SUMENEP, nusainsider.com — Pondok Pesantren (Ponpes) Aqidah Usymuni, Tarate, Sumenep menggelar peringatan Akhir Sanah sekaligus Hari Lahir (Harlah) ke-41 di halaman pesantren setempat, Senin malam (16/2/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum rasa syukur atas perjalanan panjang pesantren dalam mencetak generasi santri yang berilmu, berakhlak, serta berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Salah satu rangkaian acara yang paling menyentuh adalah prosesi wisuda Tahfidzul Qur’an Juz 30 tingkat MTs dan MA. Prosesi berlangsung khidmat dan penuh haru, diikuti para santri bersama wali santri yang turut menyaksikan keberhasilan putra-putri mereka.
Penghargaan bagi wisudawan terbaik diserahkan langsung oleh Dewan Pengasuh, KH Zainul Alim, sebagai bentuk apresiasi atas prestasi dan dedikasi para santri dalam menghafal Al-Qur’an.
Ketua Panitia Akhir Sanah, Nurullah, mengajak para santri dan alumni untuk terus menjaga ikatan dengan pesantren.
“Pondok pesantren ini adalah rumah yang selalu terbuka. Ketika pondok memanggil, kami berharap para santri dan alumni bisa kembali,” ujarnya.
Sementara itu, Dewan Pengasuh Ponpes Aqidah Usymuni, KH Lukmanul Hakim, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung perjalanan pesantren.
“Kami berterima kasih kepada santri, wali santri, alumni, dan semua pihak yang telah membersamai perjalanan Aqidah Usymuni. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan ini dengan pahala berlipat,” tuturnya.
Kiai Lukman menegaskan bahwa santri Aqidah Usymuni telah siap mengambil peran di tengah masyarakat. Ia juga berpesan khusus kepada 16 wisudawan Tahfidzul Qur’an agar tidak berhenti pada capaian hafalan Juz 30.
“Hafalan Al-Qur’an adalah amanah. Jangan berhenti di Juz 30, tetapi lanjutkan ke jenjang berikutnya serta amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Memasuki usia ke-41 tahun, Kiai Lukman juga mengingatkan kembali pesan almarhum KH A. Safradji tentang jati diri pesantren.
“Pesantren ini lahir dari masyarakat, berkhidmat untuk masyarakat, dan pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan semakin lengkap dengan tausiyah yang disampaikan Kiai M. Fawaidurrahman dari Pamekasan. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya keikhlasan dalam menuntut ilmu, menjaga hafalan Al-Qur’an, serta menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian kepada umat.
![]()
Penulis : Wafa
















