan seperti asuhan persalinan normal, PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar), serta pelatihan peningkatan kompetensi lainnya bagi bidan dan dokter,” ujarnya, Sabtu (18/10/2025).
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis tenaga kesehatan, tetapi juga memperkuat kesiapan mereka dalam menghadapi kondisi darurat yang berisiko tinggi bagi ibu maupun bayi baru lahir.
“Dengan tenaga kesehatan yang terlatih, penanganan komplikasi persalinan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat, sehingga risiko kematian dapat ditekan,” tambahnya.
Selain peningkatan SDM, penguatan fasilitas kesehatan juga menjadi prioritas utama Dinkes P2KB. Setiap puskesmas diupayakan memiliki sarana pertolongan persalinan yang lengkap dan sesuai standar agar pelayanan lebih optimal.
“Dari sisi sarana-prasarana, kami terus melengkapi peralatan di puskesmas agar sesuai dengan standar pertolongan persalinan. Dengan begitu, tenaga kesehatan dapat bekerja lebih efektif dan aman,” tegas Ellya.
Ia mencontohkan, sejumlah puskesmas di wilayah kepulauan dan daerah terpencil kini mulai mendapatkan prioritas pengadaan alat kesehatan penunjang, seperti inkubator bayi, tempat tidur bersalin, dan alat deteksi dini komplikasi.
“Daerah kepulauan menjadi perhatian khusus kami karena akses layanan kesehatan di sana relatif terbatas. Maka dari itu, fasilitas dan tenaga medis harus benar-benar siap,” ujarnya.
Selain penguatan di sektor layanan, Dinkes P2KB juga gencar menjalankan program berbasis masyarakat. Program ini melibatkan kader kesehatan dan kelompok ibu untuk meningkatkan kesadaran serta pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak.
Beberapa di antaranya adalah kelas ibu hamil, kelas ibu balita, dan pendampingan bagi ibu hamil dengan risiko tinggi. Melalui kegiatan ini, diharapkan komplikasi dapat dicegah lebih dini sebelum menimbulkan kondisi fatal.
“Kader dan petugas lapangan berperan penting dalam mendeteksi dini risiko kehamilan. Mereka mendampingi ibu hamil mulai dari masa awal kehamilan hingga persalinan,” kata Ellya.
Selain itu, Dinkes juga membagikan tablet Fe atau zat besi kepada ibu hamil untuk mencegah anemia yang menjadi salah satu faktor penyebab kematian ibu.
“Kami berikan tablet Fe secara rutin bagi ibu hamil untuk menjaga kadar hemoglobin mereka tetap normal. Dengan begitu, risiko perdarahan saat persalinan dapat diminimalkan,” jelasnya.
Upaya lain yang dijalankan adalah memperkuat sistem rujukan antar fasilitas kesehatan. Dinkes P2KB memastikan setiap puskesmas memiliki mekanisme rujukan yang cepat ke rumah sakit apabila ditemukan kasus kegawatdaruratan.
“Kami perkuat jejaring antar fasilitas. Saat ada ibu atau bayi dengan kondisi gawat, puskesmas harus segera melakukan rujukan ke rumah sakit yang memiliki layanan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif),” tutur Ellya.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan organisasi profesi, perangkat desa, serta lembaga keagamaan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan dan persalinan di fasilitas kesehatan.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan dukungan semua pihak agar pesan tentang pentingnya layanan kesehatan ibu dan anak sampai ke masyarakat luas,” imbuhnya.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Dinkes P2KB optimistis angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Sumenep dapat terus ditekan dalam beberapa tahun ke depan.
“Harapan kami, ke depan kasus kematian ibu dan bayi bisa ditekan seminimal mungkin. Kami akan terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan, baik dari sisi SDM maupun sarana yang mendukung keselamatan ibu dan anak,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Wafa
















