OPINI, nusainsider.com — Perbincangan mengenai mahasiswa masa kini selalu menarik untuk dibahas. Meskipun kritik terhadap mereka terkadang terdengar tajam, hal itu tidak terlepas dari harapan besar yang melekat pada insan terdidik. Kritik ini penting untuk mengingatkan akan esensi sejati dari pendidikan.
Pendidikan bukan hanya tentang angka dan gelar, melainkan perjalanan panjang pembentukan karakter dan kemampuan berpikir kritis. Namun, banyak mahasiswa masa kini mulai melupakan esensi tersebut, terjebak dalam kenyamanan teknologi dan hasil instan.

Hilangnya Kemampuan Berpikir Kritis
Teknologi seharusnya menjadi jembatan menuju kemudahan belajar. Sayangnya, banyak mahasiswa justru terperangkap dalam pola pikir instan. Informasi memang melimpah, tetapi kemampuan untuk mencerna dan mengkritisinya kian menipis.
Mahasiswa lebih tertarik pada jawaban cepat dari mesin pencari atau kecerdasan buatan, tanpa menggali lebih dalam. Pendidikan yang sejatinya mendorong pemikiran independen malah berubah menjadi perlombaan nilai dan hasil semata.
John Dewey pernah berkata, “Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.” Dalam Islam pun, QS. Taha ayat 114 menekankan pentingnya ilmu dengan doa: “Ya Tuhan, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Namun, jika ilmu hanya dikejar untuk ujian dan nilai, maka kedalaman berpikir tak akan pernah tercapai.
Ketergantungan pada Teknologi
Mahasiswa masa kini hidup berdampingan dengan teknologi. Ironisnya, mereka seringkali menjadi sangat tergantung. Alih-alih menggunakan teknologi sebagai alat bantu, mereka justru dikendalikan oleh kenyamanan yang ditawarkan.
Ketika semua informasi tersedia dalam hitungan detik, keinginan untuk membaca dan memahami secara mendalam mulai pudar. Kemampuan menyaring informasi dan berpikir kritis perlahan menghilang.
Albert Einstein pernah menyatakan, “Teknologi yang kita ciptakan seharusnya memberi kita kebebasan untuk berpikir, bukan menjadi penghalang bagi pemikiran itu sendiri.” Ini menjadi pengingat penting bahwa kemajuan teknologi seharusnya mendorong kualitas pemikiran, bukan mematikan rasa ingin tahu.
Dalam QS. Fatir ayat 28 disebutkan bahwa “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama.” Artinya, keilmuan sejati adalah hasil dari pemahaman mendalam, bukan sekadar hafalan atau akses cepat pada informasi.
Mentalitas Instan dan Obsesi Hasil
Mahasiswa zaman sekarang lebih terpikat oleh hasil akhir. Nilai tinggi dan kelulusan cepat menjadi tujuan utama. Tak sedikit dari mereka yang mengejar predikat cumlaude tanpa benar-benar memahami materi perkuliahan.
Budaya instan membentuk generasi yang kurang menghargai proses. Mereka menghindari kesulitan, padahal justru di sanalah pembelajaran terbesar terjadi. Kesuksesan tidak pernah datang dari jalan pintas.
Colin Powell mengatakan, “Keberhasilan bukanlah hasil dari keberuntungan, tetapi dari kerja keras yang konsisten.” Dalam hadis Nabi Muhammad SAW juga dijelaskan bahwa setiap amal bergantung pada niat, dan hasil ditentukan oleh kesungguhan usaha.
Jika niat belajar hanya sebatas formalitas akademik, maka ilmu yang diperoleh tidak akan membentuk karakter dan kebijaksanaan.
Minimnya Pengembangan Diri di Luar Kelas
Mahasiswa seharusnya aktif tidak hanya dalam ruang kelas, tetapi juga dalam berbagai kegiatan di luar. Namun kenyataannya, banyak dari mereka lebih memilih menghindari organisasi, magang, maupun kegiatan sosial yang memperkaya pengalaman.
Ijazah dan IPK memang penting, namun dunia kerja membutuhkan lebih dari itu. Dunia profesional menuntut kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja tim yang tidak bisa diajarkan hanya di ruang kelas.
Albert Einstein menyebutkan, “Pendidikan tidak hanya mengajarkan kita cara untuk hidup, tetapi juga cara untuk memberi dampak pada kehidupan orang lain.” Ini menunjukkan bahwa kebermanfaatan sosial adalah bagian penting dari pendidikan.
Hadis Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa “Barang siapa menginginkan dunia, maka hendaknya ia bekerja dengan akhlak yang baik…” Ini menegaskan bahwa pengembangan diri juga merupakan amal shaleh yang tak kalah penting dari ibadah formal.
Tidak Siap Menghadapi Dunia Nyata
Jika mahasiswa terus terjebak dalam budaya instan, maka mereka akan terkejut ketika terjun ke dunia kerja. Dunia nyata jauh lebih kompleks dan menuntut kemampuan adaptasi tinggi, bukan sekadar kepandaian akademis.
Saat mahasiswa hanya berbekal teori tanpa praktik, mereka akan kesulitan menghadapi tantangan di luar kampus. Di sinilah kegagalan pendidikan terasa, jika tidak mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi realitas.
Nelson Mandela menyebut, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Maka jika senjata ini tumpul, bagaimana generasi bisa menjadi agen perubahan?
Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah bahwa dunia itu terlaknat dan terlaknat pula isinya kecuali orang yang berzikir, taat kepada Allah, orang berilmu, dan orang yang belajar.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menekankan pentingnya ilmu sebagai bekal menghadapi kehidupan yang penuh ujian.
Penutup: Kembali ke Esensi Pendidikan
Kritik terhadap mahasiswa masa kini bukanlah bentuk pesimisme, tetapi cermin agar kita semua mawas diri. Mahasiswa harus menyadari bahwa proses lebih penting dari hasil. Pendidikan sejati bukanlah pencapaian akademik, melainkan proses pembentukan diri yang utuh.
Seperti kata Colin Powell, “Keberhasilan adalah hasil dari persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan.” Mahasiswa yang menghargai proses akan menjadi pribadi yang tangguh dan siap menghadapi masa depan.
Ijazah hanyalah kertas, sementara keterampilan, karakter, dan kearifan adalah bekal sejati dalam kehidupan. Saatnya mahasiswa keluar dari zona nyaman dan kembali menggenggam semangat belajar yang tulus, berpikir kritis, dan mengembangkan diri secara menyeluruh.
Penulis : Miftahul Arifin, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni sekaligus Aktivis PMII Sumenep.
![]()
Penulis : Mif

















