Ketika Bisikan Elite Bertemu ; Ada Sesuatu Apa di balik Rumah?

Rabu, 9 April 2025 - 14:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI, nusainsider.com — Kunjungan kerja Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nanang Avianto ke Sumenep beberapa waktu lalu mengejutkan publik. Bukan hanya karena waktunya yang bertepatan dengan penyelidikan kasus dugaan penyelewengan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) oleh sejumlah kepala desa, tetapi juga karena cara kunjungan ini dikemas: penuh protokoler, namun miskin substansi.

Yang membuat publik semakin bertanya-tanya, Kapolda Jatim disambut langsung oleh MH Said Abdullah, Ketua Banggar DPR RI – seorang elite politik nasional.

Sambutan ini bukan hanya tidak lazim, tapi juga menimbulkan kesan bahwa kunjungan tersebut bukan murni urusan kerja, melainkan sarat kepentingan dan sandiwara politik.

Publik berhak bertanya: Mengapa Kapolda datang di tengah isu hukum yang sedang panas? Apa urgensi kehadiran Ketua Banggar DPR RI dalam kegiatan tersebut? Dan, apakah semua ini tidak mengganggu jalannya proses hukum yang seharusnya dijaga independensinya?

Baca Juga :  PMII Sumenep Desak Moratorium Rantis: Stop Kekerasan, Hormati Demokrasi

Perlu dicatat, kasus BSPS bukan persoalan kecil. Program ini ditujukan untuk masyarakat miskin, namun diduga diselewengkan oleh aparat desa, bahkan mungkin oleh pihak-pihak di level lebih tinggi.

Di tengah kondisi ini, mestinya kehadiran pejabat tinggi justru memperkuat proses penegakan hukum. Namun yang terjadi, justru sebaliknya acara seremonial tanpa pernyataan tegas atau dukungan nyata terhadap kejaksaan yang sedang bekerja.

Ketika substansi diabaikan, simbol menjadi sorotan. Kunjungan tersebut terlihat sebagai panggung kekuasaan, bukan bagian dari upaya menghadirkan keadilan.

Simbol-simbol kekuasaan tampil mencolok, tapi tidak ada satu pun sinyal bahwa agenda ini berpihak pada rakyat atau proses hukum yang sedang berjalan.

Spekulasi pun tak bisa dihindari: Apakah ini bentuk intervensi halus? Apakah kehadiran elite politik nasional ingin menunjukkan bahwa kasus ini “sedang diurus” oleh kekuatan tertentu? Rakyat tidak menuduh, tapi mereka berhak curiga.

Terlebih, Sumenep bukan wilayah steril dari kepentingan politik menjelang tahun politik. Setiap langkah elite bisa mengarah pada strategi positioning, pengamanan jaringan, hingga negosiasi kekuasaan.

Maka, wajar bila masyarakat mencium aroma “politik sandiwara” yang dibungkus dalam kemasan kunjungan kerja.

Dalam konteks reformasi birokrasi dan supremasi hukum, kunjungan semacam ini berpotensi mencederai kepercayaan publik. Saat rakyat menunggu kejelasan dan ketegasan hukum, yang mereka saksikan justru parade kekuasaan tanpa makna.

Baca Juga :  Polemik Bertubi-tubi di DPRD Sumenep: Dari Pemerasan hingga Dugaan Jual Beli Pokir Fiktif

Gestur-gestur elite semakin jauh dari aspirasi rakyat kecil yang menjadi korban utama penyelewengan.

Sebagai bagian dari masyarakat sipil, kita tidak boleh diam. Kita perlu terus mengawasi dan mengkritisi tindakan publik yang mencurigakan.

Kunjungan kerja harus membawa dampak, bukan sekadar basa-basi tanpa arah. Bila tidak, maka publik berhak menyebutnya sebagai manuver kepentingan, bukan pengabdian.

Kehadiran pejabat negara, apalagi dalam situasi rawan seperti ini, semestinya menjadi penegas komitmen terhadap hukum dan keadilan. Bukan sebaliknya, menjadi alat untuk mengamankan posisi atau melanggengkan kuasa.

Baca Juga :  Sidang Pencemaran Nama Baik Luhut Binsar Pandjaitan Kembali Digelar Di PN JakTim

Opini ini bukan serangan pribadi, melainkan seruan agar keadilan tetap menjadi panglima. Ketika simbol kekuasaan hadir, tapi substansi keadilan absen, maka suara rakyat harus menggema lebih keras: hukum tidak boleh tunduk pada kuasa.

Sumenep tak butuh panggung sandiwara elite. Yang dibutuhkan adalah kejelasan proses hukum, keberanian membela korban, dan ketegasan terhadap pelaku penyelewengan.

Dan kepada Kapolda Jatim serta seluruh aparat, masyarakat menunggu bukan hanya kehadiran fisik, tapi kehadiran nyata dalam memperjuangkan keadilan.

Kalau tidak, rakyat akan terus bertanya: Ada apa dengan kunjungan itu? Kenapa sekarang? Dan untuk siapa sebenarnya ia datang?

Penulis : Syaiful Bahri, Aktivis Aliansi Pemuda Reformasi Melawan (ALARM) Sekaligus Mantan Pengurus Cabang PMII Sumenep. 

Loading

Penulis : Syaif

Berita Terkait

Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP
Forum Konfercab PMII Surabaya Memanas, Dugaan Pemukulan Kader Unair Mencuat
Dugaan Kamar Gratis untuk Konstituen Bikin Geger, LBH Desak Kesetaraan Pelayanan
Dari Sengketa Tanah Jemur Wonosari, Ning Lia Dorong Penguatan Perlindungan Hukum Warga
Hampir Lima Tahun Diburu, Terduga Pelaku Pembunuhan Akhirnya Masuk Jerat Polisi
Sumenep dalam Gemerlap Dunia Hiburan yang Tidak Sehat, Perlahan akan Terbongkar!
Berbekal Rekaman CCTV, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Kekerasan Seksual di Sumenep
Lia Istifhama Dorong RUU Pertanahan Jadi Benteng Warga Hadapi Sengketa dan Mafia Tanah

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:27 WIB

Dokumen Pendidikan Gibran Disorot MK, Surokim Dorong Pemeriksaan Etik KPU di DKPP

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:52 WIB

Forum Konfercab PMII Surabaya Memanas, Dugaan Pemukulan Kader Unair Mencuat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 08:32 WIB

Dugaan Kamar Gratis untuk Konstituen Bikin Geger, LBH Desak Kesetaraan Pelayanan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 06:59 WIB

Dari Sengketa Tanah Jemur Wonosari, Ning Lia Dorong Penguatan Perlindungan Hukum Warga

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Hampir Lima Tahun Diburu, Terduga Pelaku Pembunuhan Akhirnya Masuk Jerat Polisi

Senin, 21 September 2026 - 14:47 WIB

Sumenep dalam Gemerlap Dunia Hiburan yang Tidak Sehat, Perlahan akan Terbongkar!

Jumat, 18 September 2026 - 08:44 WIB

Berbekal Rekaman CCTV, Polisi Ringkus Terduga Pelaku Kekerasan Seksual di Sumenep

Selasa, 15 September 2026 - 10:22 WIB

Lia Istifhama Dorong RUU Pertanahan Jadi Benteng Warga Hadapi Sengketa dan Mafia Tanah

Berita Terbaru